Masuk Daftar
My Getplus

Anak Presiden Main Band

Guntur, Guruh, dan Bambang main band. Ketiga anak presiden itu bahkan sedikit banyak bersentuhan dengan industri musik tanah air.

Oleh: Petrik Matanasi | 25 Okt 2023
Guruh Gipsy, band salah satu anak presiden. Pelopor rock progresif di tanah air. (Foto: Akun Facebook "Irama Nusantara")

Indonesia pernah punya presiden yang menghasilkan enam album pop. Namun album itu tidak dihasilkannya ketika dia masih muda, melainkan ketika dia sudah dalam masa-masa menjabat sebagai presiden. Tak heran jika albumnya kurang berpengaruh dalam perkembangan sejarah musik pop.

Keluarga presiden main band di Indonesia sudah terjadi di zaman presiden pertama, Ir. Sukarno –seorang pecinta seni. Adalah Mohammad Guntur Soekarnoputra, anak tertuanya, yang suka bermain band. Sejak SD, Mas Tok –sapaan Guntur– sudah berlatih gitar. Sewaktu SMP, dia punya band dan sering tampil pula.

Lazim jika seorang remaja terpengaruh musisi top yang sezaman dengannya. Di zaman Guntur sekolah, Elvis Presley sedang berkibar.

Advertising
Advertising

“Zaman Bapak melarang Elvis dan Beatles, saya malah Ngelvis. Saya memang anak bandel, lho. Tapi bandel yang terpimpin,” aku Guntur seperti dicatat dalam Wartawan Bertanya, Guntur Sukarno Menjawab: Kumpulan Wawancara.

Meski melarang musik Elvis dan semacamnya, Sukarno pernah bertemu Elvis di Hawaii. Bahkan sejatinya Sukarno tak benci pada musik-musik Elvis. Sukarno melarang musik Barat macam Elvis karena kala itu “politik adalah panglima” dalam menghadapi panasnya Perang Dingin sementara sikap Barat kerap tidak menguntung bagi negara yang baru merdeka macam Indonesia. Oleh karenanya, Sukarno bersikap musik Barat tak boleh menjadi kiblat.

“Dalam siasat kebudayaannya, Sukarno memiliki selera politik musik dan tari yang mesti sejalan dengan politik antiimperialisme yang digaungkannya,” catat Muhidin M Dahlan dalam Politik Tanpa Dokumen.

Guntur bermusik di zaman menjadi mahasiswa Universitas Padjadjaran. Ini fenomena biasa. Beberapa musisi muda di era 1970-an juga mahasiswa.

“Yang jelas beralbum dia sama Aneka Nada dan Kwartet Bintang,” kata Stanley Tulung dari Yayasan Bung Karno yang meriset sejarah musik Indonesia era 1950-an-1960-an. 

Namun Guntur tak menjadikan musik sebagai kariernya. Pun dia tidak berkarier di politik seperti adiknya Megawati.

Berbeda dari Guntur, pada era 1970-an adik laki-laki Guntur yang bernama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra alias Guruh muncul di dunia musik Indonesia. Guruh penyuka musik, juga tari. Tak hanya musik modern, musik tradisional juga disukainya sejak kecil, ketika Sukarno masih menjadi presiden dan dia tinggal di istana.

Kekayaan referensi musik yang berpadu dengan hasrat musik tinggi pada diri Guruh itu membuatnya selalu mengeksplorasi musik. Itu pula yang dilakukannya dengan band Gipsy dari Jalan Pegangsaan. Bersama Gipsy –terdiri dari Guruh (piano, komposer), Keenan (drum, vokal), Roni Harahap (piano, keyboard, komposer), Oding Nasution (gitar), Abadi Soesman (synthesizer), dan Chrisye (bas, vokal), Guruh pernah membuat album eksperimental.

“Ketika Sabda Nada telah berganti nama menjadi Gipsy, Guruh Soekarno Putra mengajak grup musik yang bermarkas di Jalan Pegangsaan itu, membuat musik eksperimen dengan memadukan musik gamelan Bali, kali ini dengan musik rock,” tulis Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia.

Album bertajuk Guruh Gipsy itu dirilis pada 1977. Dengan tembang andalan macam “Indonesia Maharddhika”, “Smaradhana”, dan “Chopin Larung”, karya Guruh bersama Gipsy itu menjadi salah satu tonggak penting dalam belantika musik tanah air.

“Di Indonesia ini belum ada sebelumnya seingat saya, musik yang memadukan dua hal tersebut,” kata Stanley. "Ini sesuatu yang baru terjadi di Indonesia; menggabungkan gamelan Bali yang pentatonis dengan musik rock yang diatonis. Guruh Gipsy yang t bisa disebut sebagai grup yang memelopori gerakan rock progresif Indonesia,” sambung Denny Sakrie.

Tak hanya bersama Gipsy, Guruh terlibat pula dalam pengerjaan musik untuk film-film nasional. Antara lain dalam Ali Topan Anak Jalanan yang dibintangi Djunaedi Salat, atau Puspa Indah Taman Hati, dan Gita Cita Dari SMA yang dibintangi Rano Karno. Ketiga film tersebut punya soundtrack yang masih sering diputar hingga hari ini.

Selain komposer, Guruh juga menjadi koreografer penting Indonesia. Dia adalah pemuka kelompok kesenian penting era 1980-an bernama Swara Mahardhika.

Sama seperti anak-anak Sukarno, anak Presiden Soeharto juga ada yang main musik dalam sebuah band. Adalah Bambang Trihatmodjo alias Bambang Soeharto yang bermain dengan band bernama The Crabs. Bukan pengusung musik rock yang tak disukai para orang tua “Orde Lama”, The Crabs membawakan lagu-lagu pop manis. The Crabs terkenal dengan lagu “Hilang Permataku” yang tak kalah sedihnya dari lagu terlarang Orde Baru yang dinyanyikan Betharia Sonata, “Hati Yang Luka”.

“Pada 1970-an Remaco juga merekam beberapa album dari The Crabs, menampilkan putra Presiden Soeharto, Bambang Trihatmodjo,” tulis Krishna Sen dan David T. Hill dalam Media, Culture, and Politics in Indonesia.

TAG

guntur sukarnoputra sejarah musik sukarno soeharto

ARTIKEL TERKAIT

Nisan dan Tengkorak dalam Peringatan Reformasi Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama Lima Tokoh Bangsa Bibliofil Tuah Guru Soeharto Guru Soeharto Modal Soeharto dari Muhammadiyah Nasib Pelukis Kesayangan Sukarno Setelah 1965 Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno Daripada Soeharto, Ramadhan Pilih Anak