top of page

Serba-serbi Menonton Bioskop pada Zaman Belanda

Salah satu aturan menonton bioskop yang diberlakukan adalah pemisahan tempat duduk penonton laki-laki dan perempuan. Merepotkan pasangan suami-istri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penonton bioskop Rex di Batavia sekitar tahun 1939. (KITLV).

  • 10 Jan 2023
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 2 hari yang lalu

MENONTON film tak hanya menjadi hiburan favorit orang-orang masa kini. Pada zaman kolonial Belanda menonton film juga salah satu hiburan yang diminati penduduk di Batavia. Menonton gambar hidup, begitu kata penduduk Batavia saat hendak menonton film di bioskop. Kala itu film-film yang ditayangkan masih diputar di bioskop keliling. Baru pada awal abad ke-20, bioskop permanen didirikan di Jalan Tanah Abang Barat.


Pada 1920-an, tulis Tanu Trh dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe, di zaman pra film bersuara (soundfilm), jumlah bioskop di Batavia tak sebanyak seperti hari ini. Di daerah kota, yang biasa disebut benedenstad oleh masyarakat Belanda, hanya ada dua bioskop, yakni Gloaria Bioscoop di Pancoran dan Cinema Orion di Glodok. Sementara di bagian selatan kota, yang dinamakan bovenstad atau Weltevreden, terdapat Cinema Palace di Krekot, Globe Bioscoop di Pasar Baru, Deca Park di Gambir (sekarang Lapangan Monas), dan Dierentuin di Cikini (di kompleks TIM sekarang).


Penonton bioskop di kawasan bovenstad atau Weltevreden umumnya dari kalangan masyarakat atas, seperti orang-orang Belanda dan Eropa, para tuan toko (pemimpin perusahaan-perusahaan besar Belanda dan pegawai-pegawai stafnya), dan golongan berduit. Sementara penonton di bioskop-bioskop daerah kota umumnya dari kelas menengah ke bawah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
bg-gray.jpg
Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.
bg-gray.jpg
Saksi bisu perlawanan dari zaman ke zaman. Tempat singgah bagi aktivis.
Drama klasik dari novel satir ternama yang diangkat ke layar lebar. Digarap secara otentik dan humanis.
Drama klasik dari novel satir ternama yang diangkat ke layar lebar. Digarap secara otentik dan humanis.
Masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, lebih mengenal karya-karyanya ketimbang namanya.
Masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, lebih mengenal karya-karyanya ketimbang namanya.
Ketika sosok Bung Karno hidup kembali dalam sesi foto virtual. Salah satu cara insan industri kreatif untuk tetap berkarya saat pendemi.
Ketika sosok Bung Karno hidup kembali dalam sesi foto virtual. Salah satu cara insan industri kreatif untuk tetap berkarya saat pendemi.
Rambut gimbal awalnya terkait spiritualitas. Lalu jadi simbol pemberontakan dan antikemapanan, sebelum jadi sekadar tren fesyen.
Rambut gimbal awalnya terkait spiritualitas. Lalu jadi simbol pemberontakan dan antikemapanan, sebelum jadi sekadar tren fesyen.
34 tahun lalu, komandan Kopassus ini telah mengatakan mungkin di masa datang Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan.
34 tahun lalu, komandan Kopassus ini telah mengatakan mungkin di masa datang Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan.
Bagaimana media Timur Tengah mengomentari seputar pengangkatan Jenderal Soeharto sebagai pejabat presiden.
Bagaimana media Timur Tengah mengomentari seputar pengangkatan Jenderal Soeharto sebagai pejabat presiden.
transparant.png
bottom of page