Soeharto Datang, Genjer-Genjer Berkumandang

Ketika penguasa Orde Baru disambut lagu terlarang di Kamboja.

11 May 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Soeharto Datang, Genjer-Genjer Berkumandang
Presiden Soeharto di awal kekuasaannya. (sumber:soeharto:co)

SENIN pagi, 1 April 1968. Pesawat Garuda mendarat di Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Tamu penting dari Indonesia datang berkunjung: Presiden Soeharto dan istrinya Tien Soeharto. Bunga melati putih disebarkan di hamparan karpet merah. Ini adalah lawatan pertama Soeharto ke luar negeri setelah resmi menjabat presiden. Pangeran Norodom Sihanouk, pemimpin Kamboja berdebar-debar menanti rombongan presiden Indonesia yang baru saja dilantik itu.  

Kamboja adalah negeri kedua – setelah Jepang – yang didatangi Soeharto. Di Phnom Penh, rakyat menyambut dengan gagap gempita. Meriam ditembakkan sebanyak 21 kali. Ribuan orang dikerahkan berkumpul di stadion membentuk konfigurasi raksasa: “Hidup Presiden Soeharto”.

“Pak Harto tampak berkenan dengan sambutan meriah ini. Barangkali karena sebelumnya, di Jepang, tidak mungkin mendapat perlakuan serupa,” kenang Boediardjo dalam otobiografinya Siapa Sudi Saya Dongengi. Boediardjo tidak lain merupakan duta besar Indonesia untuk Kamboja pada saat itu.

Namun setelah itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kala rakyat Kamboja menyanyi dan menari untuk Presiden Soeharto dan Ibu Tien, tetiba saja Boediarjo jadi ketar-ketir. 

“Astaga! Tiba-tiba ribuan orang Kamboja itu menyanyi dan menari gembira: Genjer-Genjer! Itu lagu rakyat Banyuwangi yang pernah dimanfaatkan oleh PKI untuk propaganda,” tutur Boediardjo.

Saat itu pengaruh komunis yang berasal dari Vietnam dan Tiongkok sudah cukup bertumbuh di Kamboja. Pangeran Sihanouk juga dikenal sebagai sahabat dekat Presiden Sukarno. Dia juga mengaggumi gagasan Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) ala Bung Karno. Maka tidak heran bila lagu Genjer-Genjer bisa sampai ke Kamboja.  

Baca juga: Mencipta Indonesia

Sebelum Genjer-Genjer diputar telah diperdengarkan pula lagu-lagu khas Indonesia seperti Maju Tak Gentar, Bengawan Solo, Pulau, Bali, Burung Kakak Tua, dan sebagainya. Ini adalah tanda penghormatan dari pemerintah Kamboja selaku tuan rumah. Ketika lagu Genjer-Genjer berkumandang, seluruh anggota rombongan kepresidenan terkejut. Pasukan pengaman presiden bingung. Mereka ingin sekali menghentikan "lagu jadah" itu. Untunglah lagunya pendek sehigga cepat selesai.

Celaka bagi Boediardjo. Dalam amatannya, Soeharto tampak ikut terkejut. Raut eheranan terpancar dari wajah sang presiden. Lekas-lekas Boediardjo berbisik kepada Soeharto. Dia mengaku salah dan lantas minta maaf. Boediardjo merasa bertanggung jawab atas keteledorannya tidak meneliti lagu-lagu yang dinyanyikan dalam sambutan akbar itu. “Pak Harto diam saja dengan senyumnya yang misterius,” kata Boediardjo.

Selama empat hari, Presiden Soeharto menjalani masa kunjungan di Kamboja. Terlepas dari "insiden Genjer-Genjer” hubungan diplomatik kedua negara berjalan ke arah yang lebih baik. Interaksi yang terjalin antara Pangeran Sihanouk dan Presiden Soeharto terlihat cukup akrab. Apalagi wajah keduanya memang agak mirip, seperti kakak-adik.

Dalam Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, tiada kesan berarti yang mengisahkan pengalaman perjalanan Soeharto di Kamboja. Buku yang mencatat agenda kerja Presiden Soeharto itu hanya menuliskan, “Kamis, 4 April, 1968, Presiden dan Ibu Tien Soeharto beserta seluruh rombongan sore ini tiba kembali ke Jakarta, setelah mengadakan kunjungan kenegaraan ke Jepang dan Kamboja selama satu minggu.

Bagaimana dengan nasib Boediardjo? Kurang lebih dua bulan setelah kunjungan Presiden Soeharto ke Kamboja, Boediardjo dipanggil pulang ke Jakarta. Siapa sangka, jabatan menteri penerangan menanti untuk Boediardjo. Sementara itu, lagu Genjer-Genjer jadi tembang yang terlarang dikumandangkan di Indonesia semasa pemerintahan Soeharto.  Kamboja sendiri benar-benar menjadi rezim “Merah” ketika Jenderal Pol Pot berkuasa di negeri itu pada 1975.

 

Soeharto, sejarah-lagu
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
3 Suka
BOOKMARK