Diperbarui: 28 Sep
NAMA Gusmiati Suid tak dapat dilepaskan dalam perkembangan seni tari Indonesia. Selama hidupnya, wanita kelahiran Batusangkar, Sumatra Barat, 16 Agustus 1942 itu aktif melahirkan karya-karya tari monumental seperti Kabar Burung (1997), Api dalam Sekam (1998), Asa di Ujung Tanduk (1999), hingga Menggantang Asap (2000). Tak heran, Ibu Yet, sapaan akrab Gusmiati, kemudian dikenal sebagai salah satu ujung tombak sejarah tari kontemporer di Tanah Air.
Perkenalan Gusmiati dengan tari dimulai sejak belia. Gusmiati muda kerap mengisi waktu luang dengan belajar menari. Salah satu tokoh yang menjadi mentornya adalah Huriah Adam, seorang penari dan koreografer asal Padang Panjang.
Menurut peneliti dan kurator seni lepas, Helly Minarti dalam Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, Huriah merupakan koreografer pascakolonial Indonesia pertama yang mengulik kedalaman khazanah tari dan kebudayaan Minang sebagai sumber inspirasi dan mentransformasikannya menjadi ekspresi artistik individual.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















