Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Kutu Subversif dalam Rambut Gondrong

Dianggap tak mencerminkan kepribadian bangsa dan bisa menjurus perbuatan kriminal, pemerintah Orde Baru melarang anak-anak muda berambut gondrong.
 
Peringatan dilarang berambut gondrong di Danres 932 Salatiga.
Foto
Historia
pengunjung
20.7k

Pada dekade pertama Orde Baru, ihwal rambut gondrong rupanya menjadi anasir serius dalam pemberitaan media-media Jakarta. Rambut gondrong dianggap tak mencerminkan “kepribadian bangsa.” Militer pun merasa perlu membikin kebijakan khusus untuk perkara ini. Terjadi razia di jalan-jalan. Bukan senjata yang ditenteng –modal utama saat membungkam komunisme sepuluh tahun sebelumnya, melainkan gunting! Otoritarianisme, dengan logika rust en orde ala ekonomi pembangunan, menjalar ke batas paling personal dari hak individu menentukan idealisasinya.

Dalam buku Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an, Aria Wiratma Yudhistira mengurai persoalan ini menjadi kajian sejarah sosial yang unik dan jarang disentuh para peneliti sebelumnya. Dia menelusuri suratkabar dan majalah guna menarasikan paranoid yang melingkupi pemerintahan Soeharto.

Tahun 1970-an adalah kurun awal Soeharto memainkan perseteruan antar-elit milter dengan membiarkan kedua kaki-tangannya, Soemitro dan Ali Moertopo, bersaing. Pintu modal asing dibuka seluasnya. Para teknokrat lulusan Berkeley menduduki jabatan strategis dalam kebijakan ekonominya. Proyek “bersih lingkungan” dari “virus komunisme” diperkencang.

Di sisi lain, dunia dilanda demam hippies sebagai perlawanan budaya. Tren fashion mendapat tempatnya pada diri musisi-musisi beken selagi terjadi ketidakpercayaan yang cukup lebar di antara kaum muda terhadap kaum tua. Menyebar melalui koran, majalah, serta radio dan film-film, anak muda di kota-kota besar di Indonesia terbawa pengaruh mode macam ini. Mereka menyalurkan ekspresi kebebasan dengan membiarkan rambut tumbuh gondrong, celana berpotongan cutbrai, pakaian tampil kedodoran.

Mereka anak muda dalam pengertian sebatas pengikut gaya hidup. Namun, ada sekelompok anak muda, umumnya mahasiswa, yang makin muak dengan arah pemerintahan Orde Baru. Ironisnya, mereka merupakan pendukung awal Orde Baru yang menjatuhkan kekuasaan Sukarno. Mereka melawan korupsi. Mereka melawan militer. Mereka melawan fusi politik. Mereka juga menentang proyek Taman Mini Indonesia Indah yang diusulkan Tien Soeharto.

Pengertian “pemuda” di kurun ini dicitrakan sebagai golongan yang mengkhawatirkan. Para pejabat di Jakarta melihat tindak-tanduk pemuda sudah di luar hasrat impian orang tua. Ada debat opini dalam suratkabar. Ini sungguh berkebalikan dengan dinamika yang terjadi pada awal kemerdekaan –yang digambarkan begitu apik oleh Benedict Anderson dalam Revolusi Pemuda. Penyosokan pemuda berambut gondrong, dengan pakaian informal, bicara blak-blakan, dalam revolusi fisik merupakan anasir patriotik. Singkat kata, identifikasi pemuda pada 1970-an melanggar pakem kekuasaan Orde Baru, dengan gaya Jawanisme –pengertian bahwa pemerintah adalah “bapak” sementara warga sipil adalah “anak-anaknya”. Politik berubah menjadi kredo personal para penguasa.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Peringatan dilarang berambut gondrong di Danres 932 Salatiga.
Foto
Peringatan dilarang berambut gondrong di Danres 932 Salatiga.
Foto