top of page

Kerangkeng Belanda

Belanda mengasingkan pemimpin Republik Indonesia di Pulau Bangka. Sempat dikerangkeng dengan kawat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Pulau Bangka setelah agresi militer Belanda kedua. (Wikimedia Commons).

28 Jan 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 22 Feb

BELANDA melancarkan agresi militer kedua atau Operasi Gagak (Operatie Kraai) ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Para pemimpin Republik Indonesia ditawan dan diasingkan. Belanda tidak menyebutnya pengasingan tapi "penjagaan untuk melindungi". Sukarno, Sutan Sjahrir, dan Haji Agus Salim diasingkan ke Berastagi, Sumatra Utara, yang tak lama kemudian dipindahkan ke Parapat di tepi Danau Toba.


Sedangkan Mohammad Hatta, Mr. Assaat, Mr. A.G. Pringgodigdo, dan Laksamana Udara Suryadi Suryadarma, diasingkan di sebuah rumah di Gunung Menumbing, dekat Muntok, Pulau Bangka. Rumah itu milik perusahaan tambang timah, Bangka Tin Winning Bedrijf. Di dalamnya kira-kira ada sepuluh kursi dan satu radio, sehingga mereka dapat mendengarkan apa yang terjadi di dunia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page