Kala Kolera Menyerang Batavia

Kisah pembunuh nomor satu yang pernah mewabah di pusat Hindia Belanda.

1514957674000
  • BAGIKAN
Kala Kolera Menyerang Batavia
Vaksinasi kolera pertama oleh dokter J.J van Lonkhuijzen pada 1911. Foto: tropenmuseum.

Wabah difteri melanda tanah air pada penghujung 2017. Penyakit epidemi yang ditandai gejala peradangan saluran pernafasan dan demam ini lebih rentan menyerang anak-anak. Sebanyak 28 provinsi terjangkit wabah difteri, tak terkecuali Jakarta. Karena masifnya penularan dan besarnya jumlah korban meninggal, Kementerian Kesehatan menetapkannnya dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemerintah bahkan sampai mengeluarkan himbauan agar anak-anak divaksin difteri.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Jakarta kala masih bernama Batavia. Pembunuhnya bernama bakteri kolera (cholera asiatica). Orang awam lebih mengenalnya dengan sebutan “muntaber” (muntah berak).

Menurut buku Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia yang diterbitkan Departemen Kesehatan, penyakit kolera mulai dikenal pada 1821. Penyakit yang menyerang usus besar ini ditandai dengan gejala muntah-muntah dan buang air besar yang hebat. Penderita kolera dapat mengalami kematian dalam beberapa jam apabila tak mendapat penanganan secara serius.

Roorda van Eysinga, pegawai kolonial urusan pribumi (Indlansche Zaken), menyaksikan hiruk pikuk ketika wabah kolera menjangkit masyarakat Batavia. “Ada hari-hari ketika di Batavia terdapat 160 orang mati (akibat kolera). Mereka mengalami kejang-kejang hebat, dan meninggal dunia beberapa saat kemudian,” catat Eysinga dalam Verschillende Reizen en Lotgevallen.

Kolera menyebabkan kepanikan luar biasa di kalangan orang Eropa. Pasalnya, wabah kolera menyebar lebih cepat dibadingkan penyakit epidemi lainnya semisal malaria, tipus, atau disentri. Pada 1864, kolera merenggut nyawa sebanyak 240 orang Eropa. Sementara tingkat kematian di kalangan penduduk bumiputra mencapai dua kali lipat dari jumlah itu. Persebaran bakteri kolera biasanya menular lewat air minum, makanan, dan kontak langsung.

Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebutkan ragam kebiasaan unik warga Batavia untuk menangkal kolera. Bagi masyarakat etnis Tionghoa, wabah kolera dapat dicegah dengan menggelar pertunjukan barongsai yang mengitari permukiman pecinan. Mereka meyakini setan penyebar kolera takut pada barongsai. Sedangkan warga bumiputra yang beragama Islam akan menghindari penyakit ini dengan meminum air khusus yang didoakan oleh para kyai.

“Kolera merupakan penyakit yang sangat baru dan menyebarluas dengan cepat sehingga komunitas Indonesia dan Tionghoa menanggapinya dengan cara yang tak lazim,” tulis Susan Blackburn.

Dalam Ensiklopedia Jakarta: Volume 2, tahun 1910 dan 1911 tercatat sebagai tahun kolera. Selama jangka waktu itu, rata-rata tiap 1000 orang bumiputra yang tinggal di hulu kota meninggal sedangkan di kota hilir (Batavia Lama) jumlahnya 148 orang. Hingga mendekati akhir, total warga Batavia yang meninggal diperkirakan sebanyak 6000 orang.

“ Begitu banyaknya orang meninggal sehingga banyak mayat yang tidak sempat dikubur. Mayat-mayat itu diletakkan didekat jalan raya bersama peti matinya. Wabah itu bahkan menyebar hingga ke kota Bogor,” tulis Wiwin Juwita Ramelan, dkk dalam laporan penelitian di Universitas Indonesia berjudul 'Penyakit Menular di Batavia'.

Dari Batavia, kolera bahkan terbawa hingga ke ujung utara Sumatra. Menjelang abad 20, tentara Belanda mengadakan ekspedisi militer untuk menaklukkan Aceh. Sebagaimana diungkap Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh, kolera masih terus berjangkit di kalangan serdadu Belanda dan menyebar pula kepada orang-orang Aceh.

Menangani Kolera

Pemerintah kolonial menyatakan wabah kolera rentan menjangkit saat terjadi musim kemarau. Jumlah penderita kolera mulai menyusut memasuki musim penghujan. Namun kolera akan muncul lagi bila musim kemarau tiba ketika air sungai mendangkal.

Dampak sosial yang ditimbulkan wabah kolera cukup memprihatinkan kehidupan masyarakat kolonial di Batavia. Sangat sulit untuk merawat pasien dari kelas sosial rendah yang biasanya tinggal di ruangan kecil berdinding bata. Ruangan-ruangan itu harus ditutup rapat untuk mencegah aliran udara. Mereka dirawat dengan metode pengobatan sederhana seperti mandi dengan air hangat atau kadangkala dengan arak.

“Kondisi menyedihkan mereka membuat perawatan itu menjadi pekerjaan yang tak tertahankan dan dapat dikatakan sangat menyengsarakan,” ujar Eysinga .

Pemerintah mulai menaruh perhatian terhadap sektor kesehatan beriringan dengan bergulirnya era politik etis. Sosialiasi penyuluhan kesehatan dan inovasi pengobatan ditingkatkan. Pada 1911, vaksin kolera diperkenalkan kepada masyarakat.

Namun wabah kolera benar-benar tak dapat ditanggulangi sepenuhnya. Meski waksin sudah diproduksi, sampai dengan tahun 1920, penyakit kolera tetap mewabah setiap tahun. Di Batavia, kolera memang sulit diatasi mengingat buruknya sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan yang rendah.

  • BAGIKAN
2 Suka
BOOKMARK