top of page

Putih Jelita Era Belanda

Kulit putih ala perempuan Eropa, bukan kulit terang, merupakan identifikasi kecantikan semasa kolonial Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jean Arthur dalam iklan di Pandji Poestaka tahun 1940.

12 Apr 2018
2 menit membaca

KEMOLEKAN wajah aktris Hollywood Jean Arthur menghiasi salah satu halaman majalah Pandji Poestaka tahun 1940. Jean tak sedang menjadi pemberitaan tapi menjadi model iklan salah satu produk sabun mandi.


Kulit putih Jean merupakan daya tarik luar biasa. Hal itu yang dijadikan dagangan oleh produsen sebagaimana dimuat teks di iklan, produk tersebut bisa menghaluskan kulit. Untuk memperkuat brand, produsen mengklaim produknya dipakai sembilan dari 10 bintang film dunia. Tentu saja, sembilan bintang film itu dari ras Kaukasia.


Di tahun 1900-an, hanya perempuan-perempuan Eropa yang bisa tampil di media massa sebagai model iklan. Berbagai media yang memampang iklan produk-produk kecantikan selalu menampilkan perempuan Eropa meski iklan-iklan itu menggunakan bahasa Melayu. Selain iklan yang dibintangi Jean tadi, ada iklan dari produk pesaing yang dimuat Bintang Hindia pada 1928. Teks iklan itu menyebut produknya bisa membuat wajah bercahaya dan bersih. Selain mempromosikan produknya, iklan itu mengkampanyekan bahwa perempuan cantik adalah perempuan yang mirip model iklannya.


“Jadi dari zaman Belanda sudah ada produk dan wacana kecantikan. Tiap zaman itu membawa gagasan yang berbeda dan produk yang berbeda,” kata Luh Ayu Saraswati, dosen Kajian Perempuan Universitas Hawaii.


Gagasan tentang perempuan Kaukasia lebih cantik dibanding ras lain sejalan dengan watak rasis kolonialis Inggris dan Belanda. Keduanya mengaggap orang kulit putih lebih superior sehingga konsep kecantikan ideal pun diwakili perempuan Eropa.


Hannah Aidinal Al Rashid menulis dalam disertasinya, “Putih Cantik: Persepsi Kecantikan dan Obsesi Orang Indonesia untuk Memiliki Kulit Putih”, superioritas itu berpengaruh besar pada persepsi kecantikan orang Indonesia. Pada masa kolonial, perempuan Kaukasia berkulit teranglah yang dianggap sebagai simbol kecantikan. Belanda juga berpendapat bahwa orang kulit putih adalah ras yang lebih berkuasa, dan orang pribumi dengan kulitnya lebih gelap statusnya lebih rendah.


“Kolonialisasi juga masuk di ruang afek, masuk ke ranah emosi. Jadi kita selalu melihat perempuan dan laki-laki yang berkulit terang (putih) berarti mereka superior. Itu sebenarnya sesuatu yang dikampanyekan, bukan secara alamiah atau naluri orang kulit putih lebih pintar atau superior,” kata Luh Ayu.


Semakin banyak perempuan Eropa yang datang ke negeri jajahan pasca-dibukanya Terusan Suez makin mendukung wacana kecantikan Kaukasia. Hal itu makin diperkuat dengan  pelaksanaan Politik Etis, yang memungkinkan kalangan terpandang, termasuk perempuan, mengenyam pendidikan. Beberapa perempuan yang sudah bisa baca-tulis itu mengoleksi majalah perempuan.


Tanpa mereka sadari, majalah perempuan menjadi agen yang membentuk persepsi mereka akan kecantikan. Berbagai iklan produk kecantikan dengan pesan putih sebagai warna kulit dambaan terus mengisi memori mereka, yang kemudian ikut menyebarluaskan kepada lingkungan sekitar.


Alhasil, cantik yang melekat di memori masyarakat adalah yang berkulit putih ala perempuan Eropa (ras). Itu berbeda dari konsep cantik masa prakolonial, di mana putih berarti kulit terang, tidak melekat pada ras Kaukasia.


“Sebenarnya pemutih itu mulanya buat orang-orang Kaukasia di masa kolonial. Kalau di Amerika, pemutih kulit itu dulu dilarang banget buat budak. Mereka nggak mau para budak memutihkan kulit mereka,” kata Luh Ayu.


Di masa tersebut, terang Ayu, sudah ada persaingan wacana kecantikan perempuan. Namun, perempuan Kaukasialah yang dijadikan simbol cantik idaman karena mereka sedang memantapkan dominasi di bidang politik, ekonomi, dan budaya. “Ketika zaman Belanda, masuk gagasan kecantikan bahwa perempuan Kaukasia yang kulitnya putih, dia yang lebih cantik,” kata Luh Ayu.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
bg-gray.jpg
Cerita dari Museum Gatot Soebroto di Ungaran. “Rumah Prihatin” yang kaya cerita meski hanya setahun ditinggali sang jenderal.
bg-gray.jpg
Selepas meninggalkan militer, Gatot Soebroto ikut mendirikan IPKI dan lolos ke parlemen. Namun, dia mengundurkan diri karena diangkat sebagai wakil KSAD.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto nyentrik dan eksentrik dalam penampilan, perkataan, dan keyakinan. Jenderal humoris dan dekat dengan anak buah. Penyayang anak-anak dan pelindung umat Buddha.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Ungkapan syukur atas panen raya (Katto Bakko) yang dilakukan secara gotong royong.
Ungkapan syukur atas panen raya (Katto Bakko) yang dilakukan secara gotong royong.
Trauma akibat G30S bukan tak mungkin sembuh. Hanya saja, maukah kita menyembuhkannya?
Trauma akibat G30S bukan tak mungkin sembuh. Hanya saja, maukah kita menyembuhkannya?
Pembunuh berdarah dingin Inggris di kotak penalti lawan. Dikenang dan dihormati sampai ke Italia.
Pembunuh berdarah dingin Inggris di kotak penalti lawan. Dikenang dan dihormati sampai ke Italia.
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Penyadapan Amerika Serikat bukan hal baru. Pasca Gerakan 30 September 1965, Amerika Serikat memberikan perangkat komunikasi yang dapat disad
Penyadapan Amerika Serikat bukan hal baru. Pasca Gerakan 30 September 1965, Amerika Serikat memberikan perangkat komunikasi yang dapat disad
transparant.png
bottom of page