top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Alex Kawilarang Diserang Pasukan Lintah

Menjelajahi medan gerilya dengan kaki telanjang, tak takut menghadapi pasukan Belanda. Tapi, lain cerita kalau ketemu binatang melata penghisap darah ini di hutan belantara. 

4 Agu 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Letkol Alex Kawilarang. (Betaria Sarulina/Historia.id).

Sejak Desember 1948, Letkol Alex Evert Kawilarang resmi menjabat sebagai komandan Sub Teritorium VII Sumatra Utara. Untuk mencegah friksi di antara sesama komandan brigade, ia membagi teritorialnya ke dalam berbagai sektor. Sektor I/Tapanuli Selatan dipimpin Mayor Bedjo, Sektor II/Tapanuli Utara dipimpin Mayor Liberty Malau, Sektor III/Dairi-Tanah Karo dipimpin Mayor Selamat Ginting, dan Sektor IV/Sibolga dipimpin Kapten O. Sarumpaet.


Menurut ajudannya, Letnan Kontan Pri Bangun, Kawilarang adalah sosok komandan yang sederhana. Semasa perang gerilya, Kawilarang tak pernah mengeluhkan perbekalan yang serba minim: makanan ala kadarnya, pakaian pengganti hanya sepasang, tanpa sepatu, dan ke manapun berjalan kaki. Sudah jadi kebiasaan Kawilarang pula melakukan perjalanan berjarak puluhan kilometer dari satu sektor ke sektor lain di Tapanuli dan Tanah Karo. Markas staf komando teritorium sendiri berbasis di Sibolga. 



Dalam perjalanan kaki itu ransel Kawilarang berisikan sepasang pakaian, catatan harian, dan barang-barang lainnya yang selalu dipanggul. Bayangkan saja, berjalan kaki selama berhari-hari tanpa memakai sepatu, kaki bakalan lecet dan bengkak.


“Saya mula-mula melihat cara kerja beliau, terutama dalam kesanggupannya berjalan kaki ke mana-mana tanpa memakai sepatu, tapi akhirnya setelah mengetahui caranya itu saya pun biasa juga,” ujar Kontan Bangun dalam biografinya yang disusun Tridah Bangun, Pelopor Industri Kabel Indonesia.


Sekali waktu, Kontan Bangun menyertai Kawilarang dalam perjalanan dari satu kampung ke kampung lain di kawasan gerilya Tapanuli Utara. Mereka harus melalui hutan. Di tengah perjalanan, hujan turun. Seluruh pakaian jadi basah kuyup, tapi kaki terus melangkah tanpa sepatu.



Tibalah mereka di sebuah sungai yang berbatu-batuan. Kawilarang dan ajudannya rehat sejenak untuk beristirahat di atas batu besar. Rupanya mereka berdua merasa geli-geli di badan, seperti ada sesuatu. Ketika baju dan celana dibuka, puluhan pacat menghinggapi sekujur badan. Bukan main pucatnya muka Kawilarang.


“Biar saya bertempur di medan laga melawan Belanda, daripada berhadapan dengan binatang-binatang pacat ini,” gerutu Kawilarang kepada Kontan Bangun.


Kawilarang yang jago main lempar pisau itu ternyata sangat ngeri terhadap pacat alias lintah. Dan yang ditakutinya itu berpuluh-puluh jumlahnya sedang mengisap darahnya.



Kendati demikian, Kontan Bangun memuji kepemimpinan komandannya itu yang selalu memberikan teladan. Walaupun Kawilarang berasal dari keluarga elite Manado, lulusan Akademi Militer Belanda, dia dapat menyesuaikan diri di tengah rakyat yang hidup prihatin dalam perang kemerdekaan. Itulah yang terjadi ketika Kawilarang meninjau ke Sektor III (Dairi dan Tanah Karo) yang dipimpin Mayor Selamat Ginting.


Pada 8 Januari 1949, Kawilarang mengadakan inspeksi kilat ke daerah operasi Batalion II dan Sektor III di Karo Utara. Kunjungan Kawilarang ke daerah operasi batalion dan kompi-kompi biasanya tanpa iring-iringan pengawal. Ke mana saja bergerak, ia hanya meminta seorang penunjuk jalan. Selain itu, dia tak pernah merelakan ranselnya dipikul orang lain.


“Kesederhanaan Letkol A.E. Kawilarang menimbulkan kesan yang baik di hati prajurit dan rakyat pada daerah-daerah yang dikunjunginya,” kenang Kontan Bangun. 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page