Asal Usul Raden Wijaya

SBY mengaku keturunan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Bagaimana dengan asal usul leluhur Raden Wijaya?

1519716331000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Asal Usul Raden Wijaya
Arca Harihara dari Candi Simping sebagai perwujudan Kertarajasa, atau Raden Wijaya. Kini menjadi koleksi Museum Nasional.

AWALNYA Partai Demokrat menginginkan nomor urut 9 dalam Pemilu 2019. Namun, dalam pengundian, nomor 9 direbut Perindo. Partai Demokrat mendapat nomor 14. Dalam konsolidasi kader partai di Stadion Redjoagung Tulungagung, Minggu 25 Februari 2018, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaitkan nomor 14 itu dengan kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad 14.

SBY juga mengungkapkan bahwa keluarganya masih keturunan pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, dari garis Ki Ageng Buwono Keling. “Kalau diurut dari eyang saya Ki Ageng Buwono Keling hingga kedua anak saya yakni Agus Harimurti dan Edi Baskoro adalah trah ke-14,” kata SBY dikutip tempo.co.

Jika mau dirunut lagi, Wijaya juga keturunan pendiri Kerajaan Singhasari. Dia adalah anak dari Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Camapaka atau Narasinghamurti. Kakeknya ini, adalah anak dari Mahisa Wonga Teleng, putra dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Ken Angrok atau Sri Ranggah Rajasa adalah pendiri Dinasti Rajasa yang kemudian menurunkan raja-raja Singhasari dan Majapahit.

Belum lagi, dari genealoginya, Wijaya juga merupakan keponakan Kertanagara, raja besar sekaligus terakhir Singhasari. Adapun Kertanagara adalah keturunan dari Anusapati, putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Wijaya kemudian menjadi menantu Kertanagara. Empat putri Kertanagara yang menikah dengan Wijaya, yaitu Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Dengan Tribhuwana, Wijaya mempunyai seorang putra bernama, Jayanagara. Dengan Gayatri, Wijaya memperoleh dua putri. Si sulung bernama Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwarddhani. Si bungsu bernama Rajadewi Maharajasa.

Mengenai pernikahan Wijaya, Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, dan Pararaton, menyebut Wijaya menikah dengan dua putri Kertanagara. Sementara dalam Prasasti Sukamrta (1296), Prasasti Balawi (1305), dan kakawin Nagarakrtagama, Wijaya disebut menikah dengan empat putri Kertanagara.

Menurut Slamet Muljana, Nagarakrtagama dapat dipercaya karena penulisnya, Prapanca, mendapatkan berita sejarah Singhasari dan Majapahit dari Dang Acarya Retnamsa. Pada zaman Kertarajasa Jayawardhana, Dang Acarya telah tua karena lahir pada 1276.

“Jadi, dia mengalami masa pemerintahan Kertanagara dan Kertarajasa. Kiranya berita Nagarakrtagama itu dapat dipercaya,” tulis Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama.

Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar sepakat kalau keempat putri Kertanagara menikah dengan Wijaya. Namun, sebelumnya salah satu putri itu sempat menikah dengan anak Jayakatwang, Ardharaja.

“Mungkin dengan Mahadewi atau Jayendradewi. Setelah itu Ardharaja kan membelot membela ayahnya, dia dihabisi juga, lalu semua putri menikah dengan Raden Wijaya,” kata Agus ketika ditemui di kantornya, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Wijaya dalam sumber prasasti maupun dalam naskah kesusastraan dikenang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan Jayakatwang sekaligus mengusir Mongol dari Jawa. Setelah tentara Khubilai Khan itu kembali ke Tiongkok, Wijaya menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit. Kidung Harsawijaya mencatat peristiwa itu pada 15 Bulan Kartika 1215 saka (12 November 1293). Dia dinobatkan dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawarddhana.

Prasasti Balawi 1305 menyebut Wijaya tidak mendirikan wangsanya sendiri, tetapi tetap meneruskan wangsa Rajasa. Dia ingin melanjutkan Kerajaan Singhasari, yang terputus akibat Jayakatwang pada 1292.

“Nama Abhiseka Wijaya mengandung Rajasa, yaitu pendiri Kerajaan Singhasari. Dengan demikian Wijaya menunjukkan kesetiaannya kepada Singhasari,” tulis Slamet Muljana.

Menurut Slamet Muljana selama pemerintahan Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309) dan pemerintahan putranya, Jayanagara (1309-1328), Majapahit menerapkan doktrin politik konsolidasi dalam negeri. Usaha ini pernah dilakukan pada masa Raja Wisnuwardhana, ayah Kertanagara. Doktrin politik Wisnuwardhana berkisar pada penyatuan Janggala dan Panjalu, seperti yang dilakukan pula oleh Airlangga pada awal abad 11.

Pada masa pemerintahan Wijaya, politik konsolidasi dalam negeri diwujudkan dalam bentuk menyejajarkan posisi Kadiri dan Majapahit. Sehingga dalam Prasasti Penanggungan, Kadiri mempunyai susunan pemerintahan sederajat dengan Majapahit.

Prapranca dalam Nagarakrtagama menyebut “selama Raja Kertarajasa Jayawardana bertakhta, seluruh tanah Jawa tunduk kembali dengan hormat menyembah beliau. Semua senang melihat istri baginda empat jumlahnya…,”

Namun, Wijaya juga harus menghadapi beberapa pemberontakan. Pada 1295 dia berhasil memadamkan pemberontakan Rangga Lawe, namun akibatnya Lumajang pisah dari Majapahit. Lumajang baru bergabung lagi dengan Majapahit setelah pemberontakan Nambi berhasil ditumpas pada 1316.

Wijaya juga menghadapi pemberontakan Lembu Sora pada 1300 M. Bahkan hingga masa pemerintahan putranya, Jayanagara, pemberontakan masih terus terjadi. Pemberontakan Nambi disusul pemberontakan Kuti pada 1319. Kemudian peristiwa Tanca yang mengakibatkan mangkatnya Jayanagara pada 1328. “Penumpasan pemerontakan, selama itu bisa ditafsirkan sebagai usaha untuk menjaga keutuhan negara,” tulis Slamet Muljana.

Setelah memerintah selama 16 tahun, Wijaya meninggal pada 1309. Dia dicandikan di Antahpura dengan arca Jina dan didharmakan di Simping dengan arca Siwa.

Candi Simping lokasinya di Sumberjati dekat Blitar. Di situ terdapat sebuah arca perwujudan, yang menunjukkan ciri percampuran tokoh Siwa dan Wisnu, atau yang disebut Harihara. Arca inilah yang diperkirakan sebagai perwujudan dari Wijaya.

Menurut Slamet Muljana, Wijaya diwujudkan sebagai Wisnu, padahal dia adalah pemeluk Siwa. Alasannya dimaksudkan untuk membayangkan sang raja dalam usahanya merebut kembali kekuasaan pada 1293 dari Jayakatwang, yang dianggap sebagai perusak dunia. “Wisnu adalah penjaga dunia, konon dia menitis dalam Sanggramawijaya untuk membasmi Jayakatwang,” tulis Slamet Muljana.

  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK