- 6 Mar 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
BIOSKOP misbar (gerimis bubar) atau layar tancap masih diminati masyarakat hingga kini.Biasanya layar tancap diselenggarakan sebagai hiburan hajatan dan berbagai perayaan lainnya. Tak jarang layar tancap diputar untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan.
Bioskop misbar tak dapat dilepaskan dari sejarah bioskop di Hindia Belanda. Sejarawan Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi menyebut geliat industri film di Indonesia sudah dimulai sejak menjelang berakhirnya abad ke-19. “Waktu itu film-film masih diputar di bioskop keliling,” tulis Alwi.
Tio Tek Hong, pengusaha kelahiran Pasar Baru, membahas munculnya bioskop di Batavia dalam bukunya, Keadaan Jakarta Tempo Doeloe Sebuah Kenangan 1882–1959. “Mula-mula saya melihat gambar hidup yang diusahakan oleh Tuan Talbot di dalam bangsal berdinding gedek dan beratap kaleng di Gambir (Lapangan Merdeka). Di situ tidak lama karena gambar hidup itu dibawa keliling ke kota-kota lain. Yang tetap (permanen) mula-mula diusahakan oleh Tuan Schwarz di tempat orang belajar tunggang kuda (kemudian ditempati oleh Persewaan Kereta Fuchs) dekat Kebon Jahe antara Jalan Majapahit dengan Tanah Abang Barat.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















