Jalan Panjang Mewujudkan Monumen Nasional

Sukarno percaya pada kekuatan monumen, pada makna yang ada di baliknya. Kekuasaannya runtuh, tetapi monumennya bertahan.

13 July 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Jalan Panjang Mewujudkan Monumen Nasional
Monumen Nasional pada 1970-an.

Monumen Nasional (Monas) dibuka untuk umum pertama kali pada 12 Juli 1975. Tidak mudah untuk mewujudkan Monas dan membentuknya secara utuh dalam satu gagasan besar. Perlu waktu hampir 14 tahun untuk merampungkan pembangunan fisik tugu setinggi 132 meter ini. Gagasan pembangunannya pun dirembug selama hampir enam tahun.

Siapa penggagas pembangunan Monas masih simpang siur. Adolf Heuken, sejarawan Jakarta, dan Solichin Salam, penulis buku Tugu Nasional dan Soedarsono, menyebut penggagasnya adalah Sukarno. Kala itu pusat pemerintahan Indonesia kembali ke Jakarta setelah mengungsi di Yogyakarta selama hampir tiga tahun sejak 1947.

Sukarno berpikir perlu ada sebuah bangunan di Jakarta untuk mengekalkan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaannya.

“Presiden Sukarno sudah memikirkan membangun sesuatu yang monumental seperti Menara Eiffel (Paris),” ungkap Adolf Heuken dalam Medan Merdeka: Jantung Ibukota RI. Menara Eiffel tinggi menjulang, melambangkan kebesaran dan pencapaian bangsa Prancis.

Sayembara Gagal

Dalam bayangan Sukarno, monumen lambang perjuangan bangsa itu juga mesti berdiri di sebuah tempat heroik. Tempat semacam itu telah terhampar di wilayah Gambir: Lapangan Merdeka atau dulunya Lapangan Ikada. Tetapi bagaimana bentuk monumen itu nantinya, belum terang benar. Hanya terlintas gambaran tentang sebuah tugu serupa lingga.

Untuk membantu mewujudkan monumen tersebut, pemerintah Indonesia membentuk Panitia Tugu Nasional pada 17 September 1954. Ketuanya bernama Sarwoko Martokoesoemo, seorang biasa pekerja swasta. Inilah nama lain yang dipandang sebagai penggagas Monas.

Baca juga: Dari Lapangan Kerbau Sampai Lapangan Monas

Cerita termaksud berasal dari Sudiro, walikota Jakarta (1953—1959) sekaligus anggota Panitia Tugu Nasional, dalam artikelnya di Kompas, 18 Agustus 1971 dan penuturannya kepada penulis Soedarmadji J.H. Damais dalam Karya Jaya: Kenang-Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta 1945—1966..

Panitia menyampaikan rencana pembangunan Tugu Nasional kepada Sukarno. “Tugu Nasional bentuknya akan tetap dibuat sederhana, tetapi harus terasa agung,” kata Sudiro. Tinggi Tugu Nasional sekira 45 meter. Panitia tak menyangka ternyata tanggapan Sukarno begitu meluap-luap.

Sukarno tak ingin tanggung-tanggung dalam membangun Tugu Nasional. Dia menginginkan tugu itu lebih tinggi, lebih dari 100 meter. Ada pula museumnya dan emas murni pada puncaknya. Demikian Sudiro membagi pengalamannya.

Di luar dua versi cerita awal gagasan Monas, jalan cerita selanjutnya tentang pembangunan Monas tak banyak perbedaan. Panitia membuka sayembara pembangunan Tugu Nasional pada 17 Februari 1955. Masyarakat boleh mengirimkan rancangan karya Tugu Nasional. Syaratnya, rancangan tersebut harus memenuhi lima kriteria panitia tentang Tugu Nasional.

Panitia menginginkan rancangan Tugu Nasional harus memenuhi apa yang disebut sebagai sebuah bangsa. Tugu juga mesti menggambarkan dinamika, kepribadian, dan cita-cita bangsa Indonesia.

Lalu kudu pula tugu itu menggambarkan api (semangat) di dalam dada bangsa Indonesia. Dua kriteria lainnya:  tugu patut menggambarkan sesuatu yang bergerak meski tersusun dari benda mati dan mampu bertahan selama berabad-abad.   

Semua karya masuk dinilai juri. Sukarno sebagai ketua juri kurang sreg dengan karya-karya tersebut. Panitia pun membuka kembali sayembara untuk khalayak pada 10 Mei 1960. Hasilnya sama. Juri menilai tak ada karya memenuhi kriteria panitia.

Sukarno berkeputusan menunjuk langsung perancang Tugu Nasional, yaitu Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono. Keduanya arsitek ternama. Masing-masing mengajukan rancangannya dan berhasil memenuhi kriteria panitia.

Rancangan Soedarsono

Sukarno tertarik dengan rancangan Silaban. Tetapi dia meminta Silaban memperkecil monumen agar sesuai dengan keuangan negara. Beberapa fungsi ikut pula terhapus. Tingginya juga berkurang. “Tetapi, Silaban tidak menyetujuinya dan mengusulkan, supaya pembangunan diundur sampai ekonomi Indonesia lebih sehat,” catat Heuken.

Sukarno beralih ke rancangan Soedarsono. Sebuah tugu (lingga) setinggi 111,70 meter di atas pelataran persegi empat berukuran 45 meter. Tugu itu ditopang oleh cawan (lumpang) persegi empat setinggi 17 meter. Di dalam cawan itu terdapat museum sejarah dengan ketinggian 8 meter. Semua angka tersebut lambang waktu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Doa Silaban Ketika Merancang Masjid Istiqlal

Tentang maksud pengadaan museum sejarah di dalam cawan, Sukarno menjelaskan sebagai berikut. “Agar supaya tiap-tiap manusia Indonesia yang masuk dalam museum sejarah itu keluar dari museum itu nanti dengan rasa I am Indonesian,” kata Sukarno dalam pidatonya, termuat di Revolusi Belum Selesai suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

Selesai dengan urusan perancangan, pemerintah lantas mengumumkan pembangunan fisik Monas akan segera berjalan di Lapangan Merdeka pada Agustus 1961. Untuk itu, Lapangan Merdeka harus lekas bersih dari segala macam bangunan. Kantor Besar Kepolisian, Stadion Persija, dan Kantor Telepon dipindahkan ke tempat lain.

Dana pemindahan bangunan di Lapangan Merdeka dan pembangunan Monas berasal dari sumbangan masyarakat, sumbangan pengusaha, sumbangan ekspor kopra, dan sumbangan karcis bioskop. “Tidak saya bangunkan dengan satu sen pun daripada budget negara!” kata Sukarno.

Kritik Terhadap Monas

Sukarno berkata seperti itu untuk menanggapi para pengkritik Monas. Kritik terhadap pembangunan Monas sangat keras. Para pengkritik mengatakan bahwa Sukarno menghambur-hamburkan uang negara dan melupakan kebutuhan nyata rakyat di tengah situasi ekonomi morat-marit.

Rakyat butuh makan dan pakaian. Bukan sebuah monumen! Begitu kata para pengkritik. Terhadap kritik termaksud, Sukarno berpendapat bahwa monumen sama pentingnya seperti pangan dan pakaian.

Monumen adalah makanan jiwa bagi sebuah bangsa. Monumen adalah juga pakaian untuk sebuah bangsa. “Bangsa tidak hidup dari roti dan nasi tok,” kata Sukarno.

Sukarno percaya pada kekuatan monumen, pada makna yang ada di baliknya. “Sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat bahkan, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman,” ujar Sukarno.

Para pengkritik Monas tidak peduli dengan semua penjelasan Sukarno. Tetapi kritik keras mereka tidak berhasil menahan pembangunan Monas. Tugu itu mulai berdiri semeter demi semeter. Peristiwa G30S 1965 dan kejadian-kejadian setelahnya sempat membuat pembangunan Monas berhenti.

Era Sukarno runtuh, tetapi monumennya bertahan. Kekuasaan selanjutnya meneruskan pembangunan Monas hingga rampung dan dibuka untuk publik pada 12 Juli 1975. Berakhirlah penantian itu. Tetapi Sukarno tak sempat melihat pembukaannya. Dia sudah wafat lima tahun sebelumnya.

Hari demi hari orang dari antero Indonesia silih berganti mendatangi Monas. Tidak ada lagi suara pengkritik Monas. Yang tersisa kini adalah suara pengkritik diorama museum sejarah di dalam cawan Monas. Sebab Orde Baru ternyata memberikan pandangan ulang tentang Monas yang berbeda jauh dari pandangan kekuasaan sebelumnya.

Itu terlihat dalam diorama di museum sejarahnya. Terlalu banyak penonjolan peran militer dalam diorama termaksud sehingga mengabaikan peran kelompok lain. Dengan begitu, Monas mempunyai dua gagasan terpisah. Dari luar, Monas masih mewarisi gagasan Sukarno. Tapi di dalamnya, Monas sangat Soeharto.

Sukarno
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK