top of page

Robohnya Patung Edward Colston Si Tokoh Perbudakan dan Rasisme

Massa “Black Lives Matter” merobohkan patung Edward Colston, saudagar kaya nan dermawan namun pemeras darah budak kulit hitam.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 10 Jun 2020
  • 4 menit membaca

KEMATIAN George Floyd (46) di Minneapolis, Amerika Serikat pada 25 Mei 2020 memantik badai demonstrasi di berbagai belahan dunia. Sejumlah simbol rasisme jadi sasaran, salah satunya patung Edward Colston di Bristol, Inggris.


Rasisme bukan barang baru di bumi sisi Barat, utamanya Amerika. Kematian George Floyd, seorang Afro-Amerika, akibat kekerasan oleh sejumlah polisi Minneapolis memicu bara rasisme yang telah lama terpendam. Ia meledak lewat gerakan demonstrasi bertajuk “Black Lives Matter”.


Di Inggris, yang banyak warganya berkulit hitam, kematian Floyd memicu unjuk rasa di kota Bristol pada 7 Juni 2020. Para demonstran menyasar patung tokoh rasis dan saudagar perbudakan abad ke-17, Edward Colston. Menukil The New York Times, Selasa (9/6/2020), patung itu mulanya dikelilingi massa yang kemudian mencorat-coret badan patung berusia 125 tahun itu dan diakhiri dengan merobohkan dan menyeret patung untuk dibuang ke perairan di Pelabuhan Bristol. Aparat keamanan yang kalah jumlah dari massa demonstran tak bisa mencegahnya.


Colston yang patungnya dirobohkan itu merupakan putra Bristol kelahiran 2 November 1636. Ia anak tertua saudagar besar cum Sheriff Tinggi kota Bristol William Colston.



Patung Edward Colston dirobohkan dan dibuang ke laut oleh pendemo George Floyd (Foto: brh.org.uk/Twitter @HackneyAbbott)
Patung Edward Colston dirobohkan dan dibuang ke laut oleh pendemo George Floyd (Foto: brh.org.uk/Twitter @HackneyAbbott)

Edward mewarisi bakat bisnis dari ayahnya. Ia memulainya di perusahaan niaga Mercers Company. Dari perusahaan itu, mengutip Matthew Parker dalam The Sugar Barons: Family, Corruption, Empire and War in the West Indies, ia meluaskan jejaring bisnis dengan para saudagar lain yang punya komoditas kain, minyak, buah dan minuman anggur, serta gula. Pada 1680 ia sudah menjadi anggota Royal African Company, sebuah perusahaan niaga yang didirikan Raja Charles II dan adiknya, Duke of York.


“Perusahaan itu memonopoli perdagangan di sepanjang pesisir barat Afrika terkait emas, perak, gading, dan perbudakan. Perusahaan itu berkembang pesat sejak Colston mendaki jabatan di dewan perusahaan, hingga menjadi wakil gubernurnya pada 1689 dan 1690,” sebut Parker.


“Komoditas” terakhir di atas itulah yang paling mendongkrak keuntungan perusahaan di bawah Colston. Tanpa mempedulikan penderitaan mereka, pada 1680-1692 saja perusahaan itu mengangkut sekira 84 ribu budak baik lelaki, perempuan, maupun anak-anak yang diperdagangkan dari Afrika Barat untuk keperluan para saudagar pemilik perkebunan tembakau dan gula di Karibia dan Amerika Utara.


Banyak dari budak itu tak bisa sampai di tempat tujuan karena mati kelaparan atau terpapar penyakit akibat mereka dikungkung di lambung kapal terbawah dengan kondisi buruk. Disebutkan Parker, dalam kurun 1680-1692, ada 19 ribu dari 84 ribu budak yang diangkut Royal African Company tewas di perjalanan dan pastinya jasad mereka dibuang ke laut.



Kondisi memprihatinkan kapal-kapal pengangkut budak milik Inggris (Foto: Library of Congress)
Kondisi memprihatinkan kapal-kapal pengangkut budak milik Inggris (Foto: Library of Congress)

Colston baru pensiun dari bisnis perdagangan budak itu pada 1708. Di kota kelahirannya, ia “mendarmabaktikan” diri di Society of Merchant Venturers, sebuah organisasi amal di Bristol. Dua tahun berselang Colston turut terjun ke dunia politik sebagai anggota parlemen kerajaan dari faksi Tory.


David Hughson dalam London: Being An Accurate History and Description of the British Metropolis and Its Neighbourhood mengungkapkan, Colston menghabiskan sisa umurnya sebagai seorang dermawan selain berpolitik. Ia mendirikan Colstons Almshouses atau rumah singgah untuk tunawisma dan fakir miskin di Bristol. Ia juga jadi donatur tetap Queen Elizabeth’s Hospital dan mendirikan pula Colston’s Hospital.


“Colston seorang dermawan besar untuk kota Bristol, di mana sepanjang hidupnya, menyumbangkan lebih dari 17 ribu pounds. Ia dihormati berbagai pihak karena selain menyumbang untuk sosial, ia juga donatur terpandang sejumlah gereja di Bristol,” tulis Hughson.


Diabadikan dengan Patung

Hingga akhir abad ke-19, sosok Colston tetap dikenang sebagai saudagar kaya yang luar biasa dermawan, utamanya untuk kota Bristol. Untuk menghormatinya, pada 1893 atau 176 tahun setelah ia wafat pada 1721, presiden organisasi amal Anchor Society, James Arrowsmith, mengusulkan figurnya diabadikan dalam bentuk patung.


Sebagaimana disitat dari laman National Heritage List for England, pembuatan patung itu memakan dana hingga seribu pounds, yang berasal dari penggalangan dana yang digulirkan Arrowsmith setahun berselang. Pengerjaan patungnya dipercayakan pada pematung kelahiran Irlandia, John Cassidy.


Cassidy membuat patung setinggi 18 kaki atau sekitar 5,5 meter di atas sebuah tugu batu Portland itu dari perunggu. Di setiap sudut tugunya dihiasi patung lumba-lumba dan plakat dengan ukiran bergaya art nouveau yang menggambarkan kisah hidup Colston sebagai pelaut dan saudagar.


Sosok Edward Colston, saudagar yang kaya dari memeras darah budak kulit hitam (Foto: Bristol City Council)
Sosok Edward Colston, saudagar yang kaya dari memeras darah budak kulit hitam (Foto: Bristol City Council)

Patung itu lantas ditempatkan di Colston Avenue dan diresmikan pada 13 November 1895. Peresmiannya dihadiri walikota, uskup kota Bristol, serta para alumni Colston’s School. Dalam peresmian itu sekaligus diumumkan bahwa hari peresmian itu ditetapkan sebagai “Colston Day”.


“Satu lagi plakat yang ditempatkan di sisi selatan terukir tulisan berbunyi: ‘Didirikan oleh warga Bristol sebagai peringatan atas putra asli Bristol yang bijaksana dan berbudi luhur,’ di samping juga terukir nama pematungnya,” demikian bunyi tulisan di plakat tersebut.



Namun, reputasi Colston sebagai tokoh dermawan akhirnya terbuka topengnya hingga melahirkan kontroversi. Pada 1920, John Henry Wilkins dalam risetnya yang dibukukan, Edward Colston: 1636-1721, A Chronological Account of His Life and Work, membongkar borok Colston bahwa warga kota Bristol selama ratusan tahun tidak tahu kedermawanan Colston berasal dari kekayaannya yang bermula dari perdagangan budak.


“Kita tidak bisa menggambarkan sosoknya dengan obyektif, kecuali dengan melihat latarbelakang historisnya. Walau memang keterlibatan Colston dalam perdagangan budak terjadi lama sebelum pergerakan abolisi pada 1807. Keterlibatannya dalam bisnis itu berlangsung ketika perbudakan masih dimaklumi di Inggris dan seantero Eropa, termasuk oleh golongan terpelajar maupun gereja,” tulis Wilkins.


Patung Edward Colston karya John Cassidy saat belum lama diresmikan pada 1895 (Foto: Bristol Archives)
Patung Edward Colston karya John Cassidy saat belum lama diresmikan pada 1895 (Foto: Bristol Archives)

Kontroversi sosok Colston itu namun tetap tak menggoyahkan posisi patung tersebut yang masih gagah berdiri di lokasinya hingga 2013. Di tahun inilah Walikota Bristol George Ferguson mengungkit isu sensitif itu lagi. Setahun kemudian, suratkabar Bristol Post melakukan polling terhadap 1.100 responden. Hasilnya, 56 persen menghendaki patungnya tetap berdiri, hanya 44 persen yang ingin mengenyahkannya.


Keberadaan patung itu tetap “membelah” warga kota Bristol hingga pada 7 Juni 2020 ketika patung tersebut diturunkan paksa dan dibuang oleh demonstran “Black Lives Matter” ke perairan Bristol. Kini pengabadian sosok Colston yang tersisa hanya berupa beberapa institusi yang menyandang namanya. Antara lain, Colstons Almshouses, Colston Tower, Colston Hall, Colston Avenue, Colston Street, dan Colston’s Girls’ School. Hingga kini isu penggantian nama institusi tersebut masih jadi pertimbangan dewan kota dan walikota Bristol.




Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
As one of the seven important inscriptions from the Tarumanagara heritage, the Tugu Inscription mentions the Bekasi River and the Old Cakung River that exist until today.
bg-gray.jpg
Seorang kiai kampung diadili karena dianggap mengingkari syariat. Sebuah kritik atas pembacaan Serat Cebolek.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
bg-gray.jpg
In addition to the epigraphs found on the seven inscriptions, historical sources regarding Tarumanagara also come from statues and temples at two archaeological sites.
Karena susu sapi mahal dan bergantung pada impor, pemerintah membuat susu alternatif terbuat dari kedelai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak-anak.
Karena susu sapi mahal dan bergantung pada impor, pemerintah membuat susu alternatif terbuat dari kedelai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak-anak.
Peristiwa 1998 tetap hidup di ruang publik melalui novel, lagu, dan film. Karya kreatif ini menjadi medium pembelajaran tentang kekerasan negara terhadap warganya.
Peristiwa 1998 tetap hidup di ruang publik melalui novel, lagu, dan film. Karya kreatif ini menjadi medium pembelajaran tentang kekerasan negara terhadap warganya.
Depresi Besar membuat banyak orang Amerika Serikat kehilangan pekerjaan dan kesulitan keuangan. Permainan monopoli diminati karena menawarkan sensasi menjadi orang kaya meski hanya imajinasi.
Depresi Besar membuat banyak orang Amerika Serikat kehilangan pekerjaan dan kesulitan keuangan. Permainan monopoli diminati karena menawarkan sensasi menjadi orang kaya meski hanya imajinasi.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
transparant.png
bottom of page