top of page

Kuda Lumping Gaya Banyuwangi

Tarian Jaranan Buto mengambil bentuk raksasa sebagai model. Berasal dari akulturasi Mataram dan kesenian asli Banyuwangi.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 15 Mei 2020
  • 3 menit membaca

Kesan misterius langsung terasa saat tiupan seruling dan tabuhan kendang mulai dibunyikan. Sambil mengikuti irama musik, sejumlah orang berparas seram berlenggak-lenggok, memamerkan gerakan tari yang enerjik.


Seolah-olah menunggang seekor kuda, yang juga digambarkan memiliki bentuk seram, gerakan orang-orang itu semakin liar. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, para penari bergerak ke sana ke mari di bawah arahan seorang pawang. Inilah Jaranan Buto.


Jaranan Buto atau Jaranan Buta adalah kesenian tari khas daerah Banyuwangi. Bentuknya serupa dengan Kuda Lumping di Kediri, Jatilan di Yogyakarta, atau Jaran Kepang di beberapa kawasan Jawa Tengah, yakni menggunakan properti kuda dalam setiap pertunjukannya. Tetapi bedanya, Jaranan Buto memakai properti kuda yang memiliki rupa seperti raksasa (buto).


Menurut Agus Dwi Handoko dan Septina Alrianingrum dalam “Perkembangan Seni Tari Jaranan Buto di Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi Tahun 1963-2007” dimuat jurnal AVATARA, simbol kuda dalam kesenian jaranan memiliki nilai filosifis sebagai semangat perjuangan, keperkasaan, dan jiwa ksatria. Simbol kuda ini juga dikenal oleh suku-suku di seluruh dunia.


“Kuda dalam kesenian tari Jaranan Buto ini ditampilkan sebagai wujud makhluk berwajah manusia raksasa berbadan kuda sehingga disebut dengan kuda raksasa (jaranan buto),” tulis Agus dan Septina.


Di dalam penelitiannya, Agus dan Septina menyebut Jaranan Buto berasal dari Dusun Cemetuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Istilah Jaranan Butho diambil dari nama tokoh legendaris Minakjinggo. Banyak anggapan di masyarakat yang menggambarkan Minakjinggo bukan sebagai manusia biasa, melainkan raksasa (dalam bahasa Jawa disebut Buto). Sebagai penguasa Balambangan kesaktian Minakjinggo memang sangat terkenal. Dia diceritakan pernah membuat repot Kerajaan Majapahit.


Dusun Cementuk sendiri berbatasan dengan Kecamatan Gambiran, yang mayoritas memiliki garis keturunan dari trah Mataram. Akibat letak geografisnya itu, kata Agus dan Septina, Desa Cluring mampu menghasilkan Jaranan Buto. Sehingga tarian ini merupakan produk akulturasi budaya antara budaya Jawa (Mataram) dengan kebudayaan Suku Osing.


Sementara Clara van Groenendael dalam Jaranan: The Horse Dance and Trance in East Java, menyebut Jaranan Buto yang ada di Banyuwangi ide awalnya dibawa oleh orang-orang dari Trenggalek. Tetapi di dalam tulisannya, Groenendael tidak menyebut kapan hal itu terjadi. Sebuah data dari tahun 1930-an, berasal dari penelitian Th. Pigeaud, menunjukkan bahwa tarian kuda tidak ada di tengah tradisi para penghuni lama Banyuwangi (Suku Osing). Dia hanya meyakini bahwa jenis tari ini telah berumur sangat panjang dan dimainkan secara turun-temurun oleh masyarakat.


“Ini mungkin menunjukkan bahwa fenomena tarian kuda sebenarnya diimpor ke Banyuwangi. Saya tidak dapat mengetahui kapan hal itu terjadi,” ungkap Groenendael.


Pertunjukan tari Jaranan Buto umumnya dilakukan dalam jumlah besar. Ada sekitar 16-20 orang, dihimpun dalam 8 grup, yang terlibat. Para penari dibuat sedemikian rupa –rambut panjang, kulit diwarnai merah, dan pakaian yang diyakini dipakai oleh raksasa dalam cerita wayang– sehingga wajah dan perawakannya menyerupai sosok Buto. Setiap pementasan akan diiringi oleh instrumen musik khas Jaranan Buto, terdiri dari: dua bonang, gong (besar dan kecil), seruling (sompret), kecer, dan dua buah kendang.


Sebagai bagian penting dalam Jaranan Buto, replika kuda berbentuk kepala raksasa yang terbuat dari kulit lembu tidak pernah lupa disertakan. Wajah raksasa itu pun didominasi warna merah menyala, dengan kedua mata besarnya. Cerita yang diangkat pun beragam, biasanya tentang kisah kepahlawanan Minakjinggo, atau kisah heroik tokoh lainnya.


Satu hal yang menarik dalam pertunjukkan Jaranan Buto adalah kesurupan yang dialami para penari. Secara tidak sadar, para penari ini akan mengejar orang-orang yang memanggil dengan siulan. Mereka juga bisa memakan kaca beling, api, ayam hidup, dan berbagai atraksi lainnya. Setiap pementasan, para penari akan didampingi beberapa orang pawang. Pawang ini bertanggung jawab menyadarkan kembali para penari Jaranan Buto dan penonton yang ikut kesurupan selama pertunjukkan.


“Kesenian Jaranan Buto ini merupakan salah satu mahkota yang harus dilestarikan, dipelihara, dan ditunjukkan kepada dunia luar, sehingga potensi ini dapat bermanfaat baik untuk masyarakat maupun pemerintah, terutama dalam meningkatkan pendapatan asli daerah,” tulis Agus dan Septina.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
As one of the seven important inscriptions from the Tarumanagara heritage, the Tugu Inscription mentions the Bekasi River and the Old Cakung River that exist until today.
bg-gray.jpg
Seorang kiai kampung diadili karena dianggap mengingkari syariat. Sebuah kritik atas pembacaan Serat Cebolek.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
bg-gray.jpg
In addition to the epigraphs found on the seven inscriptions, historical sources regarding Tarumanagara also come from statues and temples at two archaeological sites.
Depresi Besar membuat banyak orang Amerika Serikat kehilangan pekerjaan dan kesulitan keuangan. Permainan monopoli diminati karena menawarkan sensasi menjadi orang kaya meski hanya imajinasi.
Depresi Besar membuat banyak orang Amerika Serikat kehilangan pekerjaan dan kesulitan keuangan. Permainan monopoli diminati karena menawarkan sensasi menjadi orang kaya meski hanya imajinasi.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
transparant.png
bottom of page