Babi dan Masyarakat Islam Nusantara

Babi adalah sumber protein hewani bagi masyarakat Nusantara pra-Islam

11 March 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Babi dan Masyarakat Islam Nusantara
Lukisan babi rusa di dinding gua di Sulawesi. (Kinez Riza).

Ketika pengikut Magellan berkunjung ke Tidore, raja meminta kami untuk membunuh semua babi yang kami bawa dalam kapal. Itu demi menunjukkan cinta kami kepadanya. Padahal dalam hal-hal lainnya dia tak begitu taat. Itu meski dia telah lima puluh tahun memeluk agama Islam.

Sebagai gantinya, sang raja pun bilang akan memberi kami kambing serta ayam dalam jumlah yang sama. Kami membunuh babi-babi itu demi menyenangkan hatinya dan menggantungnya di bawah dek. 

"Kalau orang-orang itu kebetulan melihat babi mereka menutup muka agar tak melihat atau mencium baunya," tulis Pigafetta, penjelajah Venesia, dalam catatannya pada 1524. 

Menurut Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2, pada masa lalu pantang makan daging babi adalah isyarat pertama yang paling mencolok jika seseorang taat pada Islam. Padahal babi sudah sejak lama menjadi salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat yang hidup di Nusantara.

Beberapa jenis babi purba diketahui telah ada di Nusantara sejak ratusan ribu tahun lalu. Di Sangiran misalnya, jenis Sus macrognathus, Sus brachynathus, Sus terhaari, dan Sus stremmi ditemukan dalam bentuk fosil di lapisan kabuh yang berusia sekira 780.000 tahun. Temuan fosil itu biasanya berupa fragmen gigi dan fragmen tulang kaki.

Baca juga: Mengapa Manusia Prasejarah Menggambar di Gua?

Citranya juga ditemukan di dinding goa di Maros, Sulawesi Selatan. Salah satunya di Leang PattaE Kere, yaitu gambar babi rusa yang bercampur dengan lukisan cap tangan.

Diketahui juga hewan itu sudah diternakkan paling tidak sejak 3.500-4.000 tahun yang lalu. Demikian menurut Peter Bellwood, dkk., dalam “A 4000 Year-old Introduction of Domestic Pigs into the Philippine Archipelago: Implications for Understanding Routes of Human Imigration through Island Southeast Asia and Wallacea” yang terbit dalam jurnal Antiquity tahun 2009.

Babi juga terpahat dalam panil relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. "Masyarakat Jawa pada masa itu mungkin telah terbiasa beternak babi," tulis Kresno Yulianto Sukardi, arkeolog Universitas Indonesia dalam "Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno: Data Arkeologi-Sejarah Abad IX-X Masehi", termuat dalam Pertemuan Ilmiah arkeologi IV. 

Babi dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur

Babi termasuk dalam daging yang paling banyak tersedia selain ayam dan kerbau. "Babi adalah pengalih yang paling efisien dari padi-padian ke daging. Ia merupakan sumber utama daging di daerah di mana Islam belum masuk," tulis Reid.

Nagarakrtagama yang ditulis Mpu Prapanca pada abad ke-14 menyebutkan jenis daging yang dihidangkan di Keraton Majapahit. Babi liar disebutkan selain daging domba, kerbau, ayam, lebah, ikan, dan bebek. 

Menurut berbagai data prasasti babi termasuk dalam daging yang sering dikonsumsi. Di antaranya babi ternak (celeng) dan babi hutan (wok).

Pada masa Jawa Kuno, agama telah membatasi masyarakat dalam kehidupan sosial. Namun, tak berlaku ketat dalam hal makanan. Dalam Nagarakrtagama tercatat adanya konsumsi daging yang “tak biasa” di Keraton Majapahit. Hidangan itu tak dihidangkan kepada orang yang taat karena pantangan Hindu.

“Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba, makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai, dan katak. Jika dilanggar, mengakibatkan hinaan musuh, mati, dan noda,” tulis Mpu Prapanca.

Makanan pantangan pun tetap disajikan bagi yang menyukainya dan rupanya digemari rakyat biasa “karena asalnya dari berbagai desa. Mereka diberi kegemaran biar puas…,” kata Prapanca lagi.

Tak heran jika kemudian kebiasaan makan babi menjadi hambatan utama masuk Islam. Itu kejadian umum di Asia Tenggara. "Babi adalah sumber daging utama dan unsur utama dalam upacara," sebut Reid.

Islam mengharuskan perubahan dalam hal makanan, pakaian, dan gaya rambut. Karenanya pengislaman sering dilihat sebagai perubahan status etnik. "Meninggalkan babi menjadi satu ciri masuknya Islam masyarakat Nusantara, selain menyunat dan meninggalkan berhala," lanjut Reid.

Dalam Hikayat Patani dari awal abad ke-16 misalnya disebutkan penguasa Patani telah menerima Islam. Hikayat itu menyinggung zaman raja berikutnya, yang membangun masjid pertama, penduduk kota telah dengan mudah meninggalkan kebiasaan makan babi dan benda pemujaan tetapi tetap menyembah pohon, batu, dan roh.

Babi pun nampaknya menjadi simbol orang kafir. Mendes Pinto, penjelajah Portugis pada 1578, menyebut raja-raja Aceh dan Demak sebagai pahlawan antikafir. Dikatakan kalau Pahang tak akan membiarkan orang Portugis dimakamkan di daratan. 

“Tanah akan menjadi terkutuk dan… tidak ada yang bisa tumbuh lagi karena mayat-mayat belum dibersihkan dari daging babi yang banyak dimakan,” tulisnya seperti dikutip Reid.

Pada abad ke-16, orang Makassar terkenal menolak Islam karena babi merupakan sumber daging mereka. Kata Reid, menurut kronik setempat dari Bulo-bulo di daerah Sindjai, distrik ini sempat diajak menerima Islam dengan ancaman perang oleh raja Makassar pada abad ke-17. Seorang penguasa terkemuka setempat pun berkata menantang kalau dia tidak akan memeluk Islam meski sungai penuh dengan darah. Itu selama masih ada babi yang bisa dimakan di hutan Bulo-bulo.

"Anehnya, menurut cerita ini, seluruh babi di hutan lenyap malam itu juga. Sang penguasa pun beserta semua pengikutnya harus masuk Islam," tulis Reid.

Selain babi, di beberapa tempat, anjing juga dimakan. Itu sangat berbeda dengan kucing, yang tidak pernah dimakan dan sering dipandang setengah suci karena melindungi padi dari hewan pengerat. 

Setelah Islam masuk, anjing bersama babi, kodok, dan ular kemudian dipandang sebagai hewan yang haram untuk dimakan.

Menurut Reid, larangan atas sumber daging semacam itu, khususnya babi, dinilai mengakibatkan berkurangnya konsumsi protein hewani. "Telah dibuktikan di Borneo pada abad ke-20, orang Dayak Ngaju yang menjadi penganut Islam lebih sedikit makan daging dibandingkan dengan penganut animisme. Itu meski mereka umumnya lebih kaya," tulis Reid.

Islam juga mengurangi perlunya pengorbanan hewan dalam ritus penghormatan leluhur. Hal ini pun bisa ikut berperan dalam mengurangi konsumsi protein hewani pada makanan Asia Tenggara di masa yang lebih modern.

Sekalipun begitu, bagi Reid, Islam begitu egaliter. Karenanya bisa lebih efektif menerapkan larangan-larangannya. "Terlepas dari popularitas daging babi, semangat pantang bagi orang Islam dalam menghindarinya tampaknya cukup meyakinkan banyak orang yang bukan Islam bahwa daging babi pastilah mengandung sesuatu yang buruk," tulis Reid.

Kuliner
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
3 Suka
BOOKMARK