Masuk Daftar
My Getplus

Kurt Waldheim Mantan Nazi jadi Sekjen PBB

Kalah di Pilpres Austria, Kurt Waldheim malah menang di pemilihan Sekjen PBB. Namun bau anyir masa lalunya sebagai eks-Nazi senantiasa mengikuti.

Oleh: Randy Wirayudha | 17 Mei 2024
Sekjen PBB ke-4 Kurt Josef Waldheim yang menjabat periode 1972-1981. (loc.gov).

SEPANJANG masa jabatannya sebagai sekretaris-jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) kurun 1972-1981, Kurt Waldheim asal Austria menangani beragam isu. Mulai dari hukum laut, mempromosikan kerjasama perdagangan negara-negara berkembang, hingga kekerasan Israel di Palestina. Meski begitu, masa lalunya selalu dipersoalkan.

Waldheim masuk jadi kandidat sekjen PBB pada Juni 1971 atau dua bulan setelah ia kalah dalam Pemilihan Presiden (pilpres) Austria pada April 1971. Dalam pemilihan sekjen PBB di Dewan Keamanan (DK) sepanjang 17-20 Desember 1971, Waldheim hanya menerima 11 dari total 15 suara, sementara pesaingnya dari Argentina, Carlos Ortiz de Rozas mendapat 12 dari total 15 suara. Akan tetapi perolehan suara De Rozas di-veto Uni Soviet hingga DK PBB memutuskan sekjen yang baru suksesor U Thant adalah Waldheim.

Selama delapan tahun menjabat sekjen PBB, Waldheim mendorong banyak agenda. Di antaranya UNCTAD (Konferensi PBB untuk Perdagangan Negara-Negara Berkembang) dan Konferensi PBB untuk Lingkungan pada 1972 yang melahirkan UNEP (Program Lingkungan PBB), Konferensi Pangan Dunia 1974, hingga mengecam diskrimasi rasial dan kekerasan Israel di Palestina. Kecaman tersebut direalisasikan dengan Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyebutkan Zionisme adalah bentuk rasisme yang tak ubahnya sistem apartheid di Afrika Selatan. Namun pada 1991 di era Sekjen PBB Javier Pérez de Cuéllar asal Peru, resolusi itu dicabut via Resolusi 46/86 atas desakan Israel dan Amerika Serikat.

Advertising
Advertising

Waldheim juga dikenal turut mengecam Operasi Entebbe (7 Juli 1976) di mana pasukan Israel menyusup ke Uganda untuk menghentikan penyanderaan. Ia menyatakan bahwa operasi Israel itu pelanggaran serius terhadap kedaulatan nasional Uganda yang merupakan salah satu anggota PBB.

Yang menarik dari Waldheim, sepanjang menjabat sekjen PBB masa lalunya terkait Nazi di Perang Dunia II nyaris tak pernah mengemuka. Di Austria sendiri sebelum Waldheim kembali mencalonkan diri ke Pilpres Austria 1986, isu-isu sensitif itu tak banyak jadi polemik. Seolah Austria sudah berdamai dengan masa lalu di era Kanselir Bruno Kreisky (1970-1983) yang berdarah Yahudi.

“Mayoritas politisi Austria mengklaim kesuksesan (politisi) Yahudi di ‘Era Kreisky’ membuktikan masyarakat Austria sudah berdamai dengan masa lalu. Kreisky juga tak pernah tertarik perihal pemeriksaan yang kritis periode Nazi (di Austria) dan bahkan cenderung mencegahnya. Kebanyakan masyarakat Austria juga punya pandangan serupa. Dalam sebuah survei pada 1985, sebanyak 57 persen orang Austria memilih untuk tidak membicarakan kejahatan Perang Dunia II dan hanya 27 persen yang ingin terus mengusutnya,” ungkap David Art dalam The Politics of the Nazi Past in Germany and Austria.

Baca juga: Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi

Masa Lalu yang Viral

Lahir di tengah keluarga kelas menengah pada 21 Desember 1918 di Sankt Andrä-Wördern, Austria, Kurt Josef Waldheim menikmati kehidupan dan pendidikan yang laik sejak tingkat dasar. Ia tumbuh dengan mencanangkan cita-cita sebagai diplomat karena merasa supel dalam bergaul dan pandai beberapa bahasa ketimbang menuruti orangtuanya untuk studi medis gegara ia jijik setiap melihat darah.

Waldheim kemudian mendaftarkan diri ke wajib militer Angkatan Darat (AD) Austria selama 12 bulan demi memenuhi syarat menjadi pegawai pemerintah. Setelahnya, melanjutkan studi pascasarjana hukum internasional dan diplomasi dengan beasiswa di Diplomatische Akademie Wien. Tetapi pasca-aneksasi Jerman Nazi terhadap Austria pada 1938 disusul persekusi kaum Yahudi, Waldheim mengambil jalan berbeda dari keluarganya.

Menurut Robert Edwin Herzstein dalam Waldheim: The Missing Years, keluarga Waldheim aslinya dari Ceko. Ayahnya, Walter Václavic, mengubah namanya jadi “Waldheim” untuk melancarkannya mendaki jabatan sebagai anggota dewan penasihat pendidikan Distrik Tulln.

Baca juga: Pangeran Bernhard, dari Partai Nazi hingga Panglima Belanda

Walter yang juga aktif di Christlichsoziale Partei (Partai Sosial Kristen) justru menentang aneksasi Adolf Hitler terhadap Austria hingga ia sempat ditahan Gestapo (polisi rahasia Nazi). Bedanya, Waldheim justru memilih berdiri di bawah simbol swastika. Pada 1 April 1938 atau dua pekan pasca-Hitler menganeksasi Austria, Waldheim masuk ke NSDStB atau Liga Pelajar Nasional Sosialis Jerman dan sayap paramiliter Partai Nazi, Sturmabteilung (SA).

“Hal ini diungkapkan (Robert) Herzstein dari arsip AD Jerman bahwa Waldheim bergabung ke Liga Pemuda Nazi tapi kemudian Waldheim membantahnya dengan mengatakan ia hanya sempat ikut wajib militer di AD Austria pada 1937 sebelum masuk ke akademi diplomat,” tulis Stanley Meisler dalam United Nations: A History.

Pada 1985, empat tahun pasca-menyelesaikan masa jabatannya sebagai sekjen PBB, Waldheim akhirnya membuat pengakuan baru via memoarnya, In the Eye of Storm. Dalam memoarnya itu, Waldheim menguraikan keterlibatannya sebagai perwira rendah AD Jerman di front Timur semasa Perang Dunia II.

Dengan pengalamannya di AD Austria, Waldheim masuk ke AD Jerman pada awal 1941 dengan pangkat oberleutnant (setara letnan satu). Sebagai pemuda terpelajar, Letnan Waldheim ditugaskan sebagai staf di Heeresgruppe E (Grup E AD Jerman) yang ia akui sekali pun tak pernah terlibat dalam pertempuran. Pun dalam memoarnya, ia mengaku hanya terlibat di front Balkan hingga 1942 karena sempat terluka. Setelah itu ia dibebastugaskan sampai akhirnya memilih melanjutkan studinya.

Oberleutnant Kurt Waldheim (kedua dari kiri) saat di Montenegro medio 1943 (New York Times, 4 Maret 1986)

Namun, penelusuran lebih jauh oleh beberapa akademisi menyibak fakta-fakta baru bahwa keterlibatan Waldheim di Perang Dunia II tak sedangkal pengakuannya dalam memoarnya. Sejumlah fakta baru itu muncul seiring Waldheim maju lagi ke Pilpres Austria 1986 yang berhasil ia menangkan. Temuan-temuan baru tetap mengusik sang presiden Austria periode 1986-1992 itu sampai akhir hayatnya.

Sebelum terbitnya buku Herzstein pada 1988 dengan temuan-temuan arsip AD Jerman terkait kiprah Waldheim, World Jewish Congress (WJC) telah melakukan investigasinya pada 1986 dengan hasil laporan yang dibukukan pada tahun yang sama, Kurt Waldheim’s Hidden Past: An Interim Report to the President, World Jewish Congress. Laporannya menjadi viral setelah dimuat di suratkabar The New York Times dalam beberapa edisi.

Maka terungkaplah sepak-terjang Waldheim sepanjang 1942-1945 di Balkan, utamanya di medan Yugoslavia. Disebutkan, berturut-turut Waldheim menjadi perwira penghubung merangkap penerjemah di bawah pasukan gabungan Divisi Alpen ke-5 Italia di Pljevlja (Maret-Juni 1942), asisten ajudan staf umum Kampfgruppe West (Grup Tempur Barat) di Bosnia (Juni-Agustus 1942), penerjemah merangkap staf penghubung di AD Italia ke-9 di Tirana (musim panas 1942), asisten ajudan staf umum kantor operasi Grup AD Selatan di Yunani (Juli-Oktober 1943), dan asisten ajudan kantor intelijen AD Grup E di Arsakli dan Sarajevo (Oktober 1943-Februari 1945).

“Dokumen-dokumen yang dirilis WJC mengidentifikasi ia (Waldheim) sebagai perwira intelijen yang bertanggungjawab menginterogasi tawanan perang Sekutu dan menyelidiki kesetiaan sesama para perwira intelijen. Salah satu dokumen itu juga menyisipkan suratkabar lokal Belgrade yang memberitakan Waldheim masuk dalam daftar pencarian penjahat perang atas dugaan keterlibatannya pada pembunuhan, pembantaian, penembakan sandera, serta penjarahan dan pembakaran permukiman,” ungkap Richard Mitten dalam The Politics of Antisemitic Prejudice: The Waldheim Phenomenon in Austria.

Baca juga: Jejak Nazi di Ukraina

Waldheim menyangkalnya. Mengutip Time edisi 7 April 1986, Waldheim menyatakan hasil laporan itu adalah hoaks dengan niat jahat. Ia mengakui bahwa ia jadi saksi adanya pembantaian sebagai tindakan balasan atas serangan-serangan milisi Partisan pimpinan Josip Broz Tito tapi ia mengklaim sama sekali tak terlibat.

“Ya, saya tahu (pembantaian terhadap partisan). Tapi apa yang bisa saya lakukan? Pilihannya hanya tetap bertugas atau dieksekusi,” ujar Waldheim membela diri.

Terlepas dari Waldheim yang mendapat pembelaan dari Kanselir Kreisky yang juga berdarah Yahudi, pada 27 April 1987 Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) menggelar investigasi pula. Hasilnya, “In the Matter of Kurt Waldheim”, dirilis pada 1994 dengan kesimpulan bahwa Waldheim terbukti ambil bagian dalam pemindahan tahanan sipil dari penahanan AD Jerman ke kamp tahanan di bawah SS (Schutzstaffel/Paramiliter Jerman Nazi) untuk dijadikan pekerja paksa.

Laporan yang disusun Dinas Investigasi Istimewa, Divisi Kriminal, Kementerian Kehakiman Amerika itu juga menyebutkan Waldheim terlibat dalam deportasi massal orang-orang Yahudi di Banja Luka ke kamp-kamp konsentrasi. Ia juga terlibat dalam menyebarkan propaganda anti-semit, menyiksa dan mengeksekusi tawanan perang Sekutu, dan mengeksekusi sandera tawanan partisan dan sipil.

Alhasil, Waldheim menjadi kepala negara pertama yang di-persona non grata-kan oleh pemerintah AS dan sejumlah negara lain. Sebagai “balasannya”, Waldheim membuat wasiat bahwa kelak setelah wafat, ia menolak pemakamannya dihadiri semua kepala negara kecuali Pangeran Hans-Adam II dari Liechtenstein. Waldheim sendiri menghembuskan nafas terakhirnya pada 14 Juni 2007 di usia 88 tahun setelah mengalami serangan jantung.

Baca juga: Sengkarut Tragedi Sekjen PBB di Tengah Misi Perdamaian

TAG

austria pbb nazi jerman nazi

ARTIKEL TERKAIT

Kisah Cinta Aktor Jerman di Bawah Cengkeraman Nazi Kisah Cinta Tragis di Masa Pendudukan Nazi Misteri Kematian Aktor Inggris yang Dibenci Nazi Kemelut Bismarck di Atlantik “Winston Churchill” Tewas dalam Kecelakaan Pesawat Sengkarut Tragedi Sekjen PBB di Tengah Misi Perdamaian Ali Alatas Calon Kuat Sekjen PBB Mempertanyakan Solusi Dua Negara Israel-Palestina Asal-Usul Jeriken Spion Wanita Nazi Dijatuhi Hukuman Mati