top of page

Katarsis Bekas KNIL yang Merindukan Tanah Kelahiran

Kolaborasi kelompok teater Belanda dan Indonesia menyuguhkan pementasan “Operasi Batavia”. Menyuarakan trauma dan luka para eks-KNIL yang selama ini terpendam.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 2 Des 2022
  • 5 menit membaca

WAJAHNYA kusam ditumbuhi jenggot rimbun tak terawat. Pakaiannya lusuh. Tidurnya pun tak pernah tenang. Moses (diperankan Alex Lekatompessy), lelaki itu, terbangun dengan keresahan. Orang-orang dalam mimpinya mulai menghilang seiring sayup-sayup terdengar lantunan lagu lawas yang memancing kerinduannya akan tanah kelahiran.


Beta ingin mau pulang, ke Amboina e.


Pulang ke kampungku di Maluku.


Beta ingin mau pulang ke Amboina e.


Di tengah lautan, lautan teduh.


Orang-orang dalam mimpinya seakan nyata. Lantunan itu pun terus terngiang meski Moses mulai tersadarkan. Akan tetapi ingatan akan kampung halamannya tak datang sendirian. Stres, depresi, dan trauma mengikutinya dan mengkristal menjadi rasa sakit yang tak terperikan.


Dar! Dor! Dar! Boom! Suara tembakan hingga ledakan menggelegar bom membuat kacau pikiran dan batinnya. Teriakan dan jeritan para korban kekerasan militer Belanda yang mengikutinya menyayat hatinya.



Ingatan yang jadi derita bagi Moses selama 70 tahun itu jadi inti cerita pementasan teater bertajuk Operasi Batavia. Pementasan di malam pembuka Festival Teater Jakarta ke-49 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Kamis (1/12/2022) malam tersebut merupakan hasil kolaborasi kelompok teater asal Belanda besutan Anis de Jong, DeltaDua, dan Teater Kubur asal Indonesia pimpinan Dindon WS.


Alur ceritanya menggambarkan trauma Moses di dunia nyata dan flashback memorinya sebagai seorang prajurit KNIL berdarah Ambon dan pernah menjadi anak buah “sang jagal” Kapten Raymond Westerling. Terlepas dari kekerasan yang terjadi, Moses hanyalah prajurit taat tugas yang kemudian malah “dibuang” usai repatriasi para eks-KNIL pasca-penyerahan kedaulatan, 27 Desember 1949, dan pembubaran KNIL pada Juli 1950.


Latar panggung yang dibantu video live via proyektor (Randy Wirayudha/Historia)
Latar panggung yang dibantu video live via proyektor (Randy Wirayudha/Historia)

Rasa sakit yang memengaruhi mentalnya itu makin subur mengingat pada 1951 Moses termasuk ke dalam eks-KNIL yang bukan dipulangkan ke Maluku tapi malah ke negeri Belanda. Mereka merasa dibohongi ketika kapal pengangkut membawanya ke tempat asing. Alhasil hidupnya pun terlunta-lunta. Bila di masa perang ia tinggal di tangsi, di Belanda ia dimasukkan ke kamp mirip kamp konsentrasi. Uang kompensasi yang diterimanya hanya tiga gulden per minggu.


Penderitaannya makin perih ketika ingatannya kembali menghadirkan sosok Westerling. Sang jagal melancarkan operasi pembersihan secara metafora dengan menyeret Moses ke meja operasi. Sembari mengoceh dalam bahasa Belanda bak dokter bedah, Westerling menyayat-nyayat dan mengorek luka dari tubuh Moses hingga menarik sepucuk pistol dari dalam perutnya.


Dengan laku-laku komikal Westerling juga meledek dan mengolok-olok narasi sejarah tentang Sukarno dan proklamasi 17 Agustus 1945 yang disampaikan Mister Abah dan para penduduk lokal lain. Sementara di sisi lain, Moses yang batinnya kembali diliputi kerinduan pada tanah kelahiran dan ibunya, harus menerima kenyataan bahwa KNIL dianggap percuma oleh Raja Willem-Alexander lewat pidatonya yang ditampilkan secara parodi.


Menyuarakan yang Tak Bisa Bersuara


Sebagaimana yang disampaikan sang sutradara Anis de Jong sebelumnya, Operasi Batavia menjadi kritik terhadap pemegang kekuasaan di Belanda sekaligus publik Indonesia. Karya yang sudah dipentaskan di Amsterdam, Belanda pada 2021 itu juga menyisipkan banyak fakta sejarah yang dipadukan dengan fiksi dan fantasi di kepala Moses sang karakter utama.


Lewat sekira satu jam pertunjukan itu De Jong dan Dindon memanjakan penonton dengan banyak lagu lawas yang menyentuh hati juga tarian-tarian kontemporer  yang dijadikan penghias adegan-adegan metafora, plus sajian proyektor yang ditembakkan ke latar panggung sebagai pengganti latar-latar konvensional. Jadi meskipun bahasa Belanda –selain bahasa Inggris dan Indonesia– mendominasi dialognya, penonton setidaknya bisa mencerna isi cerita dan mengikuti alurnya dari klip-klip tentang kekerasan militer Belanda. Di beberapa adegan bahkan disisipkan video live lewat kameraman yang berseliweran membidikkan kamera pada tokoh-tokohnya untuk ditampilkan via proyektor.


Soal bahasa agaknya perlu dikritisi. Saat karakter Westerling berceloteh, kurang diimbangi dengan kombinasi penggunaan bahasa Inggris atau Indonesia. padahal faktanya, Westerling mulanya tak lancar berbahasa Belanda. Sejak kecil Westerling lebih lancar berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Turki yang jadi bahasa perdagangan di Istanbul. Di rumah, ia dininabobokkan ibunya dengan nyanyian berbahasa Yunani tapi dididik dengan bahasa Prancis. Pun ketika Westerling menerbitkan memoar pribadinya pada 1952, Mes aventures in Indonésie, bahasa Prancis yang digunakan. Baru kemudian dialihbahasakan ke bahasa Belanda (Mijn Memoires) dan Inggris (Challenge to Terror).


“Saat dilatih di kamp (tentara) Belanda, saya kesulitan soal bahasa. Saya bisa bicara empat bahasa Eropa tapi bahasa Belanda bukan salah satunya,” kata Westerling di memoarnya.



Tokoh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling di pementasan Operasi Batavia (Randy Wirayudha/Historia)
Tokoh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling di pementasan Operasi Batavia (Randy Wirayudha/Historia)

Terlepas dari penampilan DeltaDua dan Teater Kubur yang menghanyutkan dan memukau, anomali di Teater Kecil itu justru muncul dari barisan penonton. Mereka seperti tak punya nurani dan empati. Sejumlah penonton terdengar cekikikan dan terpingkal saat Moses meratap lewat monolognya: “Di Jawa aku hidup di tangsi. Di Belanda, mendekam di kamp. Hanya diberi kompensasi tiga gulden setiap sepekan sekali sampai harus berjudi di antara sesama demi bisa hidup laik.”


Namun, secara keseluruhan Operasi Batavia apik. Yang lebih penting, ia jadi pengingat baik bagi para pelaku seninya maupun publik yang menyaksikan bahwa para eks-KNIL yang mesti hidup bak orang buangan di Belanda juga berhak dimanusiakan dan melepas beban masa lalu.


“Orangtua saya ada di sini. Ayah juga bekas KNIL. Sampai 70 tahun lalu ke Belanda tapi dia punya keinginan pulang yang kuat. Dia ingin pulang tapi keadaannya tidak kasih sampai 70 tahun. Makanya orang-orang KNIL di Belanda dulu stres tak bisa pulang ke Ambon. Kalian bisa bilang ini old wound (luka lama, red.) tapi jangan luka-luka itu bikin frustrasi. Kita bikin seni agar menjadi indah, menjadi kuat. Kalau ingat luka-luka itu terus, kita enggak bisa hidup. Karena hidup harus kreatif dan inilah kita komunikasikan dengan seni agar sama-sama bisa melangkah ke masa depan,” kata Anis dalam diskusi pasca-pementasan.



Sutradara Anis de Jong (kiri) & Dindon WS (Randy Wirayudha/Historia)
Sutradara Anis de Jong (kiri) & Dindon WS (Randy Wirayudha/Historia)

Dindon WS menegaskan bahwa OperasiBatavia bukan berangkat dari sakit hati. Cerita yang diramu dengan fiksi dan dipentaskan itu justru cara para keturunan bekas KNIL berdamai dengan luka-luka yang diderita orangtua maupun kakek-nenek mereka.


“Bukan mengorek luka kembali tapi bagaimana sejarah ini kita kemas dengan indah. Enggak mesti sejarah itu dibuat dengan tidak menarik tapi bisa dengan fiksi. Moses dengan mimpi-mimpi dan fantasinya, saya kira ini juga sebagai katarsis ya, kerinduan juga terhadap masa lalu dan tanah kelahiran,” Dindon menimpali.


Karakter Moses pun tak serta-merta tercipta dari satu sosok bekas KNIL. Alex Lekatompessy yang memerankan tokoh Moses menyampaikan bahwa karakter itu tercipta dari memori kolektif para bekas KNIL yang selama ini tak bisa bersuara.


“Orang (bekas) KNIL di Belanda itu semua berasanya begini. Jadi ada traumanya tapi tidak bisa omong. Tidak bisa cerita. Itu yang susahnya buat kita punya orangtua di sana, tidak bisa cerita bagaimana orang yang pembunuhkah atau bukan. Jadi Moses itu kolektif, bukan orang satu. Dia lahir dari memori bapak-bapak KNIL yang bahkan bukan cuma (asal) Maluku,” tandas Alex.






Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
transparant.png
bottom of page