top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Galang Dana Dwikora ala Sukarno

Bung Karno mengumpulkan para pengusaha ke Istana guna menggalang dana untuk operasi “Ganyang Malaysia”. Ada yang royal, ada pula yang usil.

30 Agu 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Teuku Markam berada diantara Presiden Sukarno dan Waperdam III Chaerul Saleh dalam acara galang dana Dwikora, 1964. Foto: Dokumentasi Pribadi Asmawi Lida.

Sekali waktu Presiden Sukarno memanggil pengusaha Haji Abdul Karim Oey ke Istana. Lelaki Tionghoa itu merupakan kawan dekat Sukarno waktu di Bengkulu dulu. Dia pun dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di sana. Bung Karno menjelaskan kepada Oey bahwa pemerintah perlu dana sebesar Rp 250 juta untuk membiayai Operasi Dwikora “Ganyang Malaysia”.


“Itu urusan gampang. Tidak ada persoalan mencari dana untuk kepentingan nasional,” kata Oey sebagaimana terkisah dalam memoarnya Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa: Sahabat Karib Bung Karno.


Oey lalu menyarankan agar Sukarno mengundang para pengusahan besar di Jakarta dan sekitarnya. Oey sendiri berkomitmen kalau perusahannya bersedia menyumbang sebesar 75 juta rupiah. Keesokan harinya, Oey menyerahkan cek senilai jumlah tersebut kepada Menteri Sosial Mulyadi Djojomartono. Mulyadi kemudian memanggil stafnya membuat kuitansi sumbangan dari perusahaan Oey.


Pada 9 Juli 1964, ratusan pengusaha, pedagang besar, dan menengah kumpul di Istana. Semua hadir lengkap menurut undangan. Ketika Bung Karno muncul, orang-orang memberi hormat. Seperti biasa, Sukarno memulainya dengan berpidato menyampaikan maksudnya akan pertemuan itu. Dia mengharapkan supaya para pengusaha itu berkenan membuka dompetnya lebar-lebar guna menyokong Operasi Dwikora. Sukarno pun mencatut nama Oey untuk memotivasi saudagar-saudagar itu.


 “Ini saudara kita Oey Tjeng Hien alias Haji Abdul Karim Oey yang belum punya kekayaan berani menyumbang Rp 75 juta,” kata Sukarno di depan para pengusaha.


Bung Karno kemudian menyebut satu persatu nama pengusaha. Dana terus mengalir. Agus Musin Dasaad menyumbang Rp 100 juta. Jusuf Muda Dalam Rp 100 juta. Teuku Markam Rp 50 juta. Selain mereka, ada yang menyumbang Rp 25 juta, Rp 10 juta, dan yang terkecil Rp 5 juta.


Markam, pengusaha kulit ternama asal Aceh mendekati Oey seraya berbisik. “Pak Haji Karim, kalau saya diizinkan memeluk Presiden, maka saya kasih lagi Rp 50 juta. Oey meneruskan pesan itu kepada Bung Karno. Tawaran itu dijawab kepada yang bersangkutan.


 “Ah, ada-ada saja," kata Bung Karno.


Oey membujuk Bung Karno, “Cuma dipeluk saja,” katanya. Sukarno setuju. Markam pun merangkul Presiden. Hadirin tertawa ramai. Keluar kocek Rp 50 juta dari kantong Markam.


Siapa nyana, Markam mendekati Oey lagi sambil berkata, kalau dirinya diizinkan mencium Presiden, dia akan menambah Rp 100 juta lagi. Ketika keinginan itu disampaikan, Bung Karno menolak.  Namun, Oey  kembali membujuk Bung Karno, “Apalah artinya dicium pipi sejenak, dana akan bertambah 100 juta. Itu bukan sedikit,” kata Oey.


Akhirnya, Bung Karno bersedia lagi. Markam mencium pipi Presiden. Hadirin semakin riuh. Dana bertambah Rp 100 juta ke kas negara. Galang dana Dwikora itu terus berlangsung. Sukarno menanyakan kepada Mulyadi berapa dana yang sudah terkumpul. Setelah dihitung, dana yang terkumpul mencapai Rp 650 juta.


Oey mencoba menggoda Bung Karno lagi, “terus saja sampai satu milyar,” katanya. Tapi Bung Karno menjawab bahwa angka segitu sudah lebih dari cukup untuk sementara. Dana yang diperoleh pada hari itu melebihi jumlah yang menjadi target semula, Rp 250 juta. Karena kelelahan, Bung Karno menyudahi acara penggalangan dana tersebut. Upaya mengganyang Malaysia ternyata membuat Bung Karno benar-benar repot.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji

Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji

Pengusaha hiburan malam yang mengorbitkan banyak penyanyi beken ini mengalami kejadian aneh saat menunaikan ibadah haji.
bottom of page