top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Tajir Melintir Teuku Markam

Pengusaha yang rapat dengan Presiden Sukarno ini dikenal karena pundi-pundi uangnya tak berseri dan keroyalannya. Sekelumit cerita orang tentang Teuku Markam.

30 Sep 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Teuku Markam diapit dua perempuan dalam acara malam galang dana Dwikora, 1964. (Foto: Dokumentasi Pribadi Asmawi Lida.)

Sebastian Tanamas baru sebulan tinggal di Jakarta. Ia meninggalkan ketentaraan dengan pangkat terakhir Letnan. Sebastian kemudian jadi orang pelarian, ke Jepang, karena bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Selama lima tahun di Jepang, Sebastian mengerjakan berbagai profesi. Mulai dari fotografer, wartawan, hingga penyiar radio Nihon Hoson Kyokai (NHK). Pada Mei 1963, Sebastian memutuskan pulang ke Indonesia.


“Dari Jepang, waktu itu saya membawa sebuah mobil sedan merek Dodge,” kenang Sebastian Tanamas dalam otobiografinya Tak Menggantang Asap: Otobiografi Seorang Pejuang dan Pengusaha Industri Kerajinan.


Sekali waktu, Bastian hendak menjumpai seorang kawan di Jl. Sudirman. Namun, sewaktu melintas di dekat Jembatan Semanggi, mobilnya tertabrak sedan yang dikemudikan seorang wanita cantik. Bastian sendiri selamat dari kecelakaan tersebut. Tapi mobilnya ringsek karena terbalik hingga menghantam sebatang pohon.



Bastian termangu di pinggir jalan, tak mempedulikan polisi yang sibuk mengukur-ukur tempat kejadian peristiwa kecelakaan. Tiba-tiba datanglah sebuah sedan mewah. Dari mobil itu keluar sesosok pria berbadan tegap mengenakan celana pendek. Dalam hati Bastian, kalau bukan orang kaya tentulah seorang penggede. Lelaki itu menghampiri perempuan yang menabrak mobil Bastian. Rupanya, perempuan itu adalah sekretarisnya. Sejurus kemudian, dengan suara lantang ia bertanya siapa pemilik mobil yang ringsek.


“Saya, Pak,” jawab Bastian.


“Sekarang Saudara mau apa? Mau diperkarakan atau mau damai,” ujar si lelaki setengah menggertak.


Mendengar lagaknya, darah Bastian mendesir. Tapi, dia masih bisa menahan diri. Bastian melihat lelaki itu bertolak pinggang sambil menghisap rokok. Lantas, ia minta rokok. Lelaki itu mengulurkan tangan kirinya seraya mencabut sebatang rokok. Tak lupa dinyalakannya korek api buat Bastian.



“Mau damai boleh, mau diperkarakan juga tidak apa-apa,” kata Bastian setelah dua isapan rokok.


Semula Bastian mengira dia merasa ditantang. Nyatanya tidak. Dia langsung berteriak keras pada polisi yang lagi mencermati TKP, “Sudah! Kami damai. Kalian pergi saja, tak ada persoalan,” teriaknya. Kepada Bastian, ia lantas berbicara dengan nada rendah.


“Dik, sekarang bawa saja mobilmu ke bengkel saya. Berobatlah dulu setelah itu datang ke kantor saya,” katanya sembari menyerahkan selembar kartu nama.


Dari kartu nama itu, Bastian mengetahui identitas lelaki yang dihadapinya: Kapten Teuku Markam. Markam dikenal sebagai pengusaha karet ternama, pemilik perusahaan PT Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam). Sementara wanita sekretaris itu, seperti disebut Kompas 20 Maret 1968, bernama Ratna Kartika Markam alias Ellen Tan Eng Lan yang belakangan menjadi istri Markam. Markam juga dikenal luas sebagai orang dekat Presiden Sukarno. Sejumlah proyek mercusuar yang digagas Bung Karno didanai oleh Markam. Di antaranya Gelanggang Olahraga Senayan dan pucuk emas Monumen Nasional (Monas).



Mobil Sebastian Tanamas akhirnya diderek ke bengkel di Jl. Medan Merdeka Utara. Lokasinya berdekatan dengan Istana Negara. Sekarang, di lokasi bengkel itu berdiri bangunan kantor Mahkamah Agung RI.


Keesokan hari, Bastian datang bersama istrinya ke kantor Markam. Anak buah Markam melayani pasangan suami-istri itu dengan hangat. Markam menawarkan dua pilihan: mobil direparasi atau diganti dengan yang baru. Tawaran untuk reparasi diterima Bastian karena mesin mobilnya masih bagus. Markam langsung membuat perhitungan dengan Bastian.


“Adik tentu bekerja dan butuh uang untuk transportasi. Untuk itu, saya beri ongkos taksi untuk 8 jam sehari selama tiga bulan,” katanya. Markam memanggil stafnya untuk mencari informasi ongkos taksi di Jakarta per jamnya.



Total ongkos taksi yang diberikan Markam sebesar Rp500 x 8 jam x 90 hari. Jadi, semuanya berjumlah Rp480.000. Uang sejumlah itu di tahun 1963 sudah banyak. Padahal, Bastian saat itu masih belum mendapat pekerjaan. Markam bahkan kasih tawaran untuk memodali Bastian usaha studio foto di salah satu rumahnya, di Jl. Sambas, atau tokonya di Senen. Namun, setelah menilik relasi Markam yang dekat dengan Sukarno, Bastian menolaknya.


Meski demikian, uang dari Markam ada pula hikmahnya buat Bastian. Bukannya dipakai untuk ongkos sewa taksi, uang itu malah jadi modal Bastian untuk mengontrak rumah di Pejompongan, Jakarta Pusat. Bastian memboyong istri dan kelima anak pindah ke sana. Tadinya mereka menebeng di kediaman orang tua Bastian di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah mendapat tempat menetap, barulah Bastian mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Jepang di sebuah sekolah.


“Ternyata Markam begitu baik. Saya tak menduga sebelumnya akan mendapatkan ‘uang taksi’ untuk tiga bulan lamanya,” kenang Sebastian Tanamas.   



Markam memang dikenal sebagai pengusaha yang royal. Keroyalan itu juga diceritakan oleh jurnalis kawakan Rosihan Anwar.  Ia mengisahkan tentang Kolonel Hidayat Martaatmadja, mantan Panglima Teritorium Sumatra, yang tak punya rumah sewaktu memasuki zaman Republik (1950-an). Melihat ada rumah “potensial” di Jl. Cik di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Hidayat melapor kepada Menteri Negara Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprayogi.

“Ibu (Ratu Aminah, istri Hidayat) belum punya rumah,” kata Rosihan dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 3.


Mengetahui hal itu, Markam tergerak.


“Harga rumah itu Rp 40.000, dan dengan pertolongan pengusaha Markam yang memberi uang, rumah bisa dibeli,” ungkap Rosihan.  

 

Tapi, pundi-pundi Markam tak selalu mempan untuk membeli apa saja yang diinginkannya. Aliran dananya mandek ketika membentur “tembok” bernama Hoegeng Iman Santoso. Suatu ketika, Markam butuh paspor diplomatik untuk bepergian ke luar negeri. Ia pun mengupayakannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh Kepala Jawatan Imigrasi Hoegeng. Pasalnya, Markam bukan diplomat. Hoegeng hampir saja menendang Markam ke luar pintu ruangan kantornya lantaran disuguhkan sejumlah uang oleh Markam.



“Ia gelagapan juga. Maklumlah postur tubuh saya besar juga. Melebihi tinggi rata-rata orang Indonesia,” kata Hoegeng dalam biografinya yang disusun Ramadhan KH dan Abrar Yusra Polisi: Idaman dan Kenyataan. Hoegeng yang menjadi Kapolri periode 1968—1971, memang dikenal sebagai polisi jujur yang anti-suap.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
bottom of page