Masuk Daftar
My Getplus

Menanti Reuni Tyson vs Holyfield

Tyson-Holyfield kenal dan berteman baik sejak di kelas amatir. Reuninya di atas ring dinanti walau sekadar eksebisi.

Oleh: Randy Wirayudha | 23 Jul 2020
"The Bite Fight", pertarungan pada Juni 1997 yang dikenal dengan gigitan Tyson ke kuping Holyfield (Foto: boxinghalloffame.com)

ANDAI samsak hijau yang bergantung pada seutas rantai atau punching ball oranye bisa bicara, mungkin ia akan teriak minta ampun setelah bertubi-tubi jadi sasaran pukulan petinju legendaris Mike Tyson. Walau usianya tak lagi muda, 54 tahun, berjuluk “si Leher Beton” itu sejak April 2020 sedang intens latihan di sasana Kings MMA, Huntington Beach, California, Amerika Serikat.

Pukulan-pukulan kombinasi Tyson juga terus menerjang sepasang mitt tinju yang dikenakan pelatihnya kala sesi sparring. Derasnya peluh yang mengucur dari kepala dan tubuhnya kian memacu keganasannya “menembak” sasaran-sasaran itu dengan pukulannya, sebagaimana yang terlihat lewat video yang ia unggah di media sosial Instagramnya, @miketyson, Selasa (21/7/2020).

Tyson sedang merencanakan serangkaian pertarungan. Tentu bukan pertarungan kompetitif, melainkan eksebisi untuk tujuan amal yang akan disalurkan lewat yayasan amalnya, TYSON Cares Foundation.

Advertising
Advertising

Beberapa nama petinju dimunculkan untuk jadi lawannya di atas ring. Mulai dari Tyson Fury, Riddick Bowe, hingga Evander Holyfield yang telinganya digigit Tyson dalam pertarungan 23 tahun lampau yang populer sebagai “Bite Fight”.

Evander Holyfield & Michael Gerard 'Mike' Tyson bersahabat di masa tua (Foto: Instagram @miketyson)

Baca juga: Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson

Jika keduanya bersua di atas ring kembali untuk kali ketiga, akan jadi momen bersejarah. Toh sejak Mei 2020, Holyfield yang kini berusia 57 tahun juga membuka diri menyoal pertarungan eksebisi Tyson vs Holyfield jilid III.

“Mike dan saya sudah membicarakan tentang (eksebisi) ini dan sejak itu perwakilan saya dan dia juga sudah saling diskusi. Kami memang belum mencapai kata sepakat tapi yang pasti sudah ada pembicaraan ke arah sana,” kata Holyfield, disitat Essentially Sports, 19 Mei 2020.

 “Banyak orang-orang besar dari negara-negara berbeda ingin kami menggelar pertarungan. Saya pribadi, ya, jika ada cara untuk kami bertarung lagi, saya bersedia. Saya yakin akan jadi ajang besar. Lagipula takkan ada yang mendapat keputusan menang atau kalah atau tersungkur KO. (Hanya) eksebisi,” tambahnya.

Di Balik Tyson vs Holyfield

MGM Grand Garden Arena di Paradise, Nevada, Amerika Serikat pada malam 9 November 1996 jadi saksi pertarungan pertama Tyson dan Holyfield. Keduanya tengah dalam puncak karier kedua. Baik Tyson maupun Holyfield sebelumnya sama-sama mati-matian bangkit dari penurunan performa di tinju kelas berat dunia.

Namun, itu bukan pertemuan pertama mereka. Menurut James J. Thomas II, pengacara yang turut jadi manajer Holyfield di karier profesionalnya, dalam biografi The Holyfield Way: What I Learned about Courage, Perseverance, and the Bizarre World of Boxing, keduanya bertemu untuk pertamakali saat meniti karier di tinju amatir.

“Evander dan Tyson bertemu di ring pada awal 1984, sebagai dua dari beberapa petinju amatir teratas Amerika Serikat yang berkumpul di Colorado Springs, sebuah fasilitas pelatihan jelang Olimpiade 1984 di Los Angeles. Sosok Tyson di usia 18 tahun sangat berotot, powerful, cepat, dan bertalenta. Ia jadi perhatian di antara peserta seleksi dan tak heran tiada seorangpun yang mau berisiko cedera jika sparring dengan petinju ganas asal Brooklyn, New York itu,” tulis Thomas.

“Kecuali Evander, petinju kelas berat-ringan berprospek dari Atlanta, Georgia yang pendiam, sopan, dan khas laiknya bocah dari Selatan. Ketika pelatih Pat Nappy kesulitan mencari lawan latih tanding dengan Tyson, Evander mengajukan diri. Pelatih sempat menolak karena mereka beda kelas dan Tyson berbobot 25 pound (11,3 kg) di atas Evander. Namun Evander bersikukuh dan Nappy akhirnya mengizinkan dengan syarat, pertarungannya half speed (tidak 100 persen serius),” imbuhnya.

Baca juga: Jalan Berliku Judoka Krisna Bayu ke Olimpiade

Tetapi ketika lonceng dibunyikan, Holyfield justru bertarung dengan 100 persen kemampuannya. Keduanya sampai terlibat pergulatan sengit yang memaksa pelatih Nappy menghentikan sparring. Singkat cerita, Tyson gagal lolos seleksi tim Amerika, sementara Holyfield terpilih dan di olimpiade ia merebut medali perunggu.

Keduanya lalu memilih jalan berbeda ketika masuk tinju profesional. Tyson tetap di kelas berat, sementara Holyfield dari kelas berat-ringan masih “bertualang” lagi di kelas jelajah sebelum masuk kelas berat di tahun 1989. Keduanya baru bertemu lagi 12 tahun setelah sparring di “pelatnas” tinju Amerika itu.

“Holyfield dan saya sudah kenal lama. Kami berteman baik di (pelatnas) yunior Olimpiade. Dia memang selalu mendukung saya saat bertarung dan sebaliknya. Di tinju amatir dia sering kalah di mana semestinya dia bisa menang. Saat kami masih muda, kami takkan menyangka akan berhadapan dan sama-sama mendulang banyak uang,” ujar Tyson dalam otobiografinya, Undisputed Truth.

Holyfield dan Tyson berkawan sejak masa muda di "pelatnas" tinju Amerika, di mana Holyfield berkalung perunggu Olimpiade 1984 (Foto: Instagram @miketyson/@evanderholyfield)

Tyson saat itu belum lama keluar dari penjara akibat kasus pemerkosaan pada 1992. Karena campur tangan Donald Trump, pebisnis yang kini jadi presiden Amerika, Tyson bebas bersyarat pada 1995 meski hakim memvonisnya enam tahun penjara.

Sekembalinya ke atas ring, Tyson merebut sabuk gelar kelas berat WBC setelah menganvaskan Frank Bruno hanya dalam tiga ronde pada Maret 1996. Di tahun yang sama, Tyson sukses meraih gelar WBA pada September setelah menyungkurkan Bruce Seldon lewat kemenangan TKO.

Adapun Holyfield yang sempat pensiun pada 1995, comeback untuk mendaki tangga WBA agar bisa jadi penantang gelar. Debutnya gemilang meski menang lewat keputusan RTD (Referee Technical Decision) atas Bobby Czyz pada Mei 1996.

Baca juga: Presiden Jago Tinju, Gulat Hingga Jiu-Jitsu

Bagi Holyfield, bisa menantang Tyson akan jadi “jalan pintas” untuknya menggapai masa keemasan keduanya. Tak lama setelah melawan Czyz, Holyfield meminta Thomas manajernya untuk mengikat kesepakatan pertarungan dengan Tyson meski saat itu Tyson sudah dijadwalkan bertarung melawan Seldon pada September.

“Dia bilang sangat yakin bisa mengalahkan Tyson jika saya bisa membuat kesepakatan pertarungannya. Saya tanya, kenapa dia berpikir bahwa dia akan mengalahkan petinju berjuluk ‘The Baddest Man on the Planet’ ketika tiada satupun petinju kelas berat top bisa bertahan sekian ronde. Evander mengoreksi saya dan bilang bahwa dia tak berpikir, namun dia tahu akan mengalahkannya,” sambung Thomas.

Holyfield (kanan) saat melawan Bobby Czyz (Foto: boxinghalloffame.com)

Holyfield lantas mengatakan, sejak ia berhadapan dengan Tyson di tinju amatir, ia merasa suatu saat akan kembali berhadapan di arena profesional dan di tahun itu adalah saat yang tepat. Tiada rasa gentar karena Holyfield selalu melihat celah atas keuntungan psikis terhadap Tyson.

“Tiada alasan untuk takut pada Mike Tyson. Dia petinju hebat dan sangat powerful, namun dia hanya manusia seperti saya. Ibu saya mengajarkan hanya takut pada Tuhan. Lagipula saya yakin benar Mike takkan melukai saya separah kakak saya Eloise saat kami kecil. Mike memang punya power yang besar, tetapi begitupun saya,” tutur Holyfield, dikutip Thomas.

Baca juga: Tinju Kiri Ali di Jakarta

Pada April dan Mei 1996, Thomas menjajaki rencana itu dengan promotor kondang Don King. Rencana itu nyaris batal lantaran Don King dianggap Holyfield tak adil dalam pembagian pendapatan pertarungan. Di muka, Don King menawarkan Holyfield mendapat USD5 juta, sementara Tyson USD30 juta dari pertarungan itu.

Negosiasi alot berjalan sampai Don King bersedia menaikkan tawaran USD10 juta untuk Holyfield, serupa dengan yang diterima Seldon ketika melawan Tyson pada September 1996.

Tyson vs Holyfield I pada November 1996 (Foto: Youtube @ElTerribleProductions/Instagram @lesboxeursdudimanche)

Sementara, Holyfield bersikeras setidaknya ia bisa mendapat USD15 juta. Tetapi akhirnya Holyfield sudi menerima USD10 juta dengan opsi rematch jika menang dan akan mendapatkan kenaikan hingga USD20 juta.

Tyson pun tak butuh waktu lama untuk menyatakan kesediaannya meladeni Holyfield. Dia “pede” bisa mengalahkan kawan lamanya itu.

“Holyfield sedang tak dalam performa baik dalam beberapa pertarungan sebelum pertarungan kami. Saya menonton dia saat melawan Czyz dan Czyz benar-benar menghajarnya sebelum dia kalah (dari Holyfield) di ronde kesepuluh. Jadi saya tak latihan serius jelang lawan Holyfield. Saya juga tak menetapkan strategi khusus, sekadar maju dan memukul saja. Lagipula saya diunggulkan 25:1,” kata Tyson mengenang.

Sebaliknya, Holyfield menyiapkan diri dengan sangat serius. Dia merekrut eks-jawara WBA Mike Weaver sebagai asisten pribadi dan eks-jawara WBC David Tua sebagai lawan latih tanding yang punya style bertarung mirip Tyson.

Tandukan Dibalas Gigitan

Pertarungan Tyson vs Holyfield jilid I memperebutkan gelar kelas berat WBA akhirnya dimenangi Holyfield secara TKO di ronde kesebelas. Sesuai kontrak dengan Don King sebelumnya, rematch digelar karena Hollyfield menang.

Tyson sangat menantikan tarung ulang itu lantaran ia merasa dicurangi oleh wasit yang mengabaikan serangkaian tandukan kepala Holyfield. Tim pelatih Tyson juga mencurigai Holyfield menggunakan steroid.

“Croc (Steve ‘Crocodile’ Fitch, red.) yakin bahwa Holyfield mengonsumsi steroid. Salah satu petinju mantan atlet olimpiade Lee Haney juga menggunakannya. Dia bilang Holyfield terlihat normal ketika timbang berat badan namun saat dia masuk ring, dia tampak seperti Goliath,” singkap Tyson.

“Saya ingin melawan Holyfield lagi, saya sangat marah. Walau masih nyeri, saya sudah mulai latihan lagi malam setelah pertarungan. Saya marah mengingat kehilangan gelar, namun saya tak ingin menengok ke belakang,” lanjutnya.

Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi

Tyson vs Holyfield II pada Juni 1997 (Foto: Instagram @mistahprince/@boxinglegacy)

Tyson belajar dari pengalaman sehingga menyiapkan diri dengan lebih serius. Ia beralih pelatih dari Jay Bright ke Richie Giachetti. Meski begitu, di pertarungan itu Tyson harus kembali merelakan gelar WBA gagal direbutnya. Ia dinyatakan kalah lewat keputusan diskualifikasi.

Arena MGM Grand Garden kembali jadi medan pertarungan Tyson Holyfield II, 28 Juni 1997. Di ronde ketiga ketika pertarungan sengit, Tyson berulang-kali terkena tandukan Holyfield. Alhasil pipi dekat mata kanan Tyson sobek. Tiap kali insiden itu terjadi, Tyson protes namun wasit Mills Lane selalu menyatakan tandukan itu tidak disengaja. Tyson yang kesal lantas membalas dengan menggigit kuping kanan Holyfield ketika lawannya kembali “bermanuver” menunduk dan hendak menyundul Tyson lagi.

“Saya akan melakukannya lagi jika terprovokasi dan sedang berada dalam situasi yang sama. (Wasit) Mills Lane tak melindungi saya dari tandukan-tandukan Holyfield,” ketus Tyson.

Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather

Telinga kanan Holyfield setelah digigit Tyson (Foto: Instagram @evanderholyfield)

Holyfield yang mengerang kesakitan berlari ke sudut ringnya dan dikejar Tyson. Ketika wasit sukar memisahkan Tyson, petugas keamanan pun naik ring untuk melerai keributan dan pertarungan dihentikan. Holyfield dinyatakan menang lewat putusan diskualifikasi dan Tyson disanksi larangan bertarung serta denda USD3 juta oleh Nevada State Athletic Commission, walau setahun kemudian sanksi itu dicabut.

“Tetapi itu sudah berlalu. Hari-hari berikutnya sangat hebat. Saya juara dunia yang mendapat penghasilan USD33 juta. Jeleknya memang kuping saya jadi berbentuk runcing walau tentu ada hikmah di balik itu,” ujar Holyfield.

Namun seiring keduanya pensiun dari tinju profesional, tiada rasa dendam di benak masing-masing legenda tinju dunia itu. Terlebih pada 16 Oktober 2009 dalam program TV “The Oprah Winfrey Show”, Tyson meminta maaf secara langsung pada Holyfield dan Holyfield dengan tulus memaafkan Tyson.

Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat

TAG

tinju olahraga

ARTIKEL TERKAIT

Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga Chris John Antara Tinju dan Wushu Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian II – Habis) Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian I) Pencarian Islam Muhammad Ali Potret Apresiasi Terhadap Pahlawan Olahraga Dulu dan Kini Membidik Sejarah Olahraga Menembak Ambiguitas Gender Pada Atlet Sudut Ring Leon Spinks Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan