top of page

Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia

Tanaman eksotis Afrika yang disempurnakan jadi minuman di Jazirah Arab. Mengglobal di Eropa dan sampai kini tetap hype di kalangan milenial.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Perhelatan Pasar Kopi dipadu Pameran "Revolusi Kopi" di Posthoornkerk, Amsterdam (Dok. Bonnie Triyana/Historia)

6 Sep 2022
7 menit membaca

Diperbarui: 11 Agu

SELAIN kaya rasa, kopi di Indonesia juga kaya cerita. Ia bisa dinikmati kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun. Rakyat jelata di pinggir jalan dengan “Starling” andalan ataupun sang penguasa di istananya, semua menikmati kopi.


Kaya rasa dan kaya cerita, itulah yang jadi tema pameran bertajuk “Coffee Revolution: From Coloniality to Equality” helatan Pasar Kopi di Posthoonrkerk, Amsterdam, Belanda. Perhelatan dari 1-7 September 2022 ini diprakarsai Roemah Indonesia dalam rangka memperkenalkan kopi-kopi asal Indonesia di negeri “Kincir Angin”.


“Inti dari pameran ini memberikan penguatan informasi mengenai kopi Indonesia. Yang mau berbisnis tak hanya menikmati kopinya yang rasanya enak tapi juga narasi sejarah di balik kopi itu sendiri. Bahwa kopi Indonesia menjadi kaya rasa dan kaya cerita. Bagaimana kopi dimulai dari komoditi kolonial, lambat laun jadi komoditi yang bisa dinikmati siapapun,” terang sejarawan Bonnie Triyana dalam live tour pameran via Youtube Historia.ID, Senin (5/9/2022) malam WIB.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page