Serba-serbi Tradisi Wimbledon

Ragam tradisi di pentas Wimbledon. Ada yang sudah ditanggalkan, ada pula yang dipertahankan.

09 July 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Serba-serbi Tradisi Wimbledon
Para kontestan Wimbledon tak lagi disebut wasit dengan menyandang status pernikahan (Mr/Ms/Mrs) setelah 135 tahun tradisinya bertahan (Foto: wimbledon.com)

SETELAH serve-nya bisa dikembalikan Julia Görges, Serena Williams membalas lagi dengan forehand keras menyilang. Di poin kritis itu, Serena kemudian diselamatkan “dewi fortuna” ketika pengembalian bola Görges menyangkut di net. “Match, Williams,” kata sang wasit, yang artinya laga berakhir dengan kemenangan Serena di babak ketiga turnamen grand slam Wimbledon, Sabtu (6/7/2019), itu.

Sekilas, tidak ada yang aneh dari pertunjukan itu. Namun jika diperhatikan, ada yang berbeda dari Wimbledon ke-133 ini, yakni soal penyebutan panggilan dari wasit kepada pemain putri. Bila dulu wasit memanggil pemain putri yang belum menikah dengan “Miss” dan pemain yang sudah menikah dengan “Mistress” diikuti nama suami, kini gelar itu tidak ada lagi. Panitia melarang tradisi berbau patriarkis yang sudah bertahan 135 tahun itu.

Maka saat Serena menang, wasit tak memanggilnya “Match, Mrs. Ohanian” lantaran Serena sudah menjadi istri Alexis Ohanian sejak 2017. Wasit langsung memanggil nama belakangnya tanpa menyebut status atau nama belakang suaminya. Hal serupa diberlakukan di sektor putra.

Alexandra Willis, juru bicara Wimbledon, menyatakan perubahan sejak babak pertama Wimbledon salah satunya dalam rangka penyetaraan gender. “Kita harus melangkah maju seiring waktu,” katanya kepada The Sun, 2 Juli 2019.

Ada yang setuju, ada pula yang menyayangkan penanggalan tradisi lebih dari satu abad itu. Petenis tuan rumah Heather Watson menyatakan, “Kesetaraan selalu merupakan hal yang bagus.” Sementara, pernyataan berseberangan datang juara bertahan tunggal putra Novak Djokovic. “Saya pikir tradisi itu sangat unik dan istimewa. Saya cukup terkejut mereka menanggalkanya,” kata Djokovic.

Sebagai turnamen tenis tertua, Wimbledon punya banyak tradisi. Panggilan pemain hanya salah satunya kendati kini sudah ditiadakan. Berikut empat tradisi Wimbledon yang masih dipertahankan:

Busana Serba Putih

Semua pemain yang bertanding di Wimbledon diwajibkan mengenakan busana all-white alias serba putih dan sopan, terlepas dari warna hijau tua dan ungu yang jadi warna tradisional Wimbledon. Warna berbeda hanya dibolehkan untuk corak atau motif yang tak mendominasi busana.

Kewajiban all white yang dikeluarkan sejak 1963 bukan hanya meliputi atasan dan bawahan, tapi juga kaus kaki, sepatu, body stocking, dan topi/bandana. Kewajiban yang sudah muncul sejak Wimbledon pertama pada 1877 itu namun baru diresmikan pada 1963.

Kenapa putih? John Barret dalam Wimbledon: The Official History of the Championships mengungkap, warna putih adalah warna tradisional paling dibanggakan Inggris Raya sejak era Victoria.

Dalam praktiknya, tidak sedikit pemain yang melanggarnya. Pada 1949, Gertrude Moran mengenakan dalaman rok yang warnanya menyerupai warna kulit. Pada 1989, Boris Becker diperintahkan wasit mengganti kausnya yang berwarna hijau bergaris biru.

Larangan itu amat mengekang bagi para pemain yang sadar mode. Petenis flamboyan Andre Agassi sejak 1988 sampai memboikot Wimbledon lantaran enggan pakai serba putih. Namun ia mengentaskan boikotnya saat edisi 1992 sekaligus memenangkan Wimbledon pertamanya.

Keluarga Kerajaan

Bukan Wimbledon namanya kalau tak dihadiri anggota Kerajaan Inggris Raya di Royal Box di Centre Court atau lapangan utama. Meski sudah dimulai sejak 1877, Wimbledon baru jadi tontonan wajib keluarga kerajaan pada 1907. Bruce Tarran mengungkapkan dalam George Hillyard: The Man Who Moved Wimbledon, tradisi itu bermula dari permintaan George Hillyard, sekretaris All England Club, kepada Pangeran George, presiden All England Club, untuk menyerahkan trofi kepada pemenang turnamen.

“Tiga tahun kemudian, 1910, sang pangeran menjadi Raja George V dan menjadi ‘Bapak All England Club’ – meresmikan tradisi kehadiran keluarga kerajaan sampai sekarang,” tulis Tarran.

Alhasil, setiap pemain mesti lebih dulu hormat dengan membungkukkan badan ke Royal Box setiap ada keluarga kerajaan yang nonton. Tapi sejak 2003 diputuskan pemain hanya wajib membungkuk jika yang hadir adalah Ratu Elizabeth II atau suaminya, Pangeran Philip.

Barisan Serdadu

Tradisi barisan serdadu di tiap lapangan jadi pemandangan unik dalam turnamen Wimbledon. Menukil situs resmi pemerintah Inggris, gov.uk, 2 Juli 2010, tradisi barisan serdadu yang berjaga di antara lapangan dan tribun penonton bermula pasca-Perang Dunia II pada 1946. Gagasannya adalah All England Club ingin membantu para serdadu aktif maupun yang baru pensiun agar bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan sipil selepas bertugas di medan perang.

Mulanya, barisan serdadu didatangkan hanya dari Angkatan Laut untuk menjadi Service Stewards atau pengawal turnamen. Seiring waktu, Angkatan Darat dan Udara juga turut disertakan. Para serdadu itu merupakan 300 serdadu pilihan yang melewati proses seleksi.

Mereka bisa mencicipi lagi rasanya hidup di tengah-tengah masyarakat dan bahkan tak jarang jadi sasaran permintaan foto dari para penonton. Hal itu membuat gairah hidup mereka terjaga. “Mulanya sulit menyesuaikan diri setelah setahun selesai bertugas di Irak. Berada di Wimbledon dengan seragam kebanggaan di hadapan publik, saya merasa masyarakat bisa melihat Angkatan Laut yang sebenarnya lewat keberadaan saya. Memang Wimbledon adalah turnamen tenis, tapi buat saya lebih kepada kebanggaan saya bisa berada di tengah publik,” ujar kelasi Stuart Linnahan, serdadu yang bertugas di Irak pada 2004 dan pernah bertugas di Wimbledon.

Stroberi dan Krim

Caption

Sampai sekarang, banyak sejarawan Inggris kesulitan mengaitkan hubungan antara tenis dan hidangan stroberi dan krim. Namun, stroberi dan krim tak pernah absen jadi suguhan yang disediakan penyelenggara kepada penonton dan pemain setiap edisi Wimbledon.

“Fakta turnamen dan stroberi dan krim yang beriringan mempertahankan aroma pesta kebun khas Inggris. Tradisinya memberi kesan kualitas, karakter, dan imej yang unik terkait Wimbledon,” ungkap Stephan Wagg dalam “The Wimbledon Effect: The Tennis Championships as Changing National Symbol”, dirangkum dalam Routledge Handbook of Tennis: History, Culture and Politics.

Suguhan Stroberi dan Krim itu sendiri merupakan salah satu sajian favorit di tiap-tiap pesta kerajaan sejak abad ke-16. Tetapi tetap saja misteri tentang keterkaitannya masih sangat rancu sejak jadi tradisi di Wimbledon pertama.

“Ada dua kemungkinan: kebetulan stroberi sedang musim panen saat turnamen (Wimbledon) digelar dan sejak era Victoria, stroberi menjadi makanan yang sedang tren untuk dikonsumsi,” kata Kepala Humas All England Club Johnny Perkins kepada CNN, 17 Juni 2015.

Tenis, Wimbledon, Sejarah-Olahraga
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK