Masuk Daftar
My Getplus

Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia

Rakyat Bangka mengumpulkan dana untuk mendukung Republik Indonesia di hadapan para pejabat dan tentara Belanda. Peristiwa penting yang terlupakan.

Oleh: Andri Setiawan | 06 Jul 2022
Para pemimpin Republik ketika berada di Menumbing, Bangka pada Desember 1948. (Wikimedia Commons).

Pada 6 Juli 1949, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para menteri yang diasingkan di Bangka kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya, pada 4 Juli 1949 mereka mengadakan perpisahan dengan rakyat di Muntok yang dihadiri 300 orang. Pada hari berikutnya, para pemimpin bangsa itu mengadakan perpisahan dengan rakyat di Pangkalpinang yang dihadiri lebih dari tiga ribu orang.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana dalam akun twitter-nya @margana_s (5/7) mengungkap peristiwa penting yang terlupakan dalam sejarah, di mana pada kesempatan itu rakyat Bangka menyumbangkan uang sebesar f.90.170,18 atau nilai sekarang kurang lebih setara dengan Rp14 miliar.

“Uang itu diserahkan langsung kepada Sukarno di sebuah gedung di Jl. Balai, sekarang Jl. KH Hasan Basri, kantor Koramil, disaksikan 3.000 orang rakyat Bangka,” tulis Margana.

Advertising
Advertising

Baca juga: Langkah Gila Belanda di Yogyakarta

Sumbangan itu disebut dalam bijlage atau lampiran laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. Lampiran yang dibuat oleh Pusat Panitia Penjokong Pembangunan “Djogdjakarta” itu merinci distrik-distrik yang menyumbang, seperti Pangkalpinang, Petaling, Sungai Selan, Sungai Liat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Muntok dan Djebus.

“Dana itu didapat dari para dermawan, hasil pertunjukan amal, lelang barang, dan penjualan bunga oleh kaum perempuan muda serta ibu-ibu di Bangka,” tulis Margana.

Menurut Margana, Sukarno sangat terkesan dengan apa yang dilakukan rakyat Bangka. Terlebih penggalangan dana ini dilakukan secara terang-terangan di hadapan pejabat dan tentara Belanda yang menduduki Bangka.

Bukti sumbangan rakyat Bangka dalam lampiran (bijlage) laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. (Dok. Sri Margana).

“Sukarno menyebut rakyat Bangka ‘Republiken Sejati’. Sayang peristiwa ini telah dilupakan sejarah,” tulis Margana.

Dalam otobiografinya Memoir, Mohammad Hatta berkisah bahwa dia, Mr. Asaat, Mr. Gafar Pringgodigdo, dan Suryadi Suryadarma diasingkan ke sebuah pesanggrahan tambang timah di kaki gunung Menumbing, dekat Muntok pada akhir Desember 1948.

Baca juga: Bung Hatta Dikerangkeng Belanda

Di sana, mereka sempat tak diizinkan keluar dan pesanggrahan mereka sempat dipasangi kerangkeng kawat meski hanya beberapa hari. Bung Hatta menyebut, setelah diperbolehkan keluar dari area pesanggrahan, banyak kampung ingin mereka datang.

“Tatkala rakyat sekitar Muntok telah tahu bahwa kami telah boleh keluar dari tempat ‘pertapaan’ kami, banyak datang permintaan agar kami datang mengunjungi kampung mereka, misalnya dari Sungai Liat, Jebus, dan Belinyu,” kata Hatta.

Sementara itu, Sukarno diasingkan ke Bangka sejak Januari 1949, setelah sebelumnya dia diasingkan ke Prapat, Sumatra Utara. Dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, ia tak banyak bercerita mengenai Bangka.

Baca juga: Pejuang Parapat Ingin Culik Bung Karno Secara Terhormat

Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, ketika berkunjung ke Bangka. (Dok. Pribadi).

Menurut Daniel S. Lev dan Ruth T. McVey dalam Making Indonesia, kedatangan para pemimpin Republik ke Bangka membangkitkan antusiasme dan simpati banyak kalangan termasuk anggota Bangka Raad.

Antusiasme ditunjukkan ketika kabar kedatangan Sukarno tersiar. Rakyat berkumpul di sepanjang jalan bandara di Pangkalpinang, bahkan sebagian datang dengan bus. Ketika pesawat yang ditunggu-tunggu ternyata bukan pesawat Sukarno, sekira dua ribu orang berbondong-bondong pindah ke pelabuhan.

Baca juga: Duka Australia di Pulau Bangka

Mobil yang dikirim untuk menjemput Sukarno tak bisa masuk ke pelabuhan. Sukarno sendiri memilih jalan kaki. Massa rakyat mengangkat Sukarno ke bahu mereka dan meneriakkan pekik “merdeka.” Sukarno kemudian duduk di kap mobil dan semakin membuat massa bersemangat.

“Mereka mendorong kendaraan yang mogok, Sukarno dan semuanya, melewati jalanan,” tulis Lev dan McVey.

Sukarno, Mohammad Hatta, dan Haji Agus Salim kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949. (Dok. Sri Margana).

Baca juga: Penaklukkan Sriwijaya di Pulau Bangka dan Jawa

Rakyat Bangka juga tampak mendukung ide-ide Republik ketimbang konsep federal. Ketika Bung Hatta melakukan satu perjalanan dari Muntok ke Pangkalpinang pada Februari 1949, orang-orang berkumpul di pinggir jalan dan meneriakkan “merdeka” seolah-olah Bangka tidak sedang diduduki Belanda.

Merujuk pada laporan kepolisian pada 1949, rakyat Bangka begitu bersimpati kepada para tawanan ketika mereka dibebaskan. Misalnya, ketika Bung Hatta dan Masjarif mengunjungi pasar di Pangkalpinang, lagi-lagi terdengar teriakan-teriakan “merdeka”.

“Orang-orang berteriak untuk menemuinya. Panitia penyambutan dibentuk dan uang dikumpulkan untuk digunakan para tahanan,” tulis Lev dan McVey.

Baca juga: Peranakan Tionghoa di Bangka-Belitung

Sukarno, Hatta, dan para menteri tiba di Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Di sepanjang jalan dari Maguwo hingga kota Yogyakarta, rakyat mengelu-elukan kembalinya para pemimpin dari pengasingan di Bangka dengan berbagai spanduk yang penuh kegembiraan.

“Peristiwa 6 Juli ini dikenal dengan Djogja Kembali. Pada masa Orde Baru monumen Jogja Kembali (Monjali) dibangun tetapi Soeharto memiliki interpretasi lain. Jogja kembali bukan kembalinya para pemimpin Republik dari Bangka, tetapi 19 Juli ketika Soeharto menjemput kembali Jenderal Soedirman kembali dari gerilya,” tulis Margana.

TAG

sukarno hatta bangka

ARTIKEL TERKAIT

Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno Ke London Kenaikan Harga BBM Masa Sukarno Tujuh Cerita Ringan Sukarno Bung Hatta Sebagai Idola Lima Cerita Ringan Sukarno Konflik Sukarno dengan Adam Malik Jejak Nelson Mandela di Indonesia Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman Sukarno Sakit Ginjal Ende dan Perenungan Bung Karno