Hakim Garis Azerbaijan Pujaan Publik Inggris

Ofisial pertandingan asal negeri terpencil yang jadi pujaan rakyat Inggris ini menjadi satu-satunya wasit yang namanya diabadikan untuk sebuah stadion.

1512220997000
  • BAGIKAN
Hakim Garis Azerbaijan Pujaan Publik Inggris
Tofiq Behramov, ofisial pertandingan yang dipuja Inggris dan negerinya hingga dijadikan nama stadion. Foto: Report.az

KETIKA berkunjung ke Baku, Azerbaijan untuk menyaksikan tim pujaannya menjalani laga kualifikasi Piala Dunia 2006 melawan tim tuan rumah, para suporter Inggris menyempatkan diri berziarah ke sebuah makam. Makam itu bukanlah makam tokoh besar, negarawan, politisi hebat, bintang lapangan hijau, pelatih, petinggi AFFA (Federasi Sepakbola Azerbaijan), atau pahlawan Inggris yang gugur di negeri seberang.

Para suporter Inggris juga menyempatkan diri bertemu Bahram Bahramov, anak dari orang yang makamnya mereka ziarahi itu. Dalam momen itu, para suporter mengenakan t-shirt merah bertuliskan “Bahramov” dengan nomor punggung 66 –mengingatkan “jasa” Bahramov untuk Inggris pada Piala Dunia 1966. Para fans Inggris itu lalu menghadiahi Bahram t-shirt bertuliskan “Cox Sag Ulun” atau “terima kasih” dalam bahasa Azerbaijan.

“Saya sangat senang melihat fans Inggris dan Azeri berada dalam atmosfer yang bersahabat. Sekarang Azerbaijan sudah merdeka dan waktunya sangat tepat untuk menghormatinya sebagai bagian dari bangsa Azeri. Figur seperti Tofiq Bahramov hanya lahir seratus tahun sekali,” ujar putranya, sebagaimana dikutip Football First, 17 Oktober 2004.

Siapa Tofiq Bahramov?

Dia hanya mantan seorang ofisial pertandingan alias wasit. Tapi pemerintah maupun rakyat Azerbaijan amat mengormatinya. Dua tahun setelah merdeka dari Uni Soviet pada 1991, pemerintah tak hanya membuatkan patung Bahramov di dekat sebuah stadion berkapasitas 31 ribu penonton tapi juga menamakan stadion itu Tofiq Bahramov adina Respublika Stadion. Sebelumnya, stadion yang dibangun para tahanan perang Nazi-Jerman pada 1951 itu bernama Stadion Joseph Stalin (1951-1956) dan Stadion Vladimir Lenin (1956-1993).

Publik Inggris menghormati Bahramov karena momen “Wembley Goal” atau “Wembley-Tor” bagi publik Jerman. Peran kecil Bahramov amat berharga bagi gelar Piala Dunia 1966 yang diraih Inggris –satu-satunya gelar Piala Dunia yang dimiliki Inggris hingga kini.

Dalam pertandingan final Piala Dunia 1966 yang dimainkan di Stadion Wembley, 30 Juli, Bahramov bertindak sebagai hakim garis bagi wasit utama Gottfried Dienst asal Swiss. Pertandingan antara Inggris kontra Jerman Barat (Jerbar) itu terpaksa berlanjut ke babak perpanjangan lantaran skor 2-2 bertahan hingga peluit akhir babak kedua.

Peran penting Bahramov bagi Inggris terjadi tak lama setelah sebuah “gol hantu” terjadi pada menit ke-11 babak tambahan. Pada menit itu, striker Inggris Geoff Hurst menembak bola ke sisi dalam gawang Jerbar yang dikawal Hans Tilkowski. Bola itu lalu memantul ke tanah tepat di garis gawang dan terlontar kembali ke luar gawang gawang.

Papan skor berubah 3-2. Para pemain Inggris bersorak merayakan gol sementara para pemain Jerbar terpaku dengan wajah datar lantaran merasa itu bukan gol. Para pemain Jerbar langsung mengerubungi wasit Dienst. “Awalnya wasit Dienst juga ragu. Oleh karenanya, dia mencoba berdiskusi dengan Bahramov sebagai hakim garis,” tulis The Glasgow Herald, 1 Agustus 1966. “Pada akhirnya, wasit dan hakim garis menunjuk titik tengah lapangan (pertanda gol),” tulis Max Palme dalam The Heroes of World Cup 1966.

Meski ada protes keras dari Franz Beckenbauer dan kawan-kawan, wasit Dienst melanjutkan laga. Hurst menambah golnya menjadi hattrick beberapa saat sebelum wasit Dienst meniup peluit akhir. Inggris akhirnya menekuk Jerbar 4-2 dan untuk pertamakalinya jadi juara Piala Dunia.

Para pemain Jerman kembali mengerumuni wasit Dienst dan Bahramov dengan protes yang sama. Mereka merasa dirugikan oleh “gol hantu” Hurst. Mereka mengaku melihat kapur garis gawang berterbangan, pertanda bola hanya memantul tepat di garis gawang dan belum melewatinya.

“Para pemain Jerman terus mengikuti Dienst ke tengah lapangan. Beckenbauer terus memprotesnya. Dengan mengabaikan para pemain Jerman, Dienst dan Bahramov saling bersalaman. Di dekat mereka, Siggi Held (pemain Jerman) memberi aplaus yang sarkastik,” ungkap Jonathan Mayo dalam The 1966 World Cup Final: Minute by Minute.

Dalam memoarnya, Bahramov meyakini bahwa tendangan Hurst itu gol murni. Bukan “gol hantu” sebagaimana diprotes para pemain Jerman. Bahramov tak ragu menyebut bahwa bola bisa memantul keluar gawang karena sebelumnya mengenai jaring gawang.

Selain para pemain, publik Inggris juga memuja Bahramov. Walau lahir di Azerbaijan, sang hakim garis kadung dikenal dengan sebutan “Russian Linesman” alias hakim garis Rusia, julukan yang bermula dari komentar pelatih Inggris Alf Ramsey terhadap Bahramov.

Bahramov sendiri kian tersohor. Pada 1971 dia pernah menjadi wasit utama dalam laga final Piala UEFA antara Wolverhampton Wanderers kontra Tottenham Hotspur. Selepas pensiun dari wasit, Bahramov sempat menjabat Sekjen AFFA. Dia menghembuskan nafas terakhirnya pada 1993.

Peristiwa getir di final Piala Dunia 1966 itu seolah menjadi titik nol “permusuhan” Jerman-Inggris di lapangan hijau. Meseki pada Piala Eropa 1996 Jerman sukses mempermalukan Inggris, perhitungan sebenarnya baru bisa mereka tunaikan di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Di perdelapan final, 27 Juni 2010, Inggris merasakan tulah “gol hantu” itu saat tendangan Frank Lampard di menit ke-38 membentur mistar dan memantul ke tanah. Dari tayangan ulang, bola memantul melewati garis gawang dan mestinya disahkan sebagai gol.

Namun, saat itu goal-line technology belum digunakan. Ditambah, reaksi kiper Jerman Manuel Neuer langsung menangkap bola pantulan itu agar bisa senatural mungkin melanjutkan pertandingan. Keputusan wasit Jorge Larrionda asal Uruguay lantas tak menetapkan kejadian itu sebagai gol. Inggris kerugian dan di akhir laga, mereka keok 1-3.

“Saya berusaha untuk tidak bereaksi di hadapan wasit. Saya sadar bahwa bola itu sudah melewati garis gawang dan cara saya menanggapinya dengan cepat, seolah menipu wasit agar berpikiran bahwa itu bukan gol,” cetus Neuer, dilansir Goal, 29 Juni 2010.

  • BAGIKAN
1 Suka
BOOKMARK