Masuk Daftar
My Getplus

Amuk Inggris di Sungai Beramas

Akibat dua warganya terbunuh, Inggris melancarkan pembersihan brutal terhadap penduduk sipil

Oleh: Hendi Johari | 19 Jun 2019
Makam Mayor Anderson dan Nona Allingham di Pemakaman Menteng Pulo, Jakarta. (sumber: www.findagrave.com)

MAYOR Andrew Sandilands Knox Anderson (30) tengah diganja asmara hari itu. Seorang gadis Inggris telah membuatnya kasmaran setengah mati. Ann Helen Allingham (25) namanya. Dia seorang anggota Palang Merah Inggris yang tengah bertugas di Padang, mengurusi eks tawanan perang Jepang berkebangsaan Eropa.  Situasi perang menyebabkan kedua sejoli tersebut cepat berpadu hati.

Baca juga: Operasi Birdcage

Minggu, 2 Desember 1945, Anderson sudah merencanakan untuk bervakansi dengan sang kekasih ke sebuah bungalow yang dilengkapi tempat pemandian indah di kawasan Sungai Beramas (sekitar 11 km sebelah selatan Padang). Mereka memutuskan akan menginap. Namun sesuai prosedur, Anderson harus melaporkan dahulu rencananya itu kepada pihak berwenang yang mewakili Republik Indonesia (RI) di Padang.  

Advertising
Advertising

Maka pada hari Minggu sekitar jam 8, sebelum pergi ke Sungai Beramas, Anderson dan Allingham terlebih dahulu menemui Johnny Anwar di Kantor Polisi RI. Kepada anggota Kepolisian RI yang sudah dikenalnya itu, Anderson mengutarakan niatnya. Alih-alih memberi izin, Johnny justru mengingatkan bahaya yang mengancam jika pergi ke tempat tersebut. Selain memiliki medan yang curam, pemandian itu juga terletak di dekat hutan yang rawan akan aksi kejahatan.

“Saya pikir lebih baik anda tidak usah pergi ke sana. Terlalu berbahaya,” ujar Johnny.

“Ah, itu urusan saya,” kata Anderson sambil tertawa.

Singkat cerita, pagi itu dengan mengendarai sebuah jip militer, meluncurlah Anderson dan Allingham ke arah Sungai Beramas. Demikian penuturan Johhny Anwar kepada tim penulis buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau 1945-1950 (Jilid I).

*

Malam itu Pemandian Sungai Beramas terasa sepi. Selain pasangan anak muda Inggris tersebut, tak ada pengunjung lain yang menginap di sana. Alih-alih merasa khawatir, Anderson dan Allingham yang sedang dimabok kepayang itu justru semakin betah. Tanpa disadari oleh mereka, dari balik belukar Bukit Sikabau (tanah tinggi yang terletak di belakang bungalow), empat pemuda tengah mengintip kelakuan sepasang kekasih tersebut.

Kamaruddin, pimpinan kelompok kecil itu, lantas meloncat ke hadapan Anderson dan Allingham. Aksi anak muda asal Bugis itu diikuti oleh tiga kawannya.  Tanpa banyak bicara, mereka lantas menyerbu Anderson dan Allingham. Menghujani keduanya dengan tusukan pisau dan golok. Dan terjadilah apa yang ditakutkan oleh Johnny: kedua anak muda tersebut tewas seketika.

Besoknya, Markas Besar Tentara Inggris di Padang menjadi geger.  Mereka menyatakan telah kehilangan Mayor Anderson dan Nona Allingham. Dalam laporannya kepada Jakarta, Gubernur Sumatera Teuku Muhammad Hasan menyebut militer Inggris sangat berang dengan insiden itu.

 “Mereka menuduh para pejuang Indonesia sebagai pelakunya,” ujar Gubernur Sumatera seperti dikutip A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Diplomasi atau Bertempur Jilid II.

Tidak hanya cukup menuduh, Panglima Tentara Inggris di Sumatera Barat Brigadier Hutchinson langsung memanggil Residen Sumatera Barat Rusad Datuk Perpatih Baringek dan Wakil Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) Sumatera Barat Mr. S.M. Rasjid. Sang brigadier lantas memarahi keduanya sambil melontarkan ancaman.

“Jika pihak anda memberlakukan hukum rimba, maka kami pun tak akan ragu untuk memberlakukan hukum rimba!” katanya.

Baca juga: Tewasnya Perwira Australia di Bogor

Ancaman itu memang bukan gertak sambal semata. Lima hari setelah Anderson dan Allingham dinyatakan hilang, tentara Inggris melancarkan suatu pembersihan yang sangat brutal di selatan Padang, dengan membakar habis rumah-rumah penduduk. Bahkan bukan hanya kawasan Sungai Beramas yang dibakar, kampung-kampung terdekat (Kampung Gaung, Bukit Putus dan Teluk Nibung) juga dimusnahkan tanpa memberi kesempatan kepada para penduduknya untuk menyelamatkan harta masing-masing.

Pada 10 Desember 1945, mayat Anderson dan Allingham akhirnya berhasil ditemukan. Penemuan itu menjadikan militer Inggris semakin kalap dan menuntut supaya Pemerintah RI di Sumatera Barat mencari dan meringkus para pelaku pembunuhan itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tidak hanya itu, mereka pun memaksa Residen Rusad dan Wakil Ketua KNI Sumatera Barat Rasjid untuk melihat kondisi kedua mayat korban di Rumah Sakit Militer Ganting.

Hari itu juga tentara Inggris kembali mengamuk. Tidak hanya membakar rumah, mereka pun menembaki para pemuda dan menghancurkan markas PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan pos-pos TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Menurut Haji Masthor (salah seorang eks pejuang di Padang), di  sekitar wilayah Sungai Beramas, militer Inggris mengadakan operasi penangkapan di jalan-jalan. Setelah berhasil menangkapi para pemuda, mereka kemudian digiring ke tepi pantai dan dibantai dengan menggunakan senapan mesin.

“Saya sendiri sempat merawat seorang pemuda yang berhasil kabur dengan luka tembakan 12 peluru di kakinya,” ujar lelaki kelahiran Padang pada 1924 itu.

Akibat pembersihan itu, menurut A.H. Nasution, 40 rumah terbakar di Sungai Beramas, 98 rumah musnah di Kampung Gaung, 61 rumah menjadi abu di Kampung Nibung dan 244 rumah musnah di Padang kota, Kampung Pauh, Tabing, Lubuk Alung, Koto Tengah dan Alai.

“ Duabelas pemuda ditembak mati,” tulis Nasution.

Baca juga: Kisah Pembantaian di Cianjur Selatan

 

TAG

sejarah-revolusi sejarah-sumatera-barat

ARTIKEL TERKAIT

Orang-Orang Rawagede Jenderal Spoor dan Peristiwa Sulawesi Selatan Insiden Rawagede di Mata Jenderal Spoor Teror Sampar Ditakuti Tentara Belanda Barisan Wanita Pelatjoer, Penyebar Bakteri di Markas Tentara Belanda Kubangan Darah Korban Pasukan Khusus Belanda Solidaritas Prajurit India Untuk Indonesia Merdeka Perkelahian Tentara Gurkha dengan Pejuang Indonesia Para Jago di Barat Jawa Hijrah yang Dibenci TNI