Masuk Daftar
My Getplus

Kisah Tank Leopard Sebelum Tank Leopard 2

Jauh sebelum Jerman melahirkan Leopard 2, ada dua tank Jerman yang meminjam nama predator sangar itu.

Oleh: Randy Wirayudha | 30 Jan 2023
Tank tempur berat Leopard 2A6 buatan Jerman (Bundeswehr/kmweg.de)

HAMPIR satu tahun membendung operasi militer Rusia, Ukraina mulai mendapat beragam bala bantuan alutsista, utamanya kendaraan tempur (ranpur) lapis baja berat, dari negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO. Salah satunya dari Jerman yang sudah mengonfirmasi bakal mengirim tank tempur utama Leopard 2.

Mengutip ABC, 25 Januari 2023, Kanselir Jerman Olaf Scholz selepas rapat kabinet memastikan akan mengirimkan 14 unit tank Leopard 2A6 ke Ukraina. Ranpur yang akan dikirim ada yang sudah siap tempur berasal dari Bundeswehr (militer Jerman) maupun yang masih baru dari pabrikan Rheinmetall AG. Kementerian Pertahanan Jerman mengonfirmasi ke-14 tank Leopard 2A6 itu akan dikirimkan pada akhir Maret hingga awal April 2023, menunggu pelatihan awak kru Ukraina selama tiga bulan.

“Tank tempur utama Jerman, memperluas dukungan pertahanan dan misi-misi latihan, lampu hijau bagi para mitra untuk mensuplai alutsista serupa. Saya baru mendengar kabar yang penting dan tepat waktu ini dalam sambungan telepon dengan @OlafScholz. Dengan tulus saya berterimakasih kepada kanselir dan semua sahabat kami,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di akun Twitter-nya, @ZelenskyyUa, 25 Januari 2023.

Advertising
Advertising

Baca juga: Kapal Kebanggaan Rusia yang Tinggal Nama di Ukraina

Kanselir Scholz memberi lampu hijau pengiriman bantuan setelah melakoni sejumlah konsultasi intensif, termasuk dengan kolega-koleganya di NATO. NATO akan menyalurkan bantuan setidaknya dua batalyon atau 88 tank berbagai jenis untuk Ukraina. Presiden Amerika Joe Biden kemudian juga akan mengirimkan 31 unit tank M1 Abrams.

Sementara, Polandia siap meluncurkan 60 tank modernnya. Dari 60 tank, 30 unit di antaranya adalah tank PT-91 Twardy, dan 14 unit lainnya adalah tank Leopard 2.

Olaf Scholz, kanselir Jerman yang mengaku siap mengirimkan belasan tank Leopard 2 ke Ukraina (bundeswehr.de)

Leopard 2 oleh banyak pengamat militer diyakini berkualitas jempolan. Tank buatan Krauss-Maffei Wegmann dan Maschinenbau Kiel itu didesain pada 1979 dan merupakan penerus Kampfpanzer Leopard 1 buatan Porsche AG dan Krauss-Maffei yang sudah eksis sejak 1965.

Dalam “Technical Data-Leopard 2 MBT” yang dimuat di buku Leopard 2 Main Battle Tank Development and German Army Service, Frank Lobitz mencatat Leopard 2 varian standar punya spesifikasi bobot 68 ton dan ditenagai oleh mesin diesel turbo ganda V12 buatan MTU. “Monster” baja yang diawaki empat personel ini bisa melaju sampai kecepatan maksimal 68 km/jam.

Baca juga: AMX-13 Tank Prancis Rasa Amerika

Sementara, varian 2A6 yang akan dikirim ke Ukraina sebagai alutsista bantuan baru dikembangkan dalam kurun 2001-2005 sebagai upgrade dari Leopard 2A5. Tank Leopard 2A6 ditenagai mesin MTU MB 873 Ka-501 berjenis diesel twin-turbo berpendingin hingga bisa “berlari” sampai kecepatan 70 km/jam.

Untuk persiapan siaga tempurnya, Leopard 2A6 dipersenjatai sepucuk meriam utama Rh-120 kaliber 120 milimeter (mm) dan bisa ditanami dua pucuk senapan mesin MG3A1 atau FN MAG kaliber 7,62 mm. Untuk pelindungnya, Leopard 2A6 berbalut “baju zirah” baja setebal 35-80 milimeter dari bagian lambung hingga turret-nya.

Tank tempur Leopard 1, pendahulu Leopard 2 (kmweg.de)

Dua Leopard Sebelum Leopard 2

Ulung dalam menjebak mangsa, pandai beradaptasi di segala situasi, hingga unggul dalam kecepatan merupakan gambaran sangarnya leopard (Panthera pardus) sebagai salah satu predator darat. Jerman sebagai salah satu negara maju dalam teknologi persenjataan pun gemar menggunakan nama leopard untuk monster-monster bajanya.

Sebelum Leopard 2, sudah ada tank leopard Jerman yang lain yang muncul di masa “Reich Ketiga” pimpinan diktator Adolf Hitler mencengkeram Eropa di Perang Dunia II. Bahkan bukan hanya leopard, nama predator-predator lain seperti tiger atau panther juga digunakan untuk nama tank-tank Jerman.

Menurut pengamat militer era Perang Dunia II Alif Rafik Khan, nama-nama macam Tiger, Panther, atau Leopard itu tentu bukan nama resmi. Penamaan itu hanyalah penjulukan yang lazim diberikan desainer atau pihak pabrikan dengan tujuan bisa lebih mudah diingat dan mengesankan kekuatan laiknya predator yang dimaksud.

“Misalnya Tiger I nama resminya Panzerkampfwagen VI (PzKpfw VI) dan seterusnya. Nama Tiger diberikan (desainer) Ferdinand Porsche, meski kemudian produksinya lebih banyak oleh Henschel. Selain nama-nama kucing, nama binatang lain yang tak kalah sangar juga digunakan, seperti Elefant (Sonderkraftfahrzeug 101/Sd.Kfz 101) dan Nashorn (Sd.Kfz 164),” ujarnya penulis buku 1000+Fakta Nazi Jerman itu kepada Historia.

Baca juga: Tank Gaek Bertahan Hidup

Searah jarum jam: Tank Tiger I/PzKpfw VI, Panther/PzKpfw V, Nashorn/Sdf.Kfz 164 & Elefant/Sdf.Kfz 184 (Bundesarchiv)

Jauh sebelum kemunculan Leopard 1 dan Leopard 2, Ferdinand Porsche yang pada akhir 1939 menjabat sebagai ketua Panzerkommission merancang tank medium Versuchkampffahrzeug 30.01 (VK30.01) atau Porsche Type 100. Tank  itu kemudian dinamainya “Leopard”. Porsche mengembangkannya pada 1940 untuk menjawab kebutuhan Waffen Prüfen 6 (Wa Prüf 6/lembaga alutsista Jerman-Nazi) akan tank-tank baru yang gesit untuk menopang blitzkrieg (serangan kilat) ke Eropa Barat.

Mengutip Kenneth W. Estes dalam German Heavy Fighting Vehicles of the Second World War: Front Tiger to E-100, Porsche merancang dua purwarupa tank medium VK30.01 itu dengan dibantu pabrikan Krupp untuk bagian turret dan meriam L-56 berdiameter 88 mm-nya. Tank itu juga dilengkapi senapan mesin MG-34 sebagai senjata sekunder.

Dari dua rancangan purwarupa, satu dibuat untuk diujicobakan. Tank medium Leopard itu dibuat dengan panjang 6,58 meter; lebar 3,05 meter; tinggi 2,8 meter; dan bobot 30 ton. Dengan ditenagai dua mesin Porsche V10, tank berlapis baja setebal 80 mm itu bisa melaju hingga kecepatan 60 km/jam. Tank yang diawaki lima kru itu merupakan tank lapis baja pertama yang ditopang steering (kendali elektrik) dan sistem berpendingin udara pada mesin bensinnya.

Baca juga: Blitzkrieg, Serbuan Kilat ala Nazi

Ilustrasi tank medium Porsche Typ 100 atau VK 30.01 Leopard (tanks-encyclopedia.com)

Namun, tank medium Leopard ini urung diproduksi massal. Proyeknya dihentikan lantaran pada 26 Mei 1941 Hitler berubah pikiran dan meminta dua pabrikan tanknya, Porsche AG dan Henschel & Sohn, membuat tank-tank berat untuk meladeni ancaman tank T-34 dan KV-I Uni Soviet di front timur.

“Dia (Hitler, red.) dengan program empat tahunnya menginginkan tank berat yang harus punya lapisan baja depan setebal 100mm dan harus punya meriam besar, setidaknya 75-88mm. Dia pun menghapus semua proyek-proyek (Porsche dan Henschel) sebelumnya,” tulis Estes.

Setahun setelah Porsche menghentikan proyek tank medium Leopard VK 30.01, pabrikan Maschinenfabrik Augsburg-Nürnberg (MAN) merancang sebuah tank intai tempur VK 16.02. Tank ini kemudian diberi julukan “Leopard”. MAN merancang VK 16.02 Leopard untuk menggantikan tank ringan Luchs (kucing liar, red.) alias PzKpfw II Ausf L.

Peter Hamberlain dan Hilary L. Doyle dalam Encyclopedia of German Tanks of World War Two mencatat, tank VK 16.02 Leopard dikembangkan MAN dengan desain dasarnya mengacu pada PzKpfw V atau tank medium Panther. Pada saat bersamaan, MAN juga mengerjakan tank Panther pesanan Wa Prüf 6 untuk kebutuhan front timur.

Baca juga: Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia

Ilustrasi rancangan tank VK 16.02 Leopard (aviarmor.net)

Postur Leopard VK 16.02 lebih kecil ketimbang Panther tapi berselimut lapis baja lebih tebal, yakni 80 mm, dibanding Panther yang hanya 60 mm. Tank intai ini ditenagai mesin Maybach HL 157 P yang bisa memacu kecepatan hingga 45 km/jam. Meriam KwK 39 berdiameter 5 cm diplot sebagai senjata utamanya dan senapan mesin MG 34 sebagai sekundernya.

Setelah mengembangkan desainnya, Wa Prüf 6 menginstruksikan MAN lebih fokus pada tank Panther. Alhasil proyek VK 16.02 Leopard diserahkan kepada dua pabrikan lain, Mühlenbau und Industrie Aktiengesellschaft (MIAG) dan Daimler-Benz, untuk melanjutkannya.

“Pengembangannya didiskusikan dengan Hitler pada Maret dan Juni 1942. MIAG lalu dipercaya mengambil alih untuk konstruksi sasisnya dan Daimler-Benz untuk turret-nya. Semua desainnya sudah harus siap pada akhir Oktober 1942,” ungkap Hamberlain dan Doyle.

MIAG dan Daimler-Benz yang mendapat “lungsuran” proyek itu masing-masing menyiapkan dua purwarupa. Menurut Bob Carruthers dalam Panzers I & II: Germany’s Light Tanks, versi purwarupa pertamanya dibuat lebih ringan (18 ton), dan lajunya lebih cepat.

“Dan versi yang lebih lambat lajunya dengan bobot 26 ton. Tetapi di fase awal versi pertama batal dikerjakan karena ternyata terdapat ketimpangan antara bobot dan lapisan bajanya,” tulis Bob Carruthers.

Baca juga: Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir

Adolf Hitler ditemani Albert Speer menginspeksi alutsista Jerman (Bundesarchiv)

Sementara, versi kedua dibuat alakadar untuk sekadar memenuhi inspeksi oleh Hitler pada Mei 1942. Purwarupa ini dibuat dengan bahan kayu.

Hitler terkesan. Ia lalu memerintahkan produksi Leopard sebanyak 105 unit dan harus selesai pada akhir 1943 serta produksi lanjutan sebanyak 150 unit pada musim semi 1944.

Nahas, Leopard rancangan MAN dan kemudian MIAG dan Daimler-Benz itu mesti layu sebelum berkembang. Rapat antara Hitler dengan Menteri Persenjataan dan Perang Albert Speer pada 13 Oktober 1942 memutuskan, kebutuhan akan tank lebih ringan lebih mendesak di front timur.

Proyek VK 16.02 Leopard itu, menurut Michael Sowodny dalam German Armored Rarities: 1935-1945, akhirnya dianulir pada 3 Januari 1943. Speer memberi masukan untuk memodifikasi tank Panther varian intai walau pada akhirnya proyek Panther versi intai itupun urung direalisasikan.

Baca juga: Albert Speer Arsitek Kebanggaan Nazi

TAG

alutsista tank jerman ukraina

ARTIKEL TERKAIT

73 Easting, Tarung Kolosal Tank di Perang Teluk Nasib Tragis Sophie Scholl di Bawah Pisau Guillotine Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Waktu Punya Tupolev, Angkatan Udara Indonesia Kuat Purnatugas Heli Puma Pesawat Multifungsi Tulang Punggung Matra Udara Jerman D.I. Pandjaitan dan Aktivis Mahasiswa Indonesia di Jerman Black Hawk dalam Oktober Kelabu Hjalmar Schacht Melawan Hitler Sekolah Jerman di Sarangan