Kisah Sang Penghilang Batas

Walau berhenti berjalan dan berbicara, Hawking mampu mengejutkan dunia dengan teori alam semestanya

14 June 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Kisah Sang Penghilang Batas
Judul: Stephen Hawking A Mind Without Limits | Penulis: Daniel Bennet, dkk | Penerbit: Mizan | Terbit: 2019 | Tebal: 98 halaman | Foto : Hawking mencoba merasakan kondisi tanpa gravitasi. Sumber: wikimedia commons

DI DUNIA sains siapa yang tak mengenal Stephen Hawking? Vonis mati yang diterimanya tidak serta merta membuat hidup ilmuwan ini goyah. Itu dibuktikan denan terus berkaryanya dia di bidang ilmu fisika. Sejak tahun 1960-an tidak henti-hentinya, dia mengguncang dunia dengan spekulasi dahsyatnya tentang alam semesta dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya.

Dilahirkan di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942, Hawking merupakan putra sulung dari empat bersaudara. Sejak remaja, dia telah memperlihatkan ketertatikan yang besar terhadap ilmu sains dan teknologi. Ketika belajar di St. Albans, Hawking (16 tahun) bersama kawan-kawannya mampu merakit sebuah komputer dengan memanfaatkan suku cadang bekas jam dan pesawat telepon.

Pada 1962, Hawking lulus dari Universitas College, Oxford. Menurut Marcus Chown, seorang mantan astronom radio, walau mendapat gelar kehormatan kelas satu di bidang pengetahuan alam, Hawking pernah mengakui dirinya sebagai pemalas ketika masih menjadi mahasiswa.

Tidak puas dengan gelar kesarjanaannya, Hawking pun memutuskan untuk mengejar gelar Ph.D di Universitas Cambridge. Di sana dia memilih jurusan yang waktu itu kurang populer, yakni relativitas umum, salah satu teori tentang gravitasi milik Albert Einstein yang mengantarkannya pada kepopuleran sepanjang masa.

Namun belum genap setahun belajar di Cambridge, Hawking harus nenerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Bermula dari Natal 1962, ia menyadari tubuhnya semakin lemah tanpa mengetahui sebabnya. Kemudian pada akhir semester pertama di Cambridge, ibunya membujuk Hawking untuk menemui dokter. Setelah melalui rangkaian tes melelahkan selama dua pekan, dokter memvonis Hawking menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS): bentuk paling umum dari penyakit saraf motorik yang menyebabkan kemunduran pada fungsi sel-sel otak.

"Pada usia 21 tahun, Hawking menghadapi vonis mati. Yang luar biasa, kendati dia merasa putus asa, dia tidak pernah menyerah." tulis Marcus.

Normalnya, penderita penyakit ini hanya akan bertahan hidup tidak lebih dari tiga tahun. Brian Dickie, direktur Asosiasi Pengembangan Riset MND (motor neurone disease), menyebut penyakit saraf memiliki tingkatan yang berbeda tergantung dari gen dan lingkungan para penderitanya.

"Mengingat obat yang efektif kurang tersedia, kemungkinan Hawking bisa hidup begitu lama bukan lantaran obat tetapi disebabkan oleh jenis penyakitnya." ucap Dickie

Lebih dari itu, alasan Hawking dapat bertahan adalah Jane Wilde. Dia jatuh cinta pada perempuan yang ditemuinya dalam acara pesta mahasiswa di kampusnya. Pasangan itu melangsungkan pernikahan pada 1965. dukungan dari Jane membuat Hawking berjanji akan memanfaatkan sisa waktunya semaksimal mungkin. Ajaibnya, setelah melewati hari-hari bersama perempuan yang dicintainya, perkembangan penyakit Hawking mulai melambat.

Semangat hidup Hawking melawan keterbatasannya menjadi penggalan kisah paling menarik dalam buku ini. Penjelasan tentang penyakit yang dideritanya pun disajikan dalam koridor ilmiah yang mudah dicerna awam. Namun sayangnya buku ini tidak menyertakan data-data tentang perkembangan penyakit Hawking. Selain itu tidak adanya wawancara personal berisi pertanyaan lebih intim membuat buku Stephen Hawking A Mind Without Limits ini kurang memperlihatkan sisi pribadi Hawking.

Menghilangkan Batas

Selain menjelaskan perjalanan hidup, buku ini juga mencoba membantu mengarahkan para pembaca pada penemuan-penemuan ilmiah Hawking yang begitu menakjubkan. Dalam buku ini para ahli dihadirkan, sebagai kontributor, untuk menjelaskan bidang keahliannya. Seperti Peter J. Bentley, seorang profesor ilmu komputer yang memaparkan secara rinci teknologi yang terpasang pada kursi roda Hawking untuk membantu kesehariannya.

Hawking dikenal sebagai perintis di bidang fisika dan kosmologi modern. Dengan cerdas, ia mampu menggabungkan dua bidang keilmuan yang tidak saling berhubungan tersebut. Namun meski begitu, hampir setengah masa hidupnya dihabiskan tanpa bergerak dan bersuara.

Sebelum benar-benar kehilangan kemampuan berbicara, Hawking masih memberikan kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Inggris. Dia selalu membawa keluarga serta asistennya untuk menerjemahkan ucapannya yang sudah tidak jelas. Hawking tidak ingin kekurangannya itu menjadi halangan untuk dia terus berkarya.

Namun pil pahit kembali harus ditelan Hawking. Pada 1985, dalam sebuah perjalanan dinas ke CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir), Hawking terserang pneumonia. penyakit itu nyaris merenggut nyawanya.

"Dokter-dokter yang menanganinya terpaksa menjalankan operasi trakeonomi untuk memasukkan slang pernapasan, tetapi tindakan ini menyebabkan Hawking kehilangan suaranya." tulis Peter J. Bentley, profesor ilmu komputer di Universitas College, London.

Tentu bukan perkara mudah untuk Hawking dapat menerima keadaannya. Karir akademiknya menutut kemampuan berkomunikasi yang baik. Dia harus memberi kuliah di hadapan mahasiswanya, mempresentasikan hasil penelitiannya, bahkan mempublikasikan tulisan-tulisannya. Karena tidak bisa melakukan semua itu, Hawking merasa hidupnya bagai bencana.

Tapi bukannya menyerah, Hawking malah mengalihkan perhatiannya pada teknologi. Ia sadar bahwa hanya pengetahuan modern yang dapat membantunya. Untuk itu, Martin King, dokter pribadi Hawking, menghubungi perusahaan teknologi asal California, Words+, yang telah mengembangkan equalizer untuk penderita penyakit saraf motorik. Sistem yang ditawarkan memungkinkan pemakainya memilih kata-kata hanya dengan ketukan tangan.

"Sebuah kursor bergerak di bagian atas layar." terang Hawking. "Saya dapat menghentikannya dengan tombol di tangan saya. Dengan cara ini, saya bisa memilih kata-kata yang terpampang di bagian bawah layar. Saya bisa memberikan kuliah, menulis makalah, dan berkomunikasi dengan keluarga saya."

Sistem equalizer awalnya dijalankan di sebuah komputer Apple II yang tersambung ke perangkat penyintesis wicara buatan Speech Plus. tidak lama, perangkat lunaknya diganti dengan versi terbaru bernama EZ Keys, buatan perusahaan yang sama. Teknologi itu termasuk paling canggih pada zamannya karena dapat menyimpan lebih dari 4.000 kosakata yang dibutuhkan Hawking.

Selama hampir 20 tahun, sejak 1988, Hawking memanfaatkan teknologi penyintesis wicara itu untuk berbagai keperluan ilmiahnya. Namun pada 2005 penyakit ALS yang dideritanya semakin parah. Ia kembali kehilangan kemampuan berkomunikasi karena tidak lagi memiliki kekuatan untuk menekan tombol perangkat wicara di kursi rodanya.

Untuk mengatasinya, beberapa asisten serta mahasiswa bimbingannya menciptakan perangkat LED dan sensor inframerah khusus Hawking. Teknologi itu dipasang di kacamata Hawking untuk mendeteksi gerakan kecil pada otot di pipinya. Berkat peranti ini, Hawking dapat terus melanjutkan kegemilangannya dalam membangun ilmu fisika.

"Kemampuan komunikasi Hawking kian memburuk ketika dia kehilangan kendali atas otot, dan pada 2011, dia hanya bisa membuat dua kata per menit." tulis Bentley.

Setelah itu, Hawking menghubungi salah satu pendiri Intel, Gordon Moore, yang dahulu pernah ditemuinya. Moore kemudian meminta bantuan Justin Rattner, CEO Intel saat itu untuk menyelesaikan persoalan Hawking.

Di bawah intel, sebuah tim peneliti dibentuk. Mereka mencoba mencari model komunikasi yang pas bagi Hawking. Berbagai bentuk interface baru pun dicoba untuk mendapat hasil yang sempurna.

Percobaan pertama menghasilkan teknologi yang dapat memilih kata dengan cara menggerakkan pupil mata. Namun tidak berhasil karena kelopak mata Hawking selalu turun. Pada percobaan selanjutnya, tercipta teknologi pengukur gelombang otak. Tetapi tidak menunjukkan kemajuan apapun.

Akhirnya dengan bantuan asisten mahasiswa Hawking, Jonathan Wood, tim itu dapat menciptakan sistem komunikasi yang canggih. Teknologi yang khusus diciptakan untuk Hawking ini memanfaatkan jaringan saraf tiruan yang mampu memprediksi kata selanjutnya dari sebuah kata yang biasa digunakan Hawking. Misalnya kata "lubang" biasanya diikuti oleh "hitam".

Kiprah Nyata

Sejak memulai penelitian pasca-doktoralnya, Hawking telah benar-benar fokus pada permasalahan kosmologi, ilmu pengetahuan alam, evolusi, teknologi, dan akhir alam semesta. Dia mengkaji cukup dalam beberapa teori Einstein, terutama yang berhubungan dengan asal mula alam semesta.

Pada 1965 dan 1970, Hawking membuat sejumlah teorema besar tentang singularitas: keadaan di mana suatu objek yang dihitung menjadi tak terhingga. Dia bekerja bersama Roger Penrose, ahli matematika Inggris yang mendampingi Hawking dalam sejumlah penemuan penting pertamanya. Penelitian singularitas tersebut menjadi kiprah pertama Hawking dalam mencari bukti terciptanya kehidupan alam semesta. Hawking dan Penrose bahkan berhasil menunjukkan bahwa teori Einstein memiliki kekurangan. Sehingga membuka jalan bagi para ilmuwan untuk terus mencari kebenaran yang sesungguhnya.

"Penelitian Hawking tentang singularitas akhirnya membawanya mempelajari aspek destruktif dan misterius yang bertebaran di seluruh alam semesta." tulis Marcus.

Setelah mempelajari singularitas, Hawking mulai mengalihkan fokusnya pada salah satu teori paling menakjubkan mengenai alam semesta, yakni lubang hitam. Selama bertahun-tahun, Hawking membuat teori untuk menemukan kebenaran dari “objek hitam” yang baginya tidak benar-benar legam karena berpendar dengan partikel-partikel yang terlepas di sekitarnya.

“Jauh dari hampa, ruang ini sesungguhnya sarat energi. Khususnya, partikel-partikel dan antipartikel-antipartikel subatomik yang terus-menerus bermunculan secara berpasangan.” katanya.

Hawking mengeluarkan banyak spekulasi yang membuat para ilmuwan dunia kebingungan, sekaligus termotivasi untuk memperdalamnya. Sebagian ilmuwan mencoba membuktikan teorinya dengan memberikan data dan fakta baru. Namun hingga Hawking wafat, belum ada yang secara tepat menjelaskan keadaan dan keberadaan lubang hitam di alam semesta.

Secara keseluruhan buku ini  layak untuk dibaca. Pemaparan secara ilmiah dan mendalam, dengan bahasa sederhana, tentang hasil kerja Hawking semasa hidupnya membuat para pembaca akan nyaman mencerna isinya. Walau alangkah lebih baik jika buku Stephen Hawking A Mind Without Limits ini memberikan lebih banyak ruang untuk menceritakan keseharian Hawking menghadapi penyakitnya sampai bisa terus berkarya mencengangkan dunia.

 

Hawking, Black-Hole
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK