Masuk Daftar
My Getplus

Lambang Supremasi Bulutangkis Putri

Lahir dari buah pikiran Betty Uber, Uber Cup jadi pasangan abadi Thomas Cup sebagai kejuaraan yang paling sarat gengsi.

Oleh: Randy Wirayudha | 02 Jun 2018
Tim Indonesia terakhir kali merebut Uber Cup pada 1996/Foto: pbdjarum.org

GENAP 22 tahun Indonesia puasa gelar Uber Cup. Empat tahun berturut-turut para srikandi raket tanah air selalu kandas di perempat final. Terakhir, pil pahit mesti ditelan Greysia Polii cs. di Bangkok, Thailand, 21-26 Mei 2018, lantaran keok 2-3 dari tuan rumah di delapan besar.

“Di atas kertas, Thailand masih di atas kita baik dari seeded dan ranking. Saat sempat unggul di atas angin, justru terbeban. Tertekan, main enggak lepas dan tegang. Faktor tuan rumah juga membuat lawan lebih percaya diri. Ini memang sudah sesuai target dan prediksi, paling tidak kita lolos delapan besar,” kataSusi Susanti, manajer tim, disitir situs resmi PBSI, 24 Mei 2018.

Pencapaian itu jelas menunjukkan kemunduran prestasi bulutangkis putri Indonesia. Delapan besar dianggap sudah memenuhi target. Tak heran bila perkembangan bulutangkis putri Indonesia tertinggal dari Thailand yang masih se-lichting JKT 48.

Advertising
Advertising

Di masa bulutangkis putri Indonesia jaya, delapan besar masuk kategori kegagalan akut. Indonesia paling buruk menjadi runner-up. Terakhir, Indonesia meraih Uber Cup tahun 1996 di Hong Kong usai menaklukkan China 4-1.

Susi sendiri jadi salahsatu bagian dan bahkan pilar penting dari kejayaan Indonesia di era 1990-an. Prestasi itu melanjutkan estafet prestasi bulutangkis putri Indonesia di Uber Cup, turnamen bulutangkis beregu putri paling prestisius, tahun 1975 dan 1994.

Jasa Betty Uber

Sebagaimana Thomas Cup lahir dari keinginan Sir Thomas, Uber Cup lahir dari mimpi pebulutangkis Inggris yang mengoleksi 13 gelar All England, Elizabeth “Betty” Uber. “Berbekal pamor internasionalnya, Betty Uber mengajukan pembentukan turnamen beregu khusus putri pada awal tahun 1950 dengan dukungan (tokoh bulutangkis) Nancy Fleming dari Selandia Baru,” tulis Jean-Yves Guillain dalam Badminton: An Illustrated History.

Upaya Betty tak mulus. Saat proposalnya dibawa ke International Badminton Federation (IBF), dewan federasi itu tak memberi lampu hijau kendati tertarik atas proyek Betty. IBF beralasan tidak ada dana untuk menggelar turnamen serupa Thomas Cup untuk putri.

IBF baru membahas lagi usulan Uber itu pada 1953. Dua tahun berselang, turnamen bernama Women’s Team World Cup itu disetujui IBF dan ditetapkan sebagai turnamen tiga tahunan. Turnamen perdana digelar 1956-1957 dengan format mirip Thomas Cup –sistem kualifikasi Inter-zone– dan putaran finalnya dihelat di Lanchashire, Inggris, 18 Maret 1957.

Menurut IBF Handbook 1958-1959, dari 11 negara peserta, tiga negara lolos ke putaran final: Amerika Serikat (AS), India, dan Denmark. Tim terakhir ini diuntungkan dengan undian bye sehingga langsung ke final. Sementara, setelah menghajar India 7-0, AS digdaya di partai puncak dengan mengubur Denmark 6-1.

Trofi Dambaan

Sebagai pemenang perdana, AS mendapat kehormatan membawa pulang trofi Uber Cup. Trofi itu merupakan donasi dari Betty Uber kepada IBF, 1955. Dalam biografi Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia Menuju Olimpiade disebutkan, trofi yang jadi lambang supremasi bulutangkis putri dunia itu dibuat oleh perusahaan perhiasan asal London, Mappin & Webb. Desain trofi berbahan perak setinggi 20 inci itu berupa globe tiga dimensi dengan topping shuttlecock dan figur pebulutangkis putri di puncak.

Awalnya, trofi itu bernama The Ladies International Badminton Championship Challenge Trophy. Beberapa waktu kemudian, untuk mengabadikan nama Betty Uber, nama trofi itu diganti menjadi Uber Cup. Sejak 1984, penyelenggaraan Uber Cup selalu bersamaan dengan Thomas Cup.

Indonesia baru ikut meramaikan Uber Cup pada 1963 di Wilmington, AS. Tapi baru pada 1975 saat menjadi tuan rumah Indonesia berhasil merebut piala itu. Di final, 6 Juni 1975, para srikandi Indonesia menang 5-2 lewat atas tim putri Jepang. “Pasangan Indonesia Minarni dan Regina membuat surprise di mana Piala Uber secara resmi berada di pihak Indonesia dengan perincian set pertama 15-8 dan set kedua 15-11 atas pasangan Jepang (Mika) Ikeda/(Hiroe) Yuki,” tulis Media Indonesia, 7 Juni 1975.

Tapi, prestasi Indonesia di Uber Cup tak sebesar di Thomas Cup. Uber Cup hingga kini masih didominasi China setelah merebut dominasi AS dan Jepang.

Baca juga: 

Nona Manis Jagoan Bulutangkis
Sudirman Bukan Sembarang Piala
Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis
Public Enemy Bernama Scheele

TAG

Bulutangkis UberCup

ARTIKEL TERKAIT

Torehan Medali Olimpiade dari Sabetan Raket Sebelum Ferry Juara Dunia Bulutangkis Kala Liem Swie King Bicara Mental Tak Mau Kalah Cerita Liem Swie King Terobos Banjir Badminton is Coming Home! Menguber Uber Cup Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi Elizabeth Latief dan Semangat Kartini Indonesia dan Kejayaan All England Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona