Ketika Rumah Susy Susanti Nyaris Dibakar

Di saat Susy Susanti ikut berjuang memenangkan Uber Cup di Hong Kong, rumah keluarga disasar massa tak dikenal.

15 May 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Ketika Rumah Susy Susanti Nyaris Dibakar
Susy Susanti, salah satu anggota tim Uber Cup 1998 yang rumahnya nyaris dibakar massa 21 tahun lampau (Foto: Antara)

KENANGAN pahit itu masih mengendap di kepala Alan Budikusuma kendati sudah 21 tahun berlalu. Kala sebagian etnis Tionghoa yang tergabung dalam tim Thomas dan Uber Cup Indonesia sedang berjuang di Hong Kong untuk mempersembahkan Thomas dan Uber Cup kepada ibu pertiwi, etnis Tionghoa di tanah air justru jadi mangsa saat negeri tengah dilumpuhkan huru-hara. 

“Konsentrasi tim tuh pecah. Bingung dengan keadaan di tanah air pada 1998 itu. Pusing kita, sempat berpikir, gimana ya? Apa mereka masih bisa bertanding dengan situasi seperti ini?,” tutur Alan mengingat 21 tahun lalu saat ditemui Historia di Kelapa Gading.

Kerusuhan rasialis di tanah air pecah pada 13-14 Mei 1998. Jelas saja mental para pemain terpengaruh. Mereka yang beretnis Tionghoa mengkhawatirkan kondisi keluarga masing-masing.

Alan yang turut dalam tim sebagai asisten pelatih, merasakan betul kecemasan mendalam istrinya (Susy Susanti) akan keluarganya di Tasikmalaya. “Keadaan semua panik dan cemas. Apalagi rumah orangtua Susy di Tasikmalaya itu sudah hancur, kaca jendela sudah habis. Mau dibakar (massa) rumahnya,” imbuhnya.

Alan Budikusuma menceritakan 21 tahun lalu ketika tim bulutangkis berjuang di tengah situasi prahara (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Dewi Anggraeni dalam Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa menyingkap, ayah Susy Risad Haditono (Ong Siong Lie) nyaris jadi bulan-bulanan massa. Gerombolan massa sudah pasang target untuk membumihanguskan rumah peraih medali emas pertama Olimpiade bagi Indonesia itu.

“Ayah Susy waktu itu sedang sendirian di rumah. Lalu dia mendengar bunyi-bunyi gerombolan massa. Mereka berteriak, ‘Bakar Rumah Susy Susanti!’ dan melemparkan batu. Untunglah ayah Susy sempat mencari perlindungan dan terhindar dari cedera fisik. Ternyata massa bukan dari warga lokal, melainkan orang luar,” tulis Dewi.

Risad sudah lebih dulu diamankan para tetangga dekatnya. Rumahnya pun akhirnya urung dibakar massa tak dikenal berkat campur tangan warga sekitar. “Kebetulan tetangga-tetangga ini kan dekat hubungannya walau mereka bukan Tionghoa. Sudah seperti saudara. Mereka yang bantu. Yang mau bakar rumah Susy dihalau oleh mereka,” sambung Alan.

Keluarga Alan sendiri di Surabaya dalam kondisi aman. Situasi Kota Pahlawan relatif kondusif.

Pengalaman keluarga Susy itu jadi hal yang luput dari jaminan yang sebelumnya diberikan ketum PBSI. Saat kejadian, manajer tim mengeluarkan kebijakan membolehkan para pemain mengontak keluarga masing-masing di tanah air.

“Kami semua dikumpulkan, dimintai alamat rumahnya, keluarganya, kemudian beliau (manajer tim, red.) berpesan: ‘Sekarang kita di sini baru berjuang, keluarga yang ada di Indonesia dijamin aman.’ Beliau sampaikan itu, kemudian kita sendiri jadi termotivasi ya, apapun yang terjadi di Indonesia, ya kita lagi berjuang, kita membawa nama merah putih. Apapun itu, sebisa mungkin kita semaksimal yang kami mampu pada saat itu,” ujar Sigit Budiarto, anggota tim Thomas, kepada Historia.

Sigit Budiarto, salah satu anggota tim Thomas 1998 Indonesia (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Alan ditunjuk jadi koordinator urusan mengontak keluarga masing-masing. “Jadi saya yang bantu anak-anak, meng-arrange kalau ada butuh apa-apa. Jadi kamar saya yang di-open (sambungan) telefonnya untuk mengontak masing-masing orangtua,” ujarnya.

Toh, kebijakan itu tak menghilangkan rasa cemas masing-masing pemain. Terutama buat tim Uber, yang gagal di partai puncak setelah dibekuk China 1-4 pada 23 Mei 1998.  “Kami terganggu? Iya. Tapi tugas tetap berjalan. Susy sendiri menang tapi timnya kalah. Tapi syukur putranya (tim Thomas) masih bisa menang,” imbuh Alan lagi.

Tim Thomas menang 3-2 atas Malaysia sehari setelahnya. Sigit yang berpasangan dengan Candra Wijaya di partai pamungkas, ganda putra, menjadi penentu kemenangan itu.

“Itu momen pertamakali saya ikut Thomas Cup. Alhamdulillah kita bisa pertahankan, itu jadi suatu kebanggaan tersendiri. Pada saat Indonesia terjadi huru-hara sampai sedemikian rupa ya pada saat itu, kami di sana sedang berjuang dan kemudian kita menang. Merah Putih berkibar, nyanyi ‘Indonesia Raya’, kemudian kita pulang juga dengan suasana yang berbeda ya. Kita diterima dengan presiden yang lain. Kepada kita, presiden (BJ Habibie, red.) berterimakasih sudah memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia,” kata Sigit menutup obrolan.

Bulutangkis, ThomasCup, UberCup
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
2 Suka
BOOKMARK