top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Historia Raih LINE Indonesia Awards

Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer

18 Des 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Anugerah LINE Indonesia Awards 2019 yang diterima Historia dalam kategori Most Innovative Partner (Foto: Fernando Randy/HISTORIA)

MEDIA berbasis sejarah, Historia.id, mendulang penghargaan LINE Indonesia Awards pada malam penganugerahan, Selasa (17/12/2019). Bersama Kompas TV, Historia.id memperoleh award itu sebagai Most Innovative Partner (Mitra Paling Inovatif) di platform pesan instan cum penyedia ragam informasi daring terhangat asal Jepang itu. Historia.id dan KompasTV mengalahkan IDN Times, Opini.id, Tirto.id, dan Billboard Indonesia yang juga masuk nominasi kategori yang sama.


Ini jadi kali pertama LINE menggelar ajang apresiasi yang tidak hanya untuk media, namun juga sejumlah publik figur. Para pemenangnya ditentukan melalui voting pengguna LINE.


Para pemenang di kategori lain, yakni Reza Rahadian (Most Favorite Actor), Tara Basro (Most Favorite Actress), Tulus (Most Favorite Male Musician), Agnez Mo alias Agnes Monica (Most Favorite Female Musician), HiVi (Most Favorite Music Group), Pretty Boys (Most Favorite Movie), dan Enzy Storia (Most Favorite Influencer).


Historia sendiri lahir pada 2010 dalam format daring sebagai media sejarah populer pertama di Indonesia. Dua tahun berselang, Historia mengeluarkan format cetak dalam bentuk majalah. Sesuai dengan misinya, konten-konten yang dihadirkan Historia berupa ragam informasi sejarah yang edukatif, aktual dan relevan dengan era kekinian baik lewat tulisan, infografis, maupun video.


Historia telah berhasil menyediakan konten unik dan edukatif untuk para generasi muda. Juga mengakrabkan pembaca dengan kejadian penting di masa lampau dan membungkusnya dengan visual masa kini, sehingga menarik untuk disimak,” ujar Content BizDev Lead LINE Indonesia Febriamy Hutapea.


Anugerah mitra paling inovatif dalam LINE Indonesia Awards 2019 yang diterima perwakilan Historia, Yusti Maredzki (Foto: Yusti Maredzki/HISTORIA)
Anugerah mitra paling inovatif dalam LINE Indonesia Awards 2019 yang diterima perwakilan Historia, Yusti Maredzki (Foto: Yusti Maredzki/HISTORIA)

Hal itu senada dengan misi yang diusung Bonnie Triyana, pemred Historia, ketika mendirikan Historia. Historia berupaya mendobrak penulisan sejarah yang identik dengan hal kuno, tua, berat, dan ketinggalan zaman dengan cara menyajikan tulisan yang ringan dan menarik tanpa harus kehilangan esensi utamanya.


“Harapannya, anak muda akan senang menikmati konten dari kami karena selain terhibur, juga bisa menemukan informasi masa lalu yang turut membentuk pengalaman hidup mereka di masa kini,” cetus Bonnie.


Selain menyajikan konten-konten sejarah secara populer, Historia kerap menggelar  pameran yang bukan hanya informatif namun juga inovatif. Salah satu suguhan inovatif yang menurut LINE direken sangat informatif adalah pameran Asal Usul Orang Indonesia, yang dihelat Historia bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI belum lama ini.


Proyek pertama di Indonesia yang menggunakan tes DNA itu dilakukan bekerjasama dengan Lembaga Molekuler Eijkman. Tujuannya, untuk menyingkap secara ilmiah penelusuran nenek moyang orang Indonesia demi memberi pencerahan asal-usul, relasi dengan pihak luar, dan persilangan budaya yang membentuk manusia Indonesia. Tes DNA dilakukan dengan mengambil 16 relawan mulai dari masyarakat biasa hingga figur publik. Di antaranya, Najwa Shihab,Ariel ‘Noah’, Grace Natalie, Riri Riza, Mira Lesmana, dan Ayu Utami.


“Historia mengemas pemberitaan DNA/genetika yang sempat viral beberapa waktu lalu. Metode yang digunakan memberikan pesan unik, membuka wawasan pembaca, dan terpenting membuat bahasan tersebut relevan dengan pembaca LINE TODAY. Secara tak langsung Historia memberi edukasi positif pada generasi muda, untuk sadar akan pentingnya sejarah dan mengenal Indonesia lebih dalam lagi,” sambung Febri.


Proyek itu viral lantaran hasilnya dipaparkan melalui pameran yang dibuka pada 15 Oktober 2019 di Museum Nasional, Jakarta. Hasil tes DNA itu menunjukkan bahwa tidak ada yang disebut DNA asli pribumi Indonesia, lantaran manusia Indonesia eksis dari percampuran beragam manusia berbeda latar belakang yang datang dalam gelombang-gelombang migrasi yang awalnya berangkat dari Benua Afrika. Dengan kata lain, manusia Indonesia adalah pendatang. Oleh karena itu konsep pribumi-non pribumi tak relevan sama sekali.


“Kami bungah juga, bersyukur ikhtiar kecil ini mendapatkan apresiasi. Semua kami anggap sebagai dorongan semangat untuk terus berkarya, membawa pesan dari masa lalu untuk masa depan Indonesia yang lebih baik karena historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan,” tandas Bonnie.





Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page