Berguru Tenis Meja hingga ke Korea Utara

Prestasi Rossy dalam tenis meja tidak instan. Digembleng sampai Korea Utara.

1523353648010
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Berguru Tenis Meja hingga ke Korea Utara
Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar. Foto: Aryono/Historia; Inset: Rossy bersama pelatihnya dari Korea Utara, Kang Nung-ha; Foto: Dok. Rossy.

BAK monster atau penyakit, Korea Utara (Korut) ditakuti, dibenci, dan dijauhi banyak negara hingga kini. Pemimpin negeri bersenjata nuklir itu, Kim Jong-un, bahkan kerap dijadikan bahan olok-olok di dunia maya.

Namun, kesan miring Korut tak berlaku bagi mantan srikandi tenis meja Rossy Syechabubakar. Dia menyimpan banyak kesan positif terhadap negeri berpenduduk 25 juta itu. Mulai dari suasana ibukota Pyongyang hingga masa ketika dia mengikuti latihan pelatnas di sana.

Rossy menjadi bagian dari tim tenis meja putri Indonesia SEA Games 1987 sampai 1995. Dalam persiapan untuk dua event itu, tim Indonesia berlatih ke Korea Utara. “Memang waktu itu (1980 sampai 1990-an) yang mendunia tenis mejanya adalah Cina. Tapi pengurus (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia/PTMSI) waktu itu, entah bagaimana, memanggil pelatih dari Korea Utara. Dia sebelumnya juga pencetak atlet-atlet juara dari Korea Utara,” kata Rossy kepada Historia. “Ya enak-enak enggak juga sih. Di sana itu gudangnya para pakar taktik dalam tenis meja.”

Rossy ingat betul sosok pelatih Korut-nya, Kang Nung-ha. Orangnya keras dalam hal disiplin. “Galak juga orangnya. Wah, sudah bukan kena teguran aja saya sih. Tapi mungkin dia memang melihat potensi dari saya juga, makanya dilatihnya keras,” kenang Rossy.

Rossy merasa potensi lebih pada dirinya menjadi alasan kenapa sang pelatih mengistimewakannya. “Misalnya kalau sparring melawan teman, kalau yang lain kan kalah (dihukum) lari, tapi kalau menang enggak. Tapi saya kalau sama dia (Kang Nung-ha), kalah-menang tetap disuruh lari,” ujar Rossy seraya tertawa kecil.

Namun, di luar latihan, semua berjalan baik. Perihal bahasa, yang sama-sama terbatas dalam English, mereka atasi dengan saling pengertian. “Enggak pakai penerjemah. Dia bisa sedikit bahasa Inggris, begitu juga kita. Jadi pakai bahasa Inggris sendiri yang hanya bisa dipahami antara dia dan kita para pemain,” cetus Rossy lagi.

Dari latihan itu pula Rossy jadi tahu kebiasaan masyarkaat Korut. “Gampangnya latihan dengan mereka. Kalau yang atlet putra, disogok dengan rokok produk luar. Kalau yang putri, diaksih permen. Ya soalnya kan selama ini mereka hanya bisa dapetin produk-produk lokal saja. Biar mereka semangat latihannya sama kita,” kata Rossy.

Seingat Rossy, kendala yang dihadapi tim putri hanya soal sulitnya mencari hiburan pelepas penat di Pyongyang. “Pyongyang waktu itu keadaan kotanya bagus, bersih. Kalau Sabtu-Minggu enggak ada orang lokalnya yang boleh pakai kendaraan. Hanya orang pemerintah dan kedutaan saja. Untuk melepas jenuh pas akhir pekan, biasanya kita hanya bisa main ke KBRI saja, soalnya di Pyongyang enggak ada (hiburan) apa-apa,” kenang Rossy.

Sementara, destinasi wisata alam di sana terbatas dan tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Cerita yang didapat Rossy dari salahsatu koleganya di Korut mengatakan, para atlet Korut hanya bisa berwisata jika mendulang prestasi.

Hal itu jauh berbeda dari para atlet Indonesia ketika sudah di tanah air. Hiburan untuk membunuh ada beragam. “Tenis meja itu makin didalami, makin rumit. Kalau sudah stuck tidak bisa melakukan apa yang dimau pelatih, sampai kita dimarah-marahin, ya muncul titik jenuh. Kalau sudah begitu, paling saya cari hiburan nonton bioskop. Senangnya film horor. Setelahnya paling kuliner-an. Paling senang sama spaghetti dan makanan-makanan Jepang,” tandasnya.

Baca juga: 

Rossy Sang Srikandi
Tenis Meja Adalah Segalanya
Korban Kecurangan Negeri Jiran
Malaysia Sengaja Curangi Indonesia di Tenis Meja

Tenismeja, Olahraga, kartini, perempuan
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK