Masuk Daftar
My Getplus

Awal Praktik Keislaman di Indonesia

Pada awal perkembangan Islam di Nusantara, belum banyak orang berpuasa dan salat lima waktu. Yang paling penting adalah mengenal Allah Swt.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 24 Mei 2020
Menara Masjid Kudus yang tak menghilangkan arsitektur masa Hindu dan Buddha. (Wikimedia Common).

Islamisasi sudah terjadi berabad-abad di Nusantara. Namun, bukan berarti praktik keislaman, khususnya salat dan puasa, sudah dilakukan bersamaan dengan proses itu secara masif.

Jajang Jahroni, dosen Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan bukti-bukti Islamisasi paling tidak sudah muncul sejak abad ke-12 dan ke-13. Namun, ketika itu identitas keislaman masih terbatas pada syahadat, berkhitan, dan menghindari makan daging babi. Bukti Islamisasi dari nisan-nisan bertulisan Arab hanya menunjukkan bahwa sudah ada orang-orang yang dimakamkan secara Islam.

"Harus dilihat sumber sejarah yang lain. Ketika melihat nisan, keislamannya seperti apa? Apakah salat dan sebagainya. Ini pertanyaan sulit," kata Jajang dalam diskusi "Tradisi dan Harmoni Ramadan pada Peradaban Nusantara" via zoom yang diselenggarakan Puslit Arkenas pada Rabu, 20 Mei 2020.

Advertising
Advertising

Mengenal Islam Secara Bertahap

Pada masa penyebaran Islam di Jawa, walisongo sudah mengenalkan aspek ketuhanan hingga syariat. Namun, itu baru dilaksanakan oleh beberapa kantung masyarakat muslim, khususnya di pesisir.

"Ini masih proses konversi. Orang-orang Majapahit banyak yang masuk Islam dan menjadi santri walisongo. Yang melahirkan Demak itu kan orang-orang Majapahit juga," kata Jajang.

Baca juga: Gajah Mada dan Islam di Majapahit

Bagaimana dengan masyarakat yang belum menjadi sasaran dakwah? Jajang menduga mereka masih mempraktikkan agama lokal.

"Orang masih campur-campur, saya kira," kata Jajang. "Semakin ke utara, di mana banyak walisongo berdakwah di sana semakin ortodoks."

Jajang menyebutkan bahwa Islamisasi membutuhkan lembaga yang matang. Misalnya pendakwah. Kendati sudah ada pendakwah pada abad ke-13, jumlahnya masih terbatas.

Baca juga: Puasa Zaman Gajah Mada

"Biasanya yang masuk Islam cukup rajanya saja. Raja masuk Islam rakyatnya ikutan. Raja itu makrokosmos. Raja pindah ke timur, semua pindah. Watak kerajaan sebelum Islam kan begini," kata Jajang.

 

Sejumlah kesultanan Islam, kata Jajang, perlu dikecualikan. Kesultanan Banten adalah salah satu yang sudah menerapkan syariat Islam, termasuk berpuasa saat Ramadan walaupun masih terbatas.

"Saat itu puasa masih elitis. Semakin jauh dari keraton, saya pikir orang tidak berpuasa," kata Jajang.

Baca juga: Sebelum Tobat, Sunan Kalijaga Pernah Jadi Begal

Tubagus Najib, ahli arkeologi Islam, manambahkan bahwa pada awal Islam datang, yang didakwahkan bukan persoalan fikih yang syar'i. Namun tarekat yang banyak diminati masyarakat Nusantara. Di antara tarekat itu, kemungkinan rukun Islam belum dianggap perlu. Ketika itu, yang paling dianggap penting adalah pengenalan kepada Allah Swt.

"Yang penting eling, ingat sama yang kuasa. Sunan Giri juga pernah menegur kenapa Sunan Kalijaga mengajarkannya begitu? Lalu dijawab oleh Sunan Kalijaga nanti ke depan ada yang meluruskan,” ujar Najib.

Berpuasa karena Tuntutan Sosial

Sejak kapan muslim Indonesia berpuasa secara masif? Menurut Jajang, salat lima waktu dan puasa Ramadan baru dilaksanakan secara masif pada abad ke-19 ketika pemahaman Islam sudah semakin mantap.

"Jadi, baru 100 tahun lebih orang Islam Nusantara berpuasa secara masif. Belum lama," kata Jajang.

Puasa Ramadan menjadi identitas keislaman yang penting. Berpuasa bukan hanya persoalan agama, tetapi juga budaya. Seakan ada kebutuhan orang muslim, bahwa ketika Ramadan, mereka akan berusaha untuk berpuasa. Entah itu hanya pada awal atau akhir Ramadan.

"Ada tekanan sosial luar biasa. Jadi orang berpuasa karena mungkin merasa nggak enak sama orang tuanya atau nggak enak sama keluarga," kata Jajang.

Sama halnya dengan hari raya Idulfitri, banyak orang yang terdorong untuk datang ke lapangan melaksanakan salat id. "Mungkin hari-hari biasanya dia nggak salat (lima waktu, red.)," kata Jajang.

Baca juga: Kemenangan dan Kegagalan Snouck Hurgronje di Aceh

Hal itu diamati Snouck Hurgronje di Aceh pada abad ke-19. Dalam catatannya, Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial, ia menulis bahwa pada bulan puasa banyak orang bersemangat melaksanakan salat tarawih. Namun, mereka mengabaikan kewajiban agama sehari-hari.

"Penilaian berlebihan yang populer mengenai tarawih ini dijelaskan melalui hubungannya dengan bulan puasa," tulis Snouck.

Menurut Snouck, puasa memiliki tempat yang lebih luhur dalam penilaian masyarakat dibandingkan dalam penilaian hukum. Ada banyak orang yang tak pernah melakukan seumayang menjadi pelaku puasa yang taat.

"Setiap ibadah yang secara khusus berkaitan dengan bulan penebusan ini, baik itu wajib maupun sunah, akan dengan penuh semangat dilakukan selengkap mungkin," tulis Snouck.

Snouck menyebut di Jawa juga begitu. Mereka yang ikut tarawih berjamaah adalah orang yang tidak melaksanakan salah Jumat. Tidak pula melakukan salat wajib harian di masjid atau langgar.

Jajang mengatakan penanda lain masifnya praktik keislaman adalah semakin banyaknya orang Nusantara pergi haji. "Ini butuh dana besar. Banyak orang Islam Jawa yang kaya, misalnya karena tanam paksa. Dia punya lahan disewakan ke Belanda. Dia pilih pergi haji," kata Jajang.

Baca juga: Muslim Nusantara Pertama yang Pergi ke Makkah

Hal itu berhubungan dengan kemudahan lalu lintas ke Timur Tengah. Semakin banyak orang Nusantara yang belajar Islam di Timur Tengah. Semakin banyak pula pesantren yang tumbuh, khususnya pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.

"Akhir abad ke-19 terjadi Islamisasi besar-besaran. Banyak orang naik haji dan banyak yang studi Islam ke Timur Tengah terutama Makkah," kata Jajang. "Ulama-ulama besar di Nusantara produk pada periode itu, generasi abad ke-19 dan awal abad ke-20. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan, misalnya."

Kondisi itu berlanjut. Setelah abad ke-20 organisasi Islam bermunculan. Praktik keislaman menjadi lebih masif lagi.

"Jadi, Islamisasi itu memiliki tahapan. Orang dulu belajar Islam terbatas, makanya ada tahap-tahap itu," kata Jajang.

Hingga 1970-an, orang melaksanakan puasa Ramadan dengan cara yang bersahaja. Penuh dengan simbol-simbol budaya dan sosial. Berpuasa pada saat Ramadan adalah ajang mempererat silaturahim.

Baca juga: Dari Hijab hingga Hijrah

Sementara puasa menjadi identitas baru terjadi pada dekade terakhir, yaitu pada 1980 dan 1990-an. Sebagian kelompok muslim tak ragu untuk mengedepankan simbol-simbol Islam di ruang publik.

"Puasa tak pelak dijadikan simbol keislaman pada periode ini. Muncul jargon 'hormati orang yang berpuasa'," kata Jajang. "Waktu saya kecil nggak ada itu."

Sekelompok Islam kemudian menjadikan Ramadan sebagai bulan amar makruf nahi munkar yang diwujudkan dengan menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.

"Menggeruduk tempat-tempat yang dianggap maksiat, karena dianggap menodai kesucian bulan Ramadan," kata Jajang.

Baca juga: Ketika FPI Ditarget Sniper Marinir Amerika

Terjadi pula kapitalisasi Ramadan. Misalnya, muncul banyak tayangan bertema Ramadan di televisi atau media lainnya.

Pada akhirnya, Ramadan dan tradisi berpuasa telah menciptakan ruang kultur sosial yang baru. Misalnya, acara buka puasa bersama, perhelatan Ramadan Jazz, juga berbagai kuliner khas Ramadan.

"Bukan cuma kalangan kaum muslim tapi nonmuslim juga," kata Jajang. "Ini memperkaya tradisi keislaman Nusantara."

Tidak Merusak Tradisi

Oleh karena itu, menurut Najib, anggapan ajaran Islam telah merusak tradisi lokal adalah salah besar. "Dalam pandangan orientalis memang seperti itu. Snouck mengatakan tradisi dan Islam, seakan tradisi ini lawan ajaran Islam. Ini salah besar," tegas Najib.

Dalam pandangan Islam, kata Najib, tradisi pada dasarnya boleh kecuali yang dilarang. Sementara syariat pada prinsipnya tidak boleh kecuali yang dianjurkan.

"Sesungguhnya tradisi Nusantara memiliki kecenderungan pada hal positif dan kreativitas," kata Najib. "Artinya tradisi kita selalu menerima hal-hal baik."

Masuknya Islam ke Nusantara justru memunculkan harmoni di antara keduanya. Misalnya, kalimat syahadat yang harus diucapkan ketika seseorang masuk Islam telah melahirkan budaya sekaten.

"Sekaten dari kata syahadatain yang dirayakan pada bulan Muharam di Jawa," kata Najib.

Baca juga: Arsitektur Masjid, Habis Tumpang Terbitlah Kubah

Arsitektur masjid pun tak lepas dari bentuk-bentuk budaya lokal. Misalnya, bentuk atap masjid yang beratap tumpang.

"Bentuk atap masjid yang tiga susun itu saya kira sejak sebelum Islam sudah ada. Waktu Islam datang ditafsirkan menurut Islam sebagai simbol iman, Islam, ihsan. Jadi pas. Tidak ada yang merasa tersinggung atau tersaingi," kata Jajang.

Di manapun di Nusantara, Jajang melihat Islam dan budaya lokal selalu saling mengisi. Pun di negara-negara lain yang terdapat komunitas Islam.

"Islam di mana-mana justru masuk ke budaya lokal, tidak menegasikan budaya lokal," kata Jajang.

Kendati begitu proses seleksi juga terjadi. Budaya lokal yang cocok dan sesuai dengan ajaran Islam diambil. Sementara yang dianggap tak sesuai ditinggalkan. Itu pun dilakukan secara perlahan, sehingga masyarakat lokal lambat laun menerima kehadiran Islam dengan baik.

"Ini melahirkan mozaik yang sangat cantik," ujar Jajang.

TAG

islam snouck hurgronje

ARTIKEL TERKAIT

Pencarian Islam Muhammad Ali Manuskrip-manuskrip tentang Pandemi di Dunia Islam Melihat Pesona Masjid Cut Meutia Debus dan Tarekat di Banten Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah Di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar Mangoenatmodjo, Penyebar Gerakan Islam Abangan Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Ketika Indonesia Takut Revolusi Iran Naskah Pegon Tertua di Jawa