top of page

Gerakan Aron di Sumatra Timur

Para petani merebut lahan raja-raja dan menggarapnya secara gotong-royong. Ditumpas polisi Jepang.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 23 Jan 2023
  • 3 menit membaca

Pada masa pendudukan Jepang muncul gerakan subversif di wilayah Sumatra Timur yang meresahkan pemerintah Jepang dan kesultanan. Gerakan ini dinamai Aron, di mana para petani merebut dan menggarap lahan pertanian secara ilegal. Menyebabkan sejumlah tragedi berdarah, namun dianggap heroik di kemudian hari.


Gerakan Aron bermula dari Gerakan Indonesia Raya (Gerindo) Sumatra Timur. Kader-kader Gerindo juga bergabung dengan Serikat Tani Indonesia. Tujuannya untuk menyusun program-program yang membela kaum tani. Organisasi ini mempunyai komite-komite perladangan. Serikat Tani Indonesia kemudian menjadi gerakan Aron. Aron mengacu pada sekelompok petani yang bekerja secara bergotong-royong.


Gerakan Aron, menurut Brahma Putro dalam Karo dari Zaman ke Zaman, serupa dengan gerakan gotong-royong, di mana anggotanya bekerja demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Orang yang masuk gerakan Aron, biasanya muda-mudi dan ibu-ibu, disebut Raron.



“Kemajuan pertanian di daerah Kabupaten Karo adalah pengaruh dari pergerakan tenaga Aron di setiap kampung, di samping pengaruh kemajuan teknologi sekarang ini,” tulis Brahma.


Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 menyebut Aron pada mulanya merupakan organisasi saling bantu di kalangan kaum tani. Aron kemudian berkembang menjadi organisasi perlawanan terhadap fasisme dan kaum feodal yang hendak merampas tanah-tanah garapan di Deli, Langkat, dan Karo.


“Gerakan Aron ini dipimpin oleh kader-kader Gerindo yang terjun ke desa untuk melancarkan perjuangan antifasis sebagaimana yang telah digariskan oleh Mr. Amir Sjarifuddin, yaitu: ‘Tanah-air kita harus diselamatkan dari tangan dan budaya fasisme Jepang. Dengan segala cara dan usaha hendaknya dapat diselamatkan demokrasi untuk mencapai kemerdekaan nasional Indonesia’,” tulis Sidik.


Melalui Gerindo, Serikat Tani Indonesia, dan kemudian Aron, para petani dididik mengenai kesadaran nasional dan perlawanan terhadap raja-raja yang merampas tanah rakyat. Penggunaan istilah Aron membuat para petani dapat berkumpul tanpa dicurigai penguasa karena hanya terlihat seperti sekumpulan petani biasa.


“Dipilihnya nama Aron adalah sebagai penyamaran kepada penguasa Jepang,” tulis A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan Volume 1-2.


Surbakti mencatat, gerakan Aron di Deli Hulu terbagi menjadi tiga kepengurusan. Gerakan Aron Urung Sebanyaman dipimpin oleh Ngumban Surbakti, Usin Surbakti, Ng. Sitepu, dan K. Sinulingga. Gerakan Aron XII Kuta dipimpin oleh Kite Purba, Mabai Purba, Ngasil Sinuhaji, Pa Ngendik, dan Tek Karo-Karo. Gerakan Aron Sukapiring dipimpin oleh Kenaken Ketaren, Pehi Sembiring, Bangun Perangin-angin, dan Nimbang Ginting. Sedang pemimpin dari ketiga Gerakan Aron ini ialah Kite Purba (ketua) dan Terang Ketaren (ketua II).



Di dataran tinggi Karo, gerakan Aron dipimpin oleh Kolah Tarigan dan kawan-kawannya. Sementara di Langkat Hulu, gerakan Aron dipimpin oleh Jumbak Perangin-angin.


Setiap gerakan terbagi menjadi dua macam regu, Aron Belin (aron besar) dan Aron Kitik (aron kecil). Aron Belin berisi delapan hingga 12 orang anggota, sedang Aron Kitik berisi lima hingga tujuh orang anggota. Setiap Aron diketuai oleh Bapa Aron dan Nande Aron (Ibu Aron).


Brahma Putro menjelaskan, sepanjang tahun para anggota Aron bekerja dari ladang satu ke ladang lain secara bergiliran setiap hari. Selain bekerja secara gotong-royong menggarap lahan, gerakan Aron melakukan pengambilalihan lahan dari para sibayak di berbagai daerah.


“Tanah atau persawahan yang direbut Aron ini ialah tanah persawahan yang telah dikuasai oleh raja-raja, yang tadinya diperoleh sebagai hak istimewa dalam setiap pembukaan proyek persawahan,” tulis Brahma Putro.


Gerakan Aron tentu saja meresahkan penguasa Jepang dan para raja (datuk). Sejumlah petani Aron ditangkap dan pertikaian terjadi. Pada 6 Agustus 1942 dini hariterjadi insiden di Arnhemia, kota perkebunan orang Eropa sekira 17 km dari Medan. Para petani melakukan aksi menuntut pembebasan kawan-kawannya.



Dalam insiden itu, Inoue Tetsuro dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942-1945 menyebut para petani Aron akhirnya menyerang kantor polisi. Dua petani Aron tewas dan sejumlah orang luka-luka.


Inoue Tetsuro adalah kepala Kepolisian Kabupaten DeliSerdang yang kemudian ditugasi memberantas gerakan Aron. Ia dengan mudah menahan Jacub Siregar atau Iwan Siregar, mantan ketua Gerindo Sumatra Timur sekaligus pengurus Serikat Tani Indonesia. Tetsuro kemudian mempersiapkan perjalanan ke desa-desa untuk melakukan propaganda kepada kaum tani.


“Saya menulis dua surat, memasukkannya ke dalam amplop, dan mengalamatkannya. Pada keduanya saya menulis wasiat dengan warna merah di bagian samping. Satu untuk Chokan (residen) dan satu lagi untuk keluarga saya di Jepang,” tulis Tetsuro.* (Bersambung)

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
transparant.png
bottom of page