Awal Sejarah Polisi Singapura

Dari pengangguran, Francis Bernard sukses menahkodai Kepolisian Singapura. Fondasinya bertahan hingga Kepolisian Singapura sekarang menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Oleh: Petrik Matanasi | 02 Apr 2025
Awal Sejarah Polisi Singapura
William Farquhar sebagaimana dilukis John Graham Gilbert. Falquhar merupakan orang yang membentuk kepolisian Singapura. (Wikipedia.org)

KEPOLISIAN Singapura telah menangkap 25 orang dan menyelidiki 65 orang lainnya menyusul operasi antipenipuan skala besar yang dilakukan sejak pertengahan Februari hingga awal Maret. Operasi tersebut menargetkan individu-individu yang terlibat dalam penipuan peniruan pejabat pemerintah, penipuan investasi, dan penipuan pekerjaan.

Polisi bekerjasama dengan bank-bank lokal dan berhasil menyita sekitar 1,9 juta dolar Singapura yang diduga merupakan hasil penipuan. Lebih dari 300 rekening bank yang terkait dengan transfer dana ilegal, kata Kepolisian, telah diidentifikasi dan dibekukan.

Polisi Singapura punya reputasi amat baik. Kini, ia sebagai salah satu polisi terbaik dunia.

Advertising
Advertising

Kisah berdirinya kepolisian Singapura tak bisa dilepaskan dari William Farquhar, orang Inggris pertama yang mendirikan dan memimpin permukiman Inggris di Pulau Singapura atau Tumasek.

Setelah Thomas Stanford Raffles –yang tiba di sana pada  29 Januari 1819– selesai menegosiasikan pendirian koloni Inggris di pulau tersebut dengan penguasa lokal asal Johor, daerah itu pun menjadi koloni Inggris. Maka William Farquhar (1774-1839) yang memimpin permukiman Inggris pun memimpin koloni Inggris itu dengan jabatan residen, dilengkapi dengan pasukan Inggris. Namun Belanda, yang menguasai Malaka, baru resmi mengakui pada 1824.

Sebuah sebuah koloni yang menghasilkan uang, Singapura harus memiliki keamanan dan ketertiban. Maka dibutuhkan kepolisian. Urusan ini lalu diselesaikan oleh Farquhar dan menantunya, Francis James Bernard.

FJ Bernard merupakan pemuda penuh hasrat. Dia sudah berlayar dari Inggris sampai ke Kalkuta di India selagi umurnya belum genap 14 tahun. Di sana dia kemudian menjadi bagian dari Bengal Pilot Service. Pada 1810, dia pindah ke Angkatan Laut dengan pangkat Mualim Dua.

“Pada tanggal 26 Juni 1818 Bernard menikahi Esther Farquhar di Gereja St. John di Kalkuta, dan pasangan itu berlayar ke Penang dengan Mysore pada bulan Agustus. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Melaka di mana ayah Esther, Mayor William Farquhar, menjadi Residen dan Komandan,” tulis Nadia Wright dalam “The Career of francis James  Bernard: Nepotism and Patronage in early Singapore” di Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society Volume 89 Nomor 2, December 2016.

Seturut Farquhar memimpin Singapura, Bernard dipercaya mengelola kebutuhan sehari-hari pelabuhan dan pergudangan Singapura. Tugasnya terbilang berat karena fasilitas pelabuhannya masih sangat sederhana dan dia sendiri kekurangan personel. Bernard kemudian digantikan oleh pejabat yang lebih senior. Bernard yang menganggur kemudian mencoba peruntungannya ke institusi kepolisian yang baru didirikan.

“Untuk memerangi peningkatan kejahatan dan masalah sosial yang disebabkan oleh populasi Singapura yang meningkat pesat, Farquhar ingin memperkenalkan izin untuk mengatur penjualan opium dan arak, serta pengelolaan rumah judi. Dari biaya yang terkumpul, ia bermaksud untuk mendirikan pasukan polisi kecil,” tulis Nadia Wright.

Pemikiran Farquhar tersebut tak dihalangi Raffles dan atasan-atasan lainnya. Kepolisan dianggap perlu oleh para pejabat Inggris.

Mulanya, Farquhar mengusulkan David Napier sebagai asisten polisi –semacam mantri polisi di Indonesia zaman Hindia Belanda, namun ditolak Raffles. Namun Farquhar juga menyampaikan ke Raffles bahwa Bernard telah menawarkan jasanya sebagai asisten polisi tanpa gaji untuk sementara waktu. Disampaikannya pula Bernard punya kelebihan dalam pengetahuan orang-orang Melayu dan komunitas-komunitas Asia lain serta mampu berbahasa Melayu.

Raffles setujui Bernard untuk asisten polisi sementara waktu. Setelahnya, dia menyerahkan pemilihan kepala polisi kepada Farquhar dan Bernard pun disetujui untuk terus menjadi asisten polisi dengan gaji sekitar 150 dolar tiap bulan alias separuh dari gajinya sebagai kepala petugas yang menjaga pelabuhan dan sekitarnya.

Di Kepolisian Singapura yang eksis mulai Mei 1820 itu, Bernard punya staf yang terdiri dari juru tulis bernama Radin Mahomed,  satu sipir penjara, satu jemadar (sersan) dan delapan peada (polisi rendahan). Jumlah total personel Kepolisian Singapura pada awal itu tak lebih dari 12 orang.

Dalam menjalankan tugasnya, Bernard bekerjasama dengan para kapitan (kepala masyarakat berdasar etnis) setempat dan mertuanya sendiri. Selain mengurus keamanan wilayah, Bernard juga terlibat dalam urusan utang-piutang warga di sana.

Seiring dengan populasi Singapura yang cepat bertambah, tanggungjawabnya Bernard bertambah besar. Gajinya jelas tak memadai. Tunjangannya lalu ditambah.

Bernard lalu mendirikan suratkabar Singapore Chronicle. Mulai terbit pada Januari 1824.

Kendati tak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan, Bernard tak akur dengan Raffles dan pejabat lain yang membawahi Singapura macam John Crawfurd. Hubungan itu jelas mempengaruhi kinerjanya. Pada 1825, Bernard akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai asisten polisi, yang memimpin Kepolisian Singapura, dan memilih jadi notaris publik. 

Meski tanpa Bernard, Kepolisian Singapura terus berlanjut sejarahnya. Seiring kemajuan Singapura, kepolisiannya pun terus berkembang.

"Pada 1884, Cabang Detektif dibentuk, tetapi juga gagal menarik rekrutan Tionghoa. Pada awal 1900-an, pelatihan dasar diberikan; calon perwira diharuskan mengikuti ujian dan mempelajari bahasa setempat (dialek India, Melayu, atau Tionghoa). Unit-unit khusus dibentuk: departemen keamanan internal pada tahun 1919, cabang marinir pada 1919, cabang lalu lintas pada 1926, dan cabang untuk memantau negara-negara komunis pada 1936,"  tulis Nena Vreeland dalam Area Handbook for Singapore.

Setelah sekira dua abad berdiri, Kepolisian Singapura kini beranggotakan 15 ribu personel tetap yang terlatih dengan baik kendati ada juga Prajurit Polisi Nasional paruh waktu. Manajemen, kesejahteraan, dan pelatihan yang baik membuat kepolisian berhasil menjadikan Singapura sebagai salah satu negara teraman di dunia sekarang.

TAG

singapura thomas stamford raffles eic

ARTIKEL TERKAIT

Antara Temasek, 1MDB, dan Danantara Cerita Mayor Selamat Ginting Cari Senjata ke Singapura Sayuti Melik dalam Gerakan Bawah Tanah Singapura Tourney Negeri Jiran yang Dicontek FIFA Benteng Labrador Saksi Bisu Pertahanan Terakhir Singapura Sayuti Melik dalam Gerakan Bawah Tanah Singapura Insiden Hartini di Singapura Kerusuhan Siswa Tionghoa Singapura, Cara Komunis-Nasionalis Lawan Kolonalis Inggris Kisah Tentara Jadi Diplomat "Anak Tiri" di Pertempuran Kranji