- 1 Jun 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 5 hari yang lalu
YUNAN Nasution, sekjen Partai Masyumi, menunggu giliran masuk ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo pada 7 April 1962. Ia tak sendirian. Bersamanya sejumlah kader Masyumi turut digelandang polisi militer, antara lain K.H. Isa Anshary, juru bicara Partai Masyumi, dan Ir. Ondang, pejabat Bank Indonesia sekaligus fungsionaris partai. Mereka ditahan atas keterlibatan sejumlah petinggi Masyumi dalam pemberontakan di daerah. Kelompok pemberontakan ini lebih dikenal dengan nama PRRI, pemerintahan tandingan yang menentang pemerintah pusat.
“Kyai Isa dan Yunan Nasution dan Ir. Ondang masuk disel. RTM artinya Rumah Tahanan Masyumi,” begitulah lelucon kawan-kawan sesama tahanan seperti dicatat Mochtar Lubis dalam Catatan Subversif.
RTM resminya bernama Asrama Tuna Terpidana Militer (Astuntermil). Karena terletak di Jalan Budi Utomo No. 7, Jakarta Pusat, ia lazim disebut RTM Budi Utomo. Penjara ini seyogianya diperuntukkan bagi personel militer yang melakukan pelanggaran. Namun, pada awal 1960, RTM ini juga difungsikan sebagai tempat tahanan politik, selain tahanan militer.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















