Masuk Daftar
My Getplus

Jimmy Greaves Sang Predator Gol

Pembunuh berdarah dingin Inggris di kotak penalti lawan. Dikenang dan dihormati sampai ke Italia.

Oleh: Randy Wirayudha | 21 Sep 2021
Ilustrasi (Betaria Sarulina/Historia)

PARA pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea mengelilingi lingkaran tengah lapangan. Sekira 60 ribu penonton juga berdiri dari tempat duduk mereka. Setelah layar besar Stadion White Hart Lane, markas Spurs, menampilkan foto pemain legendaris Jimmy Greaves, gemuruh aplaus penonton mengikuti selama satu menit jelang kick off derby London di matchday kelima Premier League, Minggu petang (19/9/2021).

Penghormatan itu diberikan kedua tim rival sekota itu untuk mengenang Greaves yang wafat pada Minggu paginya di usia 81 tahun. Greaves wafat dalam tidurnya di kediamannya di Essex, Inggris, karena kesehatannya yang terus menurun. Sejak 2015, mendiang Graves menderita stroke yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara.

Chelsea dan Spurs adalah dua klub yang punya sejarah bagi Graves semasa hidupnya. Di Chelsea, Greaves memulai debut profesionalnya dan di Spurs, ia menorehkan namanya sebagai salah satu juru gol tersubur di masanya dengan membukukan 220 gol dalam 321 penampilan.

Advertising
Advertising

“Jimmy adalah pemain dan pencetak gol luar biasa dan seorang legenda untuk klub dan negara ini. Sungguh mengerikan untuk membayangkan betapa hebatnya dia sebagai pemain. Bagi seseorang seperti saya melihat jumlah golnya dan mungkin suatu hari saya bisa memecahkan rekornya akan sangat hebat,” kata Harry Kane, kapten Spurs yang kini baru mengumpulkan 166 gol, dilansir Sky Sports, Senin (20/9/2021).

Baca juga: Obituari: Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller

Bukan hanya Chelsea, Spurs, dan segenap insan sepakbola Inggris yang merasa kehilangan. Tim AC Milan di Italia pun turut berduka. Walau hanya semusim, Greaves turut mengantar Rossoneri (julukan AC Milan) memenangi Serie A pada 1961-1962.

“Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya mantan pemain kami Jimmy Greaves. Hati dan simpati kami bersama teman, kerabat, dan keluarga tercinta yang tengah berduka. Walau kebersamaan kami tidak panjang, kami akan mengenangnya selamanya. Selamat jalan, Jimmy,” tulis manajemen klub di akun Twitter-nya, @acmilan, Minggu (19/9/2021).

Tribute para pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea untuk mendiang Jimmy Greaves (chelseafc.com)

Tujuh Gol

Dilahirkan di Manor Park, Essex, pada 20 Februari 1940, James Peter Greaves merupakan satu dari tiga bersaudara anak pasangan Jim dan Mary Greaves. Jim seorang pegawai kereta bawah tanah dan Mary ibu rumah tangga. Greaves kecil dan keluarganya harus beberapa kali pindah tempat tinggal karena serangan-serangan udara Jerman di masa Perang Dunia II.

“Enam pekan setelah saya lahir pesawat-pesawat pembom (Adolf) Hitler mengunjungi jalan-jalan tempat tinggal kami. Lalu kami pindah ke Ivy House Road, Dagenham sampai saya berusia 10 tahun. Jendela rumah kami tetap harus ditutupi kertas menyilang demi menghindari pembom-pembom Jerman,” kenang Greaves dalam otobiografinya, Greavsie.

Baca juga: Obituari: Gordon Banks Sang Penyelamat

Bagi anak-anak miskin seusia Greaves saat itu, hiburan yang bisa diminati hanya sepakbola dan kriket. Greaves lebih tertarik pada sepakbola karena pamannya mantan pesepakbola walau gagal mencapai prestasi terbaik.

“Paman saya pemain yang sangat berbakat dan pernah ditawari trial oleh West Ham United. Sayangnya kemudian ia mengalami cedera yang mengakhiri kariernya. Saya sendiri gila sepakbola. Saya bisa berjam-jam menendang bola tenis di halaman belakang. Bersama teman-teman di Ivy House Road, kami biasa bermain di jalanan dengan bola tenis itu sampai bolanya botak,” imbuhnya.

Kolase Jimmy Greaves kecil (Twitter @Neiltruechels)

Di usia 10 tahun, Greaves harus pindah ke Huntsman Road di Hainault, sebuah distrik di timur laut London, karena ayahnya dimutasi. Selama lima tahun berikutnya Greaves bermain di level sekolah. Jelang lulus, ayahnya dibantu seorang teman menyiapkan pekerjaan sebagai penyusun huruf mesin cetak di suratkabar The Times buat Greaves.

Namun “semesta” punya rencana lain bagi Greaves. Di saat yang sama pada medio 1955 itu, seorang pemandu bakat Chelsea FC, Jimmy Thompson, mendatangi rumahnya. Thompson terkesan dengan bakat Greaves dan ingin menyalurkannya ke tim muda Chelsea.

“Jimmy Thompson kemudian mengundang Jimmy (Greaves) dan ayahnya untuk minum teh di Strand Palace Hotel. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Jimmy menandatangani surat-surat kontrak dengan Chelsea walau ayahnya keberatan,” tulis Colin Shindler dalam Four Lions: The Lives and Times of Four Captains of England.

Baca juga: Obituari: Jack Charlton yang Acap Bikin Kiper Berang

Greaves yang digaji tiga poundsterling per pekan dan tunjangan akomodasi dua pounds tak langsung masuk tim utama asuhan Ted Drake. Drake baru mengetahui talenta Greaves setelah Greaves enam bulan tampil di tim yunior The Blues (julukan Chelsea). Itupun gara-gara Greaves mencetak tujuh gol di sebuah pertandingan di kompetisi South East Counties League.

Dalam semusim itu, Greaves punya koleksi 122 gol. Greaves mengenang bagaimana percakapan mereka di sebuah lahan kecil latihan di belakang gawang Stadion Stamford Bridge pada suatu Senin pagi di tengah musim 1956-1957.

“Saya dengar kamu mencetak tujuh gol Sabtu lalu, nak,” kata Drake.

“Ya, Tuan Drake,” jawab Greaves.

“Apa kamu tahu Aku pernah mencetak tujuh gol juga, nak?”

“Ya, Tuan Drake. Semua orang tahu tentang tujuh gol Anda di Villa (Aston Villa 7-1 Arsenal, Desember 1953, red.).”

“Mencetak tujuh gol dalam satu laga adalah kejadian yang sangat, sangat langka. Kenanglah, nak. Kenanglah selamanya. Kamu akan selalu punya kenangan terhebat untuk diingat kembali di masa depan,” kata Drake sambil menepuk pundak Greaves.

Chelsea jadi klub profesional pertama Jimmy Greaves (chelseafc.com)

Predator Kotak Penalti

Musim 1957-1958 jadi ajang pembuktian Greaves sebagai predator haus gol. Ia dipromosikan ke tim utama Chelsea. Debutnya di First Division (kini Premier League) dilakukan pada 24 Agustus 1957, saat Chelsea bertandang ke White Hart Lane. Dalam laga pembuka liga itu Greaves langsung dipasang jadi starter.

Keputusan Drake tak keliru. Greaves meninggalkan kesan positif dengan menyelamatkan Chelsea dari kekalahan lewat golnya yang membuat kedudukan menjadi 1-1. Penyerang muda itu segera mencuri perhatian publik Inggris dan senantiasa dipercaya jadi pemain utama di starting eleven.

Baca juga: Kerikil Bernama Nobby Stiles

Kendati Chelsea hanya bertengger di posisi 11 klasemen akhir musim, Greaves mulai dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin di kotak penalti dengan torehan 22 gol dari 37 penampilan. Tak ayal di tahun yang sama ia sudah dipanggil ke timnas Inggris. Gol perdananya bersama timnas dicetak dalam debutnya kala Inggris menghadapi Peru dalam tur Amerikanya. Laga pada 17 Mei 1959 itu dimenangkan Peru 4-1.

“Saya tak tahu kenapa tapi selalu mudah bagi saya, di mana mencetak gol jadi hal yang natural. Saya tak pernah merasakan tensi, ketegangan urat syaraf, atau tekanan apapun. Saya tak pernah kekurangan kepercayaan diri. Beberapa orang bilang saya sangat dingin di kotak penalti dan mereka mengira pembuluh darah saya dialiri es. Sebenarnya saya tak pernah emosional dan tak seperti pemain lain yang selalu cemas saat gagal mencetak gol. Karena saya yakin peluang akan datang lagi dengan lahirnya gol,” sambung Greaves.

Jimmy Greaves (berdiri, ketiga dari kanan) di skuad AC Milan (EDI Milano Card 1961)

Greaves bertahan di Chelsea sampai April 1961. Talentanya dilirik klub AC Milan. Torehan 125 gol dari 157 penampilannya di Chelsea membuat Milan memberi mahar 80 ribu pounds kepada Chelsea. Greaves juga diberi bonus penandatanganan kontrak senilai 15 ribu pounds dan gaji 140 pounds per pekan.

Namun, Greaves tak kerasan di Italia. Bagi Greaves, Milan ibarat pelarian dari tragedi yang menimpa dirinya dan istrinya, Irene.

“Di tahun 1961 putra pertamanya, Jimmy Jr., meninggal karena pneumonia di usia empat bulan. Kematiannya mengantui dirinya dan istrinya Irene sepanjang hidupnya. Jimmy awalnya tak yakin untuk pindah tapi Milan begitu gigih. Pindah ke Italia untuk Jimmy dan Irene seperti cara terbaik untuk keluar dari rasa sakit akibat kematian putra mereka,” ungkap Norm Parkin dalam Legends and Rebels of the Football World.

Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi!

Greaves hanya bertahan enam bulan berseragam merah-hitam AC Milan. Banyak faktor yang membuatnya tak betah. Selain culture shock dan homesick, dia tak kuat dengan kedisiplinan ekstra ketat yang diterapkan pelatih Nereo Rocco.

Rutinitas dan kedisiplinan latihannya sangat ketat dengan hanya sedikit kebebasan pribadi bagi para pemain. Waktu untuk keluarga hanya sedikit. Rocco juga melarang pemainnya merokok dan menenggak minuman keras. Suatu waktu, itu jadi masalah buat Greaves karena ketahuan minum bir. Dia langsung jadi sasaran kritik pedas media-media Italia.

Calcio (sepakbola, red.) juga masih asing bagi Greaves. Ia syok dengan cara Rocco selalu membentak pemainnya ibarat instruktur militer. Sistem permainan Rocco kemudian juga tak berhasil, di mana Greaves yang dipasangkan dengan (José) Altafini tak dimainkan jadi penyerang out-and-out sebagaimana mestinya. Greaves selalu diperintahkan bermain lebih ke belakang atau melebar ke kanan-kiri,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History if Italian Soccer.

Karier puncak Jimmy Greaves diraih semasa berseragam Spurs (tottenhamhotspur.com)

Walau sampai akhir musim Greaves menorehkan sembilan gol dari 12 laga, manajemen Milan memutuskan akan menjual Greaves kembali. Chelsea bersedia memulangkannya dengan tawaran mahar 96 ribu pounds. Tetapi manajer Spurs, Bill Nicholson, tak ingin kalah dengan tawaran 99.999 pounds.

“Milan awalnya membuka harga 100 ribu pounds. Bill keukeuh di angka 99.999 pounds dengan mengatakan: ‘Saya menolak membuatnya pesepakbola pertama yang bernilai 100 ribu pounds karena akan jadi beban baginya dan beberapa rival kami sudah mengkritik karena tawaran tinggi kami,’” singkap Brian Scovell dalam Bill Nicholson: Football’s Perfectionist.

Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali

Milan pun berkenan melepasnya ke Nicholson. Dimulailah “romantika” Greaves dengan Spurs. Greaves tetap tajam saat pulang ke Inggris. Di laga debutnya bersama Spurs pada 16 Desember 1961, Greaves mencetak hattrick dalam kemenangan 5-2 atas Blackpool.

Sepanjang membela Spurs (1961-1970), Greaves jadi pencetak gol tersubur klub dengan 220 gol dalam 321 laga. Gol-golnya sangat berperan besar dalam kesuksesan Spurs menjuarai FA Cup (1961-1962 dan 1966-1967) dan Piala Winners Eropa (1962-1963).

Jimmy Greaves mengoleksi 44 gol dari 57 caps di Timnas Inggris (englandfootball.com/fifa.com)

Greaves pun kembali jadi andalan pelatih Alf Ramsey di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966. Di babak grup, Greaves selalu jadi starter. Namun di laga terakhir grup melawan Prancis, Greaves mengalami cedera tulang kering.

Alhasil pada perempatfinal hingga final, posisinya digantikan Geoff Hurst. Padahal saat Inggris sudah memijak semifinal, Greaves mengaku sudah pulih. Namun Ramsey menolak mengganti lagi skuadnya, termasuk Hurst. Maka di balik euforia kemenangan di final, terdapat perasaan getir di dalam batin Greaves.

“Saya ikut menari di lapangan bersama semua anggota tim tapi bahkan di momen kebahagiaan ini, jauh di lubuk hati saya merasakan kesedihan. Sepanjang karier saya sebagai pemain, saya selalu memimpikan tampil di final Piala Dunia. Saya melewatkan laga sekali seumur hidup itu dan sakit sekali rasanya,” aku Greaves.

Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena

Lebih menyakitkannya, Greaves tak kebagian medali pemenang Piala Dunia. Saat  itu FIFA hanya mengalungi medali untuk 11 pemain yang tampil. FA (Induk sepakbola Inggris) baru berhasil mengajukan medali bagi semua pemain, cadangan maupun starter, pada 2009. Greaves yang menorehkan 44 gol selama 57 kali membela timnas akhirnya menerima medali yang sudah menjadi haknya.

Greaves gantung sepatu pada 1980. Setelah dilepas Spurs pada 1970, ia wara-wiri ke klub-klub medioker macam West Ham United (1970-1971), Brentwood (1975-1976), Chelmsford City (1976-1977), Barnet (1977-1979), dan Woodford Town (1979-1980).

Ia juga makin parah kecanduan alkohol. Saat mulai sembuh dari kecanduannya di pengujung kariernya, Greaves mulai menata hidup. Tak lama setelah gantung sepatu, Greaves belajar jadi kolumnis di suratkabar The Sun dan The Sunday People. Perlahan ia juga mulai merintis karier jadi sportscaster di ITV, dan bertahan sampai 2012. Di tahun itu ia mulai kena stroke ringan dan terserang stroke berat tiga tahun berselang yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara.

Setelah gantung sepatu, Greaves merambah dunia broadcasting (whufc.com/thefa.com)

TAG

obituari inggris sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Eddy Gombloh Kawan Tentara Memulangkan Artefak Kuno Yunani dari Genggaman Inggris Jejak Nelson Mandela di Indonesia Sepakbola Gajah dalam Piala AFF Piala AFF Perdana yang Ternoda Bob Tutupoly Tutup Usia Tjahjo Kumolo Meninggal Dunia Rima Melati Telah Pergi Santiago Bernabéu "Bapak Real Madrid" Massa Melinggis Kedubes Inggris