top of page

Aroma Pemberontakan di Balik Hidangan Pasta

“Il Duce” membenci pasta karena alasan kesehatan. Ironisnya sang diktator fasis itu disajikan pasta menjelang dieksekusi.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 22 Mei 2024
  • 4 menit membaca

TIDAK seperti Adolf Hitler atau Josef Stalin, Il Duce Benito Mussolini tak pernah punya kuliner khas yang jadi favoritnya. Diktator fasis Italia itu justru membenci pasta yang kondang di dunia sebagai gastronomi khas negerinya.


Mussolini sejak lama mengaku harus pilih-pilih makanan. Toh ia juga memiliki riwayat darah rendah dan penyakit maag. Belum lagi Mussolini tak ingin jadi obesitas seperti yang terjadi pada adik perempuannya, Edvige Mussolini. Obesitas juga bisa berujung fatal karena meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.


“Saya melihat foto-foto terakhirmu. Kamu semakin gemuk saja. Kamu harus mengurangi berat badan seperti saya karena obesitas tidak hanya buruk buat kesehatan tapi juga berisiko kematian,” tulis Mussolini dalam suratnya kepada adiknya medio 1925, dikutip David Kertzer dalam The Pope and Mussolini: The Secret History of Pius XI and the Rise of Fascism in Europe.


Soal makanan, Il Duce tak pernah gemar mengikuti kebiasaan makan orang Italia: pasta. Lebih-lebih kuliner Prancis yang di era 1920-an begitu digemari kalangan elit.


“Mussolini tidak menyukai pasta karena ia berpikir bahwa makanan (karbohidrat) itu membuat Anda malas dan lamban. Mussolini juga begitu membenci makanan Prancis yang ia sebut sebagai (makanan) tak berguna,” tulis Dylan Frost dalam Last Meals: The Final Suppers of Serial Killers & Murderers.



Mussolini selektif soal makanan, mengingat ia punya pencernaan yang sensitif. Oleh karenanya ia gemar ‘ngemil’ buah-buahan hingga salad sayuran sebagai makanan rutinnya.


Karena masalah pencernaannya itu juga Mussolini menghindari alkohol dan beralih ke susu. Seiring usianya bertambah, Mussoloni juga sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaannya merokok.


“Karena punya penyakit maag, Mussolini punya skema diet yang cukup eksentrik. Ia hanya makan nasi, telur, sedikit daging (ham) dan banyak buah-buahan. Ia rutin makan tiga kilo anggur dan minum susu sehari sekali. Ia lebih sering (makan malam) hanya dengan salad, bawang putih rebus, dan jus lemon. Ia meyakini bawang putih baik untuk kesehatan jantungnya,” imbuhnya.


Selain itu, Mussolini hanya punya satu kebiasaan makan yang selalu ia terapkan di manapun ia berada. Ia ingin setiap orang sudah lebih dulu duduk dengan rapi di meja makan dengan makanan sudah disajikan sebelum Mussolini datang ke meja makan. Selebihnya, ia hanya ingin disajikan makanan sehat seperti salad dan daging.


“Suatu ketika (medio 1922) saat berkunjung ke Apennina, ia ditawari makan siang oleh seorang istri pejabat Prefektur Firenze di villanya dekat San Lorenzo. Sang nyonya menawarkan memasakkan makanan (pasta) namun Mussolini mengatakan, ‘jika Anda tidak keberatan, hidangkan saya (daging) ham, salad, dan buah saja. Kami sedang bergerak cepat seperti serdadu’,” ungkap Paolo Monelli dalam Mussolini: The Intimate Life of a Demagogue.



Pastaciutta Anti-Fasis


Selain pizza, Italia dikenal dengan beragam pasta khasnya di kancah kuliner dunia. Pastaciutta alias pasta yang biasa dibuat dari adonan gandum dan dicampur dengan air atau telur itu sudah eksis di sana sejak sekitar 400 Sebelum Masehi (SM) di masa Peradaban Etruria (900 SM-27 SM). Seiring waktu, pasta pun punya aneka jenis pasta panjang dan pendek mulai dari spaghetti, linguine, lasagna, tagliatelle, fusilli, penne, hingga macaroni.


Namun, Mussolini membencinya. Ia lebih menginginkan masyarakat Italia mulai beralih dari pasta ke nasi atau makanan sehat lain yang rendah kandungan karbohidrat dan tinggi protein.


Tak ayal kemudian pasta tak hanya jadi simbol perlawanan tapi hingga kini jadi warisan anti-fasis. Pasalnya Mussolini dan para gembong fasis di bawahnya “mendeklarasikan” perang terhadap pasta lewat manifesto La Cucina Futurista pada 1932 yang dituliskan sastrawan fasis, Filippo Tommaso Marinetti.


“Siapapun yang mengonsumsi pastaciutta yang sadar dengan hati nuraninya akan hanya menemukan kepuasan suram seperti berhenti di Lubang Hitam. Lubang rakus yang tak tersembuhkan. Hanya santapan futuris yang bisa membangkitkan semangatnya dan pasta bersifat anti-kejantanan karena perut yang berat dan kembung tak bisa mendorong gairah fisik,” tulis Marinetti dalam manifesto itu.


Tetapi Mussolini bukanlah Hitler atau Stalin yang sukses memaksakan kebijakan-kebijakan ekstremnya di negerinya sendiri. Saat Perang Dunia II sudah berkecamuk, terlepas dari kekurangan pangan selain gandum, ternak-ternak dan hasil pertanian lain di masyarakat pedesaan mayoritas diwajibkan untuk diberikan ke pasukan Jerman. Para produsen pasta juga membanjirinya dengan protes via telegram.



Alhasil masyarakat hanya memiliki stok gandum dan banyak keluarga penyokong partisan pemberontak Italia diam-diam memanen gandum sebagai bahan baku pasta. Salah satunya keluarga Cervi di Reggio Emilia.


“Pada 25 Juli (1943) ketika mendengar kabar gembira (kejatuhan Mussolini), keluarga Cervi mengorganisir dan mendistribusikan pasta ke segenap kota di piazza (alun-alun). Kedatangan mereka membawa gerobak penuh adonan dan pasta-pasta yang sudah dimasak disambut meriah para petani lainnya,” tulis Cezare Zavattini dalam Scenario: The Seven Cervi Brothers.

Larangan pasta sudah tak lagi berlaku. Hingga hari ini pun setiap tanggal 25 Juli seiring jatuhnya fasisme Mussolini, dirayakan Hari Pasta Anti-Fasis.


“Suara rebusan (pasta) terdengar seperti sebuah simfoni. Saya mendengar banyak pembicaraan soal akhir dari fasisme tapi pidato paling indah tetaplah suara pasta sedang direbus,” kenang Alcide Cervi dalam I miei sette figli.


Jadi lebih ironis bagi Mussoloni saat menjelang ajalnya disajikan pasta. Mussolini ditangkap bersama selingkuhannya, Clara Petacci, oleh partisan komunis dekat Danau Como pada 27 April 1945. Mereka disajikan pasta yang entah disantap atau tidak sebelum keduanya dieksekusi keesokan harinya di desa Giulino di Mezzegra di Italia Utara.






Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Despite the mixed reactions, telenovelas continue to dominate Indonesian television. The heyday of these Latin American soap operas ultimately came to an end as viewers grew tired of them and switched to Mandarin and Korean dramas.
bg-gray.jpg
According to the Wangsakerta Manuscript, Tarumanagara was founded by refugees from India.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
Dianggap sebagai bapak pendiri Cape Town, Jan van Riebeeck membuka pemukiman kulit putih di Afrika Selatan.
Dianggap sebagai bapak pendiri Cape Town, Jan van Riebeeck membuka pemukiman kulit putih di Afrika Selatan.
Rekaman suara rintihan arwah yang tersesat tidak hanya membuat pasukan Viet Cong tidak nyaman, tetapi juga memengaruhi mental pasukan Amerika Serikat dan penduduk sipil.
Rekaman suara rintihan arwah yang tersesat tidak hanya membuat pasukan Viet Cong tidak nyaman, tetapi juga memengaruhi mental pasukan Amerika Serikat dan penduduk sipil.
Donald Trump putus asa Amerika Serikat sudah tak lagi relevan, kata sejarawan Vijay Prashad. Momentum untuk berdiri tegak membawa semangat KAA.
Donald Trump putus asa Amerika Serikat sudah tak lagi relevan, kata sejarawan Vijay Prashad. Momentum untuk berdiri tegak membawa semangat KAA.
Sebagai ibukota Asia-Afrika, Bandung tak sekadar mencetuskan gerakan politik dan perdamaian, melainkan juga kedaulatan ekonomi.
Sebagai ibukota Asia-Afrika, Bandung tak sekadar mencetuskan gerakan politik dan perdamaian, melainkan juga kedaulatan ekonomi.
Setelah memberontak, pangkatnya  malah naik. Itulah pengalaman Alex Mengko si tentara berpengalaman.
Setelah memberontak, pangkatnya malah naik. Itulah pengalaman Alex Mengko si tentara berpengalaman.
K’tut Tantri dikenal sebagai penyiar asing yang membantu perjuangan Indonesia. Pengalaman di kamp interniran Jepang menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
K’tut Tantri dikenal sebagai penyiar asing yang membantu perjuangan Indonesia. Pengalaman di kamp interniran Jepang menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
transparant.png
bottom of page