Sepakterjang Batalyon yang Hilang

Nasib batalyon asal Texas yang memukul Jepang di Bogor tak diketahui setelah Belanda menyerah di Kalijati.

02 March 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Sepakterjang Batalyon yang Hilang
Salah satu regu Pasukan Texas yang bertempur di Bogor (Foto: Texas Military Forces Museum)

PULAU Jawa adalah kunci. Siapa yang menguasai Jawa, akan menguasai Nusantara yang kaya alamnya. Jepang menyadari ini demi menunjang keberlanjutannya di Perang Pasifik. Alhasil, kepentingannya pun berbenturan dengan Sekutu, yang Belandanya sudah lebih dulu menguasai Nusantara.

Di Laut Jawa, Komando ABDA (Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia) berjibaku dengan Jepang sejak 28 Februari 1942. Kapal penjelajah HMAS Perth (Australia) dan USS Houston (AS) jadi korban. Hal itu membuat Komando ABDA di darat cemas sambil sebisanya menghimpun kekuatan yang dipusatkan di Bandung.

Namun, kisah-kisah perlawanan Sekutu di Jawa pada Perang Dunia II selama ini hanya mengungkap sepakterjang serdadu Belanda, Inggris, dan Australia, minus Amerika. Padahal, Amerika punya perwakilan di sana. Bahkan, sampai ada pasukan darat AS yang sohor dengan julukan “The Lost Battalion” alias Batalyon yang Hilang.

“Kalau untuk kekuatan di udara, Amerika punya beberapa pilot Angkatan Darat. Kekuatannya berupa beberapa pesawat P-40 dari Skadron 17 yang berbasis di Blimbing, daerah Jombang, Jawa Timur. Salah satu ace-nya (pilot andalan) Letnan Satu Henry Keegan. Tercatat dia sendirian menembak jatuh lima pesawat Jepang,” tutur sejarawan Iwan ‘Ong’ Santosa dalam diskusi “Defense of Java and the Dutch East Indies: World War II” di @America, Jakarta, 26 Februari 2019.

Selain itu, lanjut Iwan Ong, ada satu Bomber Group 19 pimpinan Letkol Eugene L. Eubank yang berisi pesawat-pesawat pembom B-17 di Singosari yang sekarang menjadi Bandara Abdulrahman Saleh di Malang. Namun tetap saja, unit-unit udara itu tak mampu memukul mundur Jepang yang dengan cepat bermanuver hingga ke garis pertahanan Leuwiliang, Bogor Barat pada 2 Maret 1942.

Kiprah Serdadu Texas di Leuwiliang

Selama tiga hari, pasukan Sekutu sempat menahan gerak laju pasukan Detasemen Nasu dari Divisi II Angkatan Darat Jepang di Leuwiliang sebelum akhirnya ditarik mundur ke Bandung. Satu unit yang paling memberikan perlawanan gigih adalah para serdadu dari Texas, satu-satunya pasukan darat Amerika di Jawa.

Sepakterjang serdadu Texas yang nama resminya Texas National Guard ini bermula ketika mereka dimobilisasi untuk memperkuat pertahanan Amerika di Filipina, 25 November 1940. Satuan berisi pemuda sukarelawan asal Texas itu lalu dilebur ke dalam Resimen Artileri ke-131 Batalyon ke-2 di bawah Divisi ke-36 AD Amerika.

Dipimpin Letkol Blucher S. Tarp, pasukan berkekuatan 558 personel itu berangkat dengan kapal transport USS Republic pada 21 November 1941 via San Francisco. Namun mereka urung menuju Filipina karena telah direbut Jepang. Menurut Frank Fujita, veteran Texas National Guard berdarah Jepang-Amerika, dalam memoar berjudul Foo: A Japanese-American Prisoner of the Rising Sun, mereka dialihkan ke Australia. Pada 11 Januari 1942, merkea dikirim ke Jawa via Brisbane-Surabaya.

Pasukan Garda Nasional Texas yang dimasukkan ke Resimen Artileri ke-131 Batalyon ke-2 di bawah Divisi ke-36 AD Amerika (Foto: Texas Military Forces Museum)

Medio Februari, mereka dipindah ke Bogor untuk digabungkan dengan pasukan dari Australia. Pasukan Texas ini dijadikan bagian dari joint force berjuluk “Blackforce” yang dipimpin perwira Australia Brigadier (setara brigjen) Arthur Seaforth Blackburn. Texas Guard berada di Blackforce bersama Resimen Kavaleri 3 Hussars (Inggris) dan Batalyon 2 Pioneer.

“Tiga hari (2-5 Maret) mereka menahan pasukan Jepang di Leuwiliang. Jadi pasukan Jepang yang mendarat di Banten dan masuk ke Bogor, ditahan pasukan ini. Pasukan dari Texas ini yang jadi andalan untuk mendukung tembakan meriam terhadap Jepang,” kata Iwan Ong menjelaskan kepada Historia.

Kelly E. Crager dalam Hell Under the Rising Sun: Texan POWs and the Building of the Burma-Thailand Death Railway mencatat, Blackburn menempatkan kekuatan intinya di sisi timur tepi Sungai Cianten. “Pasukan Amerika menembak (meriam) dengan sangat akurat ke arah seberang sungai di mana pasukan Jepang berada. Tapi kemudian pada 4 Maret (5 Maret WIB), Jenderal Ter Poorten (Panglima ABDA) memerintahkan mundur ke Bandung via Sukabumi,” tulis Crager.

Namun, sisa pasukan Texas ditawan pasca-Belanda menyerah di Kalijati, 8 Maret 1942. Sejak kapitulasi itulah keberadaan pasukan Texas tak diketahui lagi oleh para petinggi militer Amerika. Dari sinilah julukan “The Lost Battalion” bermula.

Menurut Ronald Marcello dalam Lone Star POWs: Texas National Guardsmen and the Building of the Burma-Thailand Railroad, keberadaan mereka baru diketahui dari informasi tawanan perang lain pada 16 September 1944. Kala itu, sekira 2000 tawanan perang asal Australia dan Inggris hendak dibawa dari Burma ke Jepang. Tapi di tengah jalan, dua kapal Jepang yang membawa mereka ditenggelamkan dan para tawanan itu diselamatkan sebuah gugus tugas kapal selam Amerika.

Dari merekalah Amerika baru mendengar kabar tentang keberadaan pasukan Texas itu, di mana sekira 500 personelnya dijadikan romusha. Ternyata, sejak kapitulasi di Kalijati, mereka dan ratusan penyintas awak USS Houston dibawa dari Batavia (kini Jakarta) ke Burma untuk dipekerjakan dalam pembangunan jalur kereta Burma-Siam (kini Thailand), yang difilmkan Pierre Boulle dengan judul The Bridge on the River Kwai.

Keadaan mereka mengenaskan akibat beragam perlakuan kejam Jepang. Dari 500 personel yang dipekerjakan, 86 di antaranya tewas dalam masa tawanan, baik karena disiksa maupun karena kelaparan atau kehausan. Sisanya, dibebaskan di Tamarkan, Burma pada Agustus 1945.

Kekejaman terhadap mereka berasal dari dendam Jepang, yang rugi besar dalam pertempuran di tepi Sungai Cianten, Leuwiliang. “Dari tiga hari pertempuran, korban Jepang besar sekali. Sampai di kemudian hari di dekat lokasi pertempuran, dibuat monumen untuk mendedikasikan pasukan Jepang yang gugur. Kini monumennya sudah dipindah ke Museum Taman Prasasti,” sambung Iwan Ong.

Dari pengamatan Iwan terhadap situs pertempuran yang letaknya tak jauh dari kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), menurutnya, “Beberapa battle site-nya masih utuh. Sekarang lokasi tepatnya di lingkungan Museum Pasir Angin. Sisa-sisa pillbox-nya juga masih ada. Ya karena enklave komplek museum, jadinya masih terpelihara. Kalau tidak, mungkin sekarang sudah habis tak berbekas.”

Amerika-Serikat, Sejarah-Perang-Dunia, Sejarah-Perang-Pasifik, Perang-Dunia
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
6 Suka
BOOKMARK