Masuk Daftar
My Getplus

Tuntutlah Kiprah sampai ke Negeri Cina

Lika-liku perjalanan hidup pelatih bulutangkis putri jempolan. Kena imbas peristiwa G30S sampai Revolusi Kebudayaan di Tiongkok. Sukses di lapangan dan melahirkan banyak bintang.

Oleh: Randy Wirayudha | 07 Okt 2019
Liang Tjiu Sia, pelatih legendaris yang terpaksa berkiprah di Negeri Tirai Bambu sebelum melahirkan para srikandi bulutangkis Indonesia. (Fernando Randy/Historia).

MATANYA masih awas. Gerakan para anak didiknya yang tak sesuai instruksinya akan langsung tertangkap olehnya. Kalau sudah begitu, dia buru-buru ke tengah lapangan untuk mengoreksi dan menyampaikan ulang instruksi.

Begitulah kesibukan Liang Tjiu Sia saat menerima Historia di lapangan Pola Bugar Sport Club, Kedoya, 25 September 2019. Di masa senjanya, Liang Tjiu Sia kini sekadar melatih privat.

Kendati matanya masih awas, kondisi kesehatannya menurun terutama sejak menjalani operasi kanker payudara pada 2015. Usia juga mempengaruhi daya ingatnya. Terlebih jika mengingat hal yang berkaitan dengan angka. Soal kapan dia mendapatkan kewarganegaraan, misalnya. “Aduh, kapan ya. Sudah lama banget soalnya. Nanti saya cek dokumen di rumah,” katanya kepada Historia.

Advertising
Advertising

Tak berapa lama usai pertemuan itu, ia mengirim dokumen Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI)-nya, bertahun 1989. Butuh empat tahun baginya untuk memperjuangkan dokumen status kewarganegaraan itu. Ia memulainya sejak pulang ke Tanah Air pada 1985.

Terpaksa Hengkang ke Cina

Lahir di Cirebon, 9 September 1950, Cik Sia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, Liang Tjiok Lin, merupakan pedagang kecil. Ibunya, Tjwa Pek Nio, ibu rumah tangga yang sekali-sekali membantu suami berdagang.

Kakak pebulutangkis legendaris ganda putra Tjun Tjun (Liang Tjun Sen) itu berkenalan dengan bulutangkis lantaran profesi ayahnya di luar berdagang. “Papa saya jadi pengurus sebuah perkumpulan. Jadi ada gedung gede yang biasa dipakai untuk olahraga oleh perkumpulan itu. Ada tenis meja, ada bulutangkis, kadang juga dipakai untuk pernikahan. Saya sering lihat orang-orang gede main. Dari situ saya ikut-ikutan main,” kenang Tjiu Sia.

Baca juga: Pelatih Bertangan Besi Pembesut Susy Susanti

Kendati Sia (kadang dituliskan Liang Qiuxia/Liang Chiu Hsia) tak ingat apa nama perkumpulan itu, dari situ ia belajar bulutangkis secara mandiri. Tiada yang melatih. Lawan tanding pun lazimnya yang lebih tua darinya. Raket kayu yang pada 1950-an masih jadi barang mahal, hanya punya satu untuk dipakai ramai-ramai oleh saudara-saudaranya, termasuk Tjun Tjun.

“Sampai 1963 baru sering terjun di kejuaraan-kejuaraan lokal. Saya enggak ikut klub, ikut sendiri. Enggak ada klub-kluban saat itu. Sampai jadi juaranya Cirebon dan Jawa Barat saat itu lah. Saat ada tim dari Cina main ke Indonesia, di Jakarta sama Bandung, untuk pertandingan persahabatan. Kan waktu itu hubungan (RI) dengan Cina kan masih bagus ya. Saya ikut diundang main di Bandung mewakili Jawa Barat,” tambahnya.

Liang Tjiu Sia memberi arahan pada anak didiknya. (Fernando Randy/Historia).

Usianya saat itu baru menginjak 13 tahun. Namun skill-nya di atas rata-rata orang seusia. Hal itu membuat ofisial tim Cina, menurut Sia, kesemsem padanya saat meladeni para pemain Cina. Cara mainnya dianggap beda dari pemain putri Indonesia lainnya. Sontak, ia ditawarkan untuk berlatih di Cina.

Tawaran itu menggoda hatinya kendati di sisi lain dia juga gusar karena bakal jauh dari keluarga bila menerimanya. Tawaran itupun ia diskusikan dengan kedua orangtuanya.

“Orangtua sih sedih ya. Mikirin pergi ke sana, enggak tahu kapan bisa baliknya (ke Indonesia). Memang dari dulu orangtua kasih bebas ya. Enggak diatur harus pilih (jalan hidup) apa. Hanya diajarin mandiri sama orangtua,” ujar Sia.

Tiga tahun setelah datangnya tawaran itu, Sia memutuskan ke Cina. Ada faktor keterpaksaan. Sekolah Tionghoa yang ia ikuti ditutup menyusul maraknya sentimen rasial pasca-Peristiwa 1965. Etnis Tionghoa disudutkan secara politis.

Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia mencatat, Tjiu Sia hengkang ke Cina pada 1966 untuk meneruskan sekolah khusus olahraga hingga lulus pada 1972 sampai masuk pelatnas tim Cina. Namun dari ingatan Tjiu Sia, usahanya tak sesingkat itu.

Turun ke Sawah dan Terjebak Revolusi Kebudayaan

Setelah mendapat paspor Cina dan digratiskan semua fasilitas (sandang, pangan dan papan), dimulailah masa “jungkir balik” Sia. Didikan keras mewarnai hari-harinya sejak dari sekolah olahraga di Hunan hingga masuk seleksi pelatnas Cina di Beijing. “Di sana latihannya benar-benar serius dan berat. Tapi ya saya ke sana untuk banggakan orangtua,” ujarnya.

Semasa di Hunan, ia sebagaimana para siswa lain tak hanya digembleng bulutangkis tapi juga diwajibkan keluar dari sekolah untuk turun ke sawah guna membantu sektor pertanian. Utamanya saat musim tanam dan musim panen. “Benar-benar jadi petani di pedesaan. Tidurnya di kandang kebo (kerbau, red.). Di Cina itu semua mesti turun ke bawah bantu petani. Ya menanam, ngarit, giling padi. Mikul padi,” lanjutnya.

Baca juga: Siapa Liang Tjiu Sia?

Beratnya hari-hari yang harus dilalui Sia bertambah ketika Revolusi Kebudayaan  digerakkan Deng Xiaoping pada 1966-1976. “Di Cina kan itu ada Revolusi Kebudayaan. Di mana-mana sudah tembak-tembakan. Saya juga pernah dikasih senjata panjang (senapan), dilatih menembak, melempar granat yang masih ada sumbunya; tinggal ditarik terus dilempar. Agak kacau sih, tapi latihan tetap jalan terus,” kata Sia mengenang. Beruntung hingga revolusi selesai, Sia tak sempat terlibat baku tembak.

Setelah masuk ke pelatnas di Beijing, Sia menerima porsi latihan yang lebih intens. Namun itu belum cukup untuk memenuhi ambisinya jadi andalan tim putri Cina. Ia pun sering menambah latihan sendiri.

“Saya selalu cari latihan yang tersusah, tercapek. Maunya latihan semua kekuatan dihabisin. Mau gimana lagi? Di sana saingannya banyak. Kalau latihan fisik lari, saya enggak mau sampai dikejar teman. Saya harus selalu lebih cepat. Kalau lagi jenuh, kadang ya ikut main basket atau tenis meja dengan teman-teman lain,” tambahnya.

Sempat bolak-balik melatih pelatnas PBSI, kini Liang Tjiu Sia menghabiskan masa senja mengajar privat. (Fernando Randy/Historia).

Selain untuk menunjang performa, latihan lebih yang dilakukannya di sisi lain juga memberinya kesempatan bisa lebih sering berlaga di luar Cina sehingga lebih terbuka kesempatan untuk melepas rindu dengan sang adik, Tjun Tjun, yang jadi andalan ganda putra Indonesia. Bukan rahasia bila Sia memendam kerinduan besar pada keluarganya di Cirebon.

“Kalau kangen setengah mati. Kalau saya bisa lari tiga hari tiga malam enggak makan untuk pulang, mau deh saya pulang. Bersurat jarang. Hubungan Cina dengan Indonesia lagi susah. Tapi saya punya tekad untuk jadi nomor satu di sana. Kalau enggak begitu, saya enggak bisa keluar (Cina) dan ketemu keluarga,” kata Tjiu Sia.

Baca juga: Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian I)

Pada 1974, latihan keras Sia berbuah dengan dijadikannya dia sebagai andalan di nomor tunggal maupun ganda putri tim Cina. Medali emas ganda putri Asian Games 1974, Kejuaraan Asia 1976, dan Asian Games 1978 merupakan sedikit bukti dari prestasinya.

Di kejuaraan-kejuaraan itu pula Sia sering dibujuk Tjun Tjun untuk pulang ke tanah air. “Kalau pas saya wakilin Cina dan adik saya wakilin Indonesia, sering ketemu. Ya di Teheran (Iran, Asian Games 1974) di Bangkok (Thailand, Asian Games 1978). Kalau ketemu, (saya) titip surat atau titip barang,” kata Sia.

Setelah dipersunting seorang Zhang Dayong, pebalet Hong Kong, Sia keluar dari pelatnas Cina dan pindah ke Hong Kong pada 1979. “Dulu dia teman dari teman saya. Sering dia nonton pertandingan bulutangkis. Lalu ada teman saya yang kenalin. Akhirnya kita menikah tahun 1979 itu juga,” kenang Tjiu Sia.

Sia menghabiskan waktunya di Hong Kong dengan melatih privat dan tim bulutangkis Hong Kong. Rutinitas itu berjalan sampai tahun 1985 ketika Sia ditemui Menpora Abdul Gafur.

“Tahun 1985 ada permintaan dari Pak Gafur. Awalnya dia nanya adik saya (Tjun Tjun) soal apakah saya mau jadi pelatih di Indonesia. Lalu adik saya tanya langsung ke saya. Ya sudah, saya mau, terus Pak Gafur ke Hong Kong nemuin saya. Lalu surat-surat diberesin di Kedutaan (Indonesia) di Hong Kong. Saya masuk (Indonesia) dengan paspor waiting list. Masuk Indonesia kan enggak gampang. Menterinya minta sama Pak Harto, sama Bakin, baru dapat surat izin,” kata pelatih putri PBSI yang akhirnya melahirkan srikandi-srikandi bulutangkis macam Susy Susanti itu.

TAG

bulutangkis cina asian-games hongkong

ARTIKEL TERKAIT

Bruce Lee dalam 10 Fakta (Bagian I) Badminton is Coming Home! Menguber Uber Cup Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi Elizabeth Latief dan Semangat Kartini Indonesia dan Kejayaan All England Klenteng Hok Lay Kiong, Buah Pemberontakan Buruh Tionghoa Terhadap VOC Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona Kawin-Cerai di Ganda Campuran Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber