- 3 Mar 2022
- 8 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
KOTA-kota besar strategis Ukraina terus diguncang prahara agresi Rusia sejak 24 Februari 2022. Kharkiv, Mariupol, Berdyansk, Kherson, dan bahkan ibukota Kyiv jadi target serangan Kremlin yang dalih awalnya akan membebaskan Luhansk dan Donetsk. Presiden Rusia Vladimir Putin memberi lampu hijau pada mesin-mesin perangnya dengan alasan untuk melakoni demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina dari rezim sayap kanan pengikut neo-Nazi dan “Banderites”.
“Banderites dan neo-Nazi mengumpulkan senjata-senjata berat, termasuk MLRS (Sistem Peluncur Roket Ganda), tepat di distrik pusat kota-kota besar, termasuk Kiev dan Kharkov. Ini sebenarnya mereka berlaku dengan cara yang sama dengan tindakan-tindakan teroris di seluruh dunia –menggunakan manusia sebagai tameng,” kata Putin, dikutip Kementerian Luar Negeri Rusia via akun Twitter-nya, @mfa_russia, 26 Februari 2022.
“Banderites” merupakan istilah neo-Nazi yang dipakai Kremlin sejak era Uni Soviet. Istilah tersebut merujuk pada tokoh fasis di era Perang Dunia II, Stepan Bandera. Tokoh perlawanan yang pernah berkolaborasi dengan Jerman Nazi untuk melawan Soviet dan di kemudian hari justru berontak pada Nazi itu dinobatkan sebagai pahlawan nasional Ukraina oleh Presiden Ukraina Viktor Yushchenko pada 2010. Namun, setahun berselang status itu dicabut lagi atas desakan Polandia, Rusia, dan Uni Eropa karena Bandera dianggap terlibat dalam holocaust di Ukraina dan Polandia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















