- 20 Jun 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 17 Mei
PERTEMUAN Puan Maharani (PDIP) dan Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat) pada Minggu (18/6/2023) menandai kian intensnya manuver politik yang dilakukan partai-partai politik jelang Pemilihan Umum (pemilu) 2024. Maklum, hajatan demokrasi lima tahunan itu tinggal hitungan bulan.
Toh, manuver politik bukanlah hal baru dalam masa-masa menjelang pemilu. Pemilu 1955 yang menjadi pemilu pertama di Indonesia pun diwarnai banyak manuver sebelum penyelenggaraannya.
Pemilu 1955 sendiri diselenggarakan oleh panitia bernama Panitia Pemilihan Indonesia (PPI). Kendati berjalan lancar dan sesuai dengan tanggal yang dijadwalkan, tetap saja ada kekurangan wajar yang umum pada tiap hajatan. Selain dikarenakan usia Republik Indonesia masih belia, faktor yang menyebabkan adanya kekurangan dalam Pemilu 1955 adalah mepetnya waktu persiapan dan masih kuatnya ketidakstabilan politik khususnya di pusat. Kabinet jatuh-bangun, militer berkonflik dengan politisi sipil, dekolonisasi masih berjalan –setidaknya Irian Barat masih terus dipertahankan Belanda– merupakan masalah-masalah utama yang menjadi aral dalam kehidupan bernegara.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















