Masuk Daftar
My Getplus

Memuja Dewi Cinta Mesopotamia

Ketika cinta dan perang bersatu dalam sosok dewi cinta paling awal di dunia kuno.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 14 Feb 2021
Segel Akkadia dengan sosok Dewi Ishtar (Inanna) bersenjata, memakai mahkota bertanduk, dan menginjak singa yang diikat. (Wikipedia).

Ishtar atau Inanna adalah salah satu dewi paling populer dari jajaran dewa-dewi Peradaban Mesopotamia. Ia merupakan dewi cinta paling awal di dunia kuno yang sering kali dipandang raja-raja Mesopotamia sebagai jalan legitimasi status mereka.

Ishtar adalah nama yang diberikan oleh bangsa Akkadia, salah satu bangsa yang mendiami kawasan Mesopotamia. Sementara bangsa Sumeria yang juga mendiami kawasan itu memanggilnya dengan Inanna. 

Advertising
Advertising

Selain dipercaya sebagai dewi cinta dan kesuburan, Ishtar atau Inanna di beberapa daerah juga dianggap sebagai pelindung para pekerja seks. Di sisi lain, ia juga dianggap sebagai dewi perang.

“Ada penggambaran Ishtar atau Inanna sebagai seorang pejuang dalam pertempuran membawa tawanan,” tulis Louise Pryke, dosen Bahasa dan Sastra Israel Kuno di Macquarie University, Australia, sekaligus peraih gelar Ph.D Sejarah Timur Dekat Kuno dari University of Sydney, dalam “Friday essay: the legend of Ishtar, first goddess of love and war” di laman The Conversation

Baca juga: Di Balik Kematian Cleopatra

Citra Ishtar atau Inanna itu kemudian berpengaruh pada lahirnya dewi cinta paling terkenal di dunia, yakni Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan dari Yunani. “Dalam tradisi modern, Aphrodite membentuk citra pahlawan super Wonder Woman, dan citra Aphrodite sendiri dipengaruhi oleh Ishtar,” tulis Pryke.

Baik Ishtar maupun Wonder Woman, lanjut Pryke, sama-sama merepresentasikan pejuang di medan perang. Mereka digambarkan mengenakan gelang dan tiara dan mengacungkan senjata tali. Di sisi lain menunjukkan cinta, kesetiaan, dan komitmen yang kuat terhadap keadilan.

“Di zaman modern, cinta dikatakan menaklukkan segalanya dan di dunia kuno Ishtar mewujudkan hal itu,” catat Pryke.

Simbol Persatuan Bangsa

Mesopotamia yang berarti “tanah di antara sungai-sungai” dalam bahasa Yunani Kuno, merupakan pusat peradaban paling awal di dunia. Kawasan ini merupakan lahan subur yang berada di antara dua aliran sungai besar, Sungai Eufrat dan Tigris. Yang menghuni adalah orang-orang Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asiria. Kini, kira-kira wilayahnya sama dengan Irak modern, sebagian Iran, Suriah, Kuwait, dan Turki. 

Sebagai dewi Mesopotamia yang paling terkenal, Ishtar dihormati di seluruh jangkauan geografis Timur Dekat Kuno yang luas selama ribuan tahun. Dia bukan sekadar dewi cinta, tapi juga dewi kesuburan, perang, dan bintang senja dan pagi: bintang Venus.

Kultus Ishtar atau Inanna yang berkembang dan menyebar ke seluruh wilayah Timur Dekat Kuno dimulai sejak munculnya Kekaisaran Akkadia yang didirikan oleh Sargon, raja dari Akkadia. 

Baca juga: Mumi Berlidah Emas dari Mesir

Mengutip History, Sargon memperluas kerajaannya melalui serangkaian serangan militer hingga menaklukkan seluruh Sumeria. Ia tidak hanya menyatukan Sumeria dan Akkadia, tetapi memperluas kerajaannya hingga ke Suriah, Fenisia, Kanaan, Anatolia, bahkan hingga Siprus. Dengan gelar Sargon Agung, ia lalu membentuk Kekaisaran Akkadia (2234–2154 SM), kerajaan multikultural pertama di dunia dengan pemerintah terpusat.

Sejarawan Jennette Adair dalam tesisnya di University of South Africa berjudul "Certain Aspects of the Goddess in the Ancient Near East (10.000–330 BCE)" menjelaskan, bersama dengan pembentukan Kekaisaran Akkadia, bahasa tertulis Sumeria digunakan. Sementara Akkadia menjadi bahasa resmi. 

“Oleh karena itu Dewi Inanna dikenal dengan nama Akkadia-nya, Ishtar,” tulis Adair. 

Baca juga: Di Balik Kutukan Makam Firaun

Menurut Adair, bagi Sargon, Inanna dan Ishtar adalah landasan teologis yang dapat menstabilkan persatuan Kerajaan Sumeria dan Akkadia. “Raja-raja Akkadia percaya mereka adalah kekasih Ishtar dan kesuksesan mereka dikaitkan dengan sang dewi,” lanjut Adair. 

Selama masa pemerintahan Sargon, di mana pun pengaruhnya ada, maka peran Ishtar akan menonjol. Ketika pengaruh Ishtar menyebar lebih jauh ke Barat, menyebar ke negara lain, namanya terus diubah agar sesuai dengan bahasa budayanya. Misalnya, Ashtarte atau Ashart yang dikenal oleh budaya Fenisia dan Astoreth pada orang-orang Kanaan.

Setelah Kekaisaran Akkadia, timbulah Dinasti Ur III (2100–2000 SM). Selama periode ini terjadi kebangkitan budaya, sastra, dan bahasa Sumeria. 

Lalu selama era Babilonia berikutnya (1750 SM), nyanyi-nyanyian dan mitos kembali ditulis dalam bahasa Akkadia. Peran Inanna pun tetap sama, walaupun ia dikenal dengan nama Ishtar.

 Gerbang Ishtar di sisi utara kota Babilonia yang dibangun pada sekira 575 SM atas perintah Raja Nebukadnezar II. (Focus and Blur/Shutterstock).

Kedudukan Perempuan

Pada masa kekuasaan Babilonia, khususnya setelah pembentukan Kekaisaran Babilonia Lama di bawah Hammurabi (1750 SM), ideologi agama berubah signifikan. Dewi agung dibayangi oleh sosok dewa tertinggi. 

“Ini yang akan mengubah paradigma umum kesadaran dalam teologi dan ideologi di kawasan Timur Dekat Kuno,” jelas Adair.

Alasan perubahan ini sebenarnya sulit untuk didefinisikan. Namun, ini adalah proses bertahap yang dimulai menjelang akhir Zaman Perunggu. 

“Pada akhir milenium ke-2 SM, kosmos didominasi oleh dewa laki-laki, dengan hanya Ishtar yang mempertahankan posisi kekuasaannya,” lanjut Adair. 

Baca juga: Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban

Adair menduga, perubahan itu mungkin cerminan status sosial perempuan yang mulai menurun. Kekuatan perempuan dalam masyarakat berkurang. Demikian pula dengan peran mereka dalam agama. 

Dengan munculnya negara-bangsa melawan negara kota yang lebih kecil, ada kebutuhan bagi pahlawan atau raja untuk memimpin dan melindungi. Ini juga merusak peran publik dan sosial perempuan.

Maka, dunia pada akhir milenium ke-2 pun tak lagi memandang dewi sebagai pelindung terkuat kehidupan manusia. Penduduk desa, kota, dan negara merasa bahwa dewa laki-laki akan lebih kuat dan lebih mampu melindungi mereka dan tanah mereka. 

“Hal ini khususnya terjadi pada periode Asiria (934–608 SM), status perempuan baik dalam peran pribadi maupun publik menurun,” kata Adair. 

Namun Ishtar, dengan semua versi namanya, tidak pernah kehilangan pengaruh. “Kita dapat melihat bagaimana kepercayaan orang Kanaan, Fenisia, dan Israel mencerminkan dewi ibu,” lanjutnya.

"Burney Relief" diyakini mewakili Ishtar dari sekira abad ke-19 atau ke-18 SM. Sepasang singa terlihat di kakinya. (Wikipedia).

Di Luar Peran Domestik Perempuan

Begitulah Ishtar, di Mesopotamia disembah selama lebih dari 3.500 tahun dalam berbagai perannya. Sebagai dewi cinta, Ishtar tak hanya dihubungkan dengan cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, cinta antarmasyarakat, dan cinta seksual. 

Sementara di medan perang, Ishtar adalah dewi cinta yang menakutkan. Pemujanya percaya kalau sang dewi memiliki kekuatan untuk menentukan nasib dan memastikan kemenangan dalam peperangan.   

“Kecantikannya adalah subyek puisi cinta, dan amarahnya diibaratkan badai yang merusak,” kata Pryke. “Tetapi dalam kapasitasnya untuk membentuk takdir dan keberuntungan, dua citra itu berada di dua sisi dari mata uang yang sama.”

Baca juga: Mengintip Isi Dapur Firaun

Ishtar digambarkan sebagai sosok yang baik dan peduli. Namun, ada keganasan yang kejam dalam kepribadiannya.

Ishtar digambarkan dengan sifat pengasuh. Namun, ia bisa jadi liar dan sering menyebabkan kekacauan sosial.

“Ini adalah paradoks sifatnya yang menggabungkan dasar-dasar keteraturan dan ketidakteraturan,” lanjut Pryke. 

Rivkah Harris dalam “Inanna-Ishtar as Paradox and a Coincidence of Opposites” yang terbit dalam History of Religions (1991) mencatat kendati Inanna-Ishtar adalah seorang istri dan ibu, keduanya tidak memiliki arti penting dalam mitologinya. Doa, himne, mitos yang dikenal mengumandangkannya sebagai dewi di arena publik yang punya kuasa dan ketenaran. 

“Dia tidak terlibat dalam kegiatan feminin seperti menenun dan mengasuh anak. Peran dewi pejuang menempatkannya di luar wilayah domestik perempuan,” jelas Harris.

Baca juga: Ketika Firaun Keliling Dunia

Berkali-kali teks menekankan kehausan darahnya, kecintaannya pada perang dan pembantaian. Kisah-kisah tentangnya berbunyi: “Pertempuran adalah pesta untuknya”, “Dia mencuci alat dengan darah pertempuran”, “Dia membuka pintu pertempuran”, dan lain sebagainya. 

Pada saat yang sama, kasih sayang Inanna-Ishtar untuk raja-raja Mesopotamia berulang kali dicatat. Itu seperti: “Dia (Ishtar) memelukmu dengan baik (seperti anak kecil)”, “Dalam dadanya yang penuh kasih dia memelukmu dan melindungi seluruh sosokmu”.

Secara khusus, singa selalu dikaitkan dengan Ishtar. “Dia adalah satu-satunya dewi yang memiliki julukan singa (labbatu) dengan keganasan dan kekuatannya yang mengamuk itu memang julukan yang pas,” tulis Harris.

TAG

mesopotamia cinta seksualitas

ARTIKEL TERKAIT

Riwayat Homofobia Mengorek Ngondek Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno Mengenal Sosok Dewi Cinta Mesopotamia Kisah Romansa Masa Lalu Cinta dan Kebahagiaan Sejati dalam Kamasutra Puisi Cinta Soe Hok Gie Sharon Stone dalam Bayang-bayang Simbol Seks Di Balik Perilaku Seks Para Raja Datang ke Medan Terjerat Pelacuran