Masuk Daftar
My Getplus

Polusi Membunuhmu

Kala kota London diselimuti kabut polusi beracun. Korbannya mencapai 12 ribu jiwa karena menderita ISPA.

Oleh: Randy Wirayudha | 11 Sep 2023
Ilustrasi kota London yang diselimuti kabut polusi pada 1952 dalam serial "The Crown" (netflix.com)

RATU Elizabeth II (diperankan Claire Foy) terperangah. Saat menyingkap tirai jendela kamarnya pada 6 Desember 1952 pagi, di pelupuk matanya langit London tampak gelap disesaki kabut polusi pekat. Situasi itu membuat Ratu Elizabeth batal mengunjungi sang nenek, Ibu Ratu Mary, dengan mengendarai mobil yang jarak pandang terbatasnya terlalu berbahaya.

Sementara, Perdana Menteri (PM) Winston Churchill (John Lithgow) seolah tak mengindahkan apa yang terjadi di negerinya. Kala beraudiensi dengan Ratu Elizabeth II pada petang harinya, Churchill justru lebih mengedepankan potensi Krisis Terusan Suez di Mesir. Tetapi sang ratu yang baru sembilan bulan bertakhta keukeuh menanyakan tentang cuaca dan kabut pekat.

“Tentang cuaca? Ini hanya kabut, Nyonya. Pada akhirnya akan hilang,” jawab PM Churcill.

Advertising
Advertising

“Saya mengharapkan penjelasan yang lebih saintifik,” timpal sang ratu.

“Maka akan saya pastikan laporan barometernya sudah akan ada di kotak surat Anda besok. Lengkap dengan (tabel) isobar dan isohume. Keadaannya sedang musim dingin. Ada banyak hal yang harus saya bebankan kepada rakyat Anda sebagai pemenang Perang Dunia (Kedua) dan mengalahkan fasisme, kejahatan, dan tirani. Membiarkan mereka kedinginan bukan salah satunya,” jawab sang PM.

“Anda tampaknya tidak khawatir? Anda tahu, mendiang ayahku menulis surat kepada pendahulu Anda bertahun-tahun lampau, menyatakan kekhawatirannya tentang pembangkit listrik (batubara) kota yang dibangun partai Anda,” sambung Ratu Elizabeth II.

Baca juga: Ratu Elizabeth II yang Dihujat dan Dicinta

PM Churchill paham tapi ia menganggap isu tentang polusi yang sedang melanda London sedang dimainkan lawan-lawan politiknya untuk menjatuhkannya. Churchill bersikeras masyarakat dan industri tetap membutuhkan batubara dan menunjuk cuaca di langit London yang sedang dilanda antisiklon sebagai biang keladinya.

Begitulah potongan adegan episode ke-4, season ke-1 serial The Crown (2016-2023) yang ditayangkan platform OTT (over-the-top) Netflix. Adegan tersebut juga menggambarkan betapa lalainya pemerintah menyikapi bencana yang kelak dikenal sebagai Great Smog of London atau Kabut Polusi London 1952 itu.

Adegan PM Winston Leonard Spencer-Churchill (kanan) saat dipanggil Ratu Elizabeth II terkait fenomena kabut polusi di serial The Crown (netflix.com)

Cuaca, Polusi Pemukiman, dan PLTU

Kabut polusi sejatianya tak hanya menaungi London pada 1952. Met Office atau Dinas Meteorologi Inggris dalam laman resminya mengungkapkan, London yang lazimnya berkalang kabut polusi selama musim dingin juga pernah dilanda pada Desember 1813, Desember 1873, Januari 1880, Februari 1882, Desember 1891, Desember 1892, dan November 1948.

“Keadaannya makin parah pasca-Revolusi Industri pada akhir 1700-an. Pabrik-pabrik mengeluarkan gas dan partikel-partikel beracun dalam jumlah besar ke atmosfer. Polutan-polutan di udara juga bertindak sebagai katalis untuk terjadinya kabut, di mana kandungan air (di udara) membuat partikel-partikel kecilnya menciptakan smog atau kabut polusi,” tulis Met Office.

Kejadian-kejadian itu juga menimbulkan korban jiwa walau angkanya tak sebesar pada 1952. Kabut polusi yang berlangsung pada 5-9 Desember 1952 memakan korban jiwa 10-12 ribu orang serta lebih dari 100 ribu lainnya jatuh sakit. Biang keladinya bersumber dari penggunaan batubara di permukiman dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) serta cuaca.

Ada benarnya yang dikatakan PM Churcill. Bahwa kebutuhan masyarakat di musim dingin awal Desember 1952 itu, terutama 8,3 juta populasi warga London, membuat kebutuhan batubara domestik di permukiman meningkat drastis. Masalahnya batubara yang digunakan di lingkungan permukiman itu bukan jenis batubara dengan kualitas laik.

Baca juga: Batavia Kota Polusi

Robert Emmet Hernan dalam This Borrowed Earth: Lessons from the Fifteen Worst Enviromental Disasters Around the World, mengungkapkan, ada faktor ekonomi yang berperan. Pasca-Perang Dunia II, pemerintah terpaksa mengekspor batubara keras atau batubara jenis antrasit yang tak mengeluarkan asap saat dibakar.

“Pada 1952 warga London tinggal bergantung pada batubara yang lebih lunak karena lebih murah tapi memiliki kandungan sulfur dan nitrogen oksida yang lebih keras dari antrasit. Asap yang dihasilkan pun lebih pekat dan penuh kandungan hidrokarbon,” tulis Hernan.

Belum lagi sumbangan polusi dari PLTU. London kala itu dikepung lima PLTU, yakni PLTU Fulham, PLTU Battersea, PLTU Bankside, PLTU Greenwich, dan PLTU Kingston. Alhasil, masih dalam catatan Met Office, permukiman dan PLTU itu menyumbang 1.000 ton partikel asap, 140 ton asam klorida, 14 ton senyawa fluorin, serta 370 ton sulfur dioksida yang terkonversi menjadi 800 ton asam sulfur per harinya.

Ilustrasi PLTU di balik kabut polusi London 1952 (netflix.com)

Keadaannya diperparah dengan kondisi cuaca. Sejak 4 Desember 1952, langit kota London dinaungi fenomena antisiklon yang membuat cuaca dinginnya stagnan tanpa hembusan angin yang membuyarkan polutan-polutan di udara.

“Antisiklon yang terjadi pada 4 Desember 1952 menciptakan perangkap kabut dari udara dingin dan hangat. Kabutnya yang tercampur dengan asap pemukiman dan industri, membentuk kabut polusi yang pekat dan menyelimuti ibukota keesokan harinya,” ungkap Peter Hughes dan Nigel Mason dalam Introduction to Enviromental Physics: Planet Earth, Life, and Climate.

Baca juga: PLTU Menyumbang Polusi, Waktunya Beralih ke PLTN?

Kabut pekat itu nyaris melumpuhkan segala sendi kehidupan warga. Pemerintah kota sampai menonaktifkan sejumlah moda transportasi, kecuali London Underground atau keretaapi bawah tanah. Sejumlah obor darurat dinyalakan pihak kepolisian untuk memandu lalu lintas karena jarak pandang sangat terbatas.

“Itu kabut terburuk yang pernah saya alami. Terdapat semburat (partikel) berwarna kuning di dalam kabutnya dan tercium bau belerang (sulfur, red.) yang sangat kuat karena memang kabutnya bersumber dari pembakaran batubara. Bahkan di siang hari hanya terlihat kabut berwarna kuning dan gelap pekat,” kenang warga London berusia 24 tahun bernama Barbara Fewster kepada BBC, 5 Desember 2002.

Barbara saat itu merupakan penari balet di Teater Sadler’s Wells. Ia juga mengenang betapa mencekamnya saat ia pulang berkendara mobil dari teater diantar tunangannya kala kabut itu mengepung London.

Aparat polisi yang harus tetap bertugas menggunakan masker selama fenomena London Great Smog 1952 (britannic.com)

Sementara, Rosemary Merritt yang di kala itu masih setingkat SMA, punya memori lebih getir. Ayahnya yang bekerja sebagai mekanik di perusahaan bus jadi salah satu korban kabut polusi itu. Ayahnya terpaksa pulang berjalan kaki selama satu jam setengah karena moda-moda transportasi dihentikan, hingga terkena bronchitis.

“Sesampainya di pintu depan rumah, ia tak bisa bernafas dengan baik dan sering batuk. Lalu pada waktu tidur di waktu malam, saya terbangun oleh pukulan ibu saya ke pintu. Kondisi ayah memburuk. Wajahnya membiru,” kenang Rosemary, dikutip laman The World, 7 Desember 2012.

Rosemary dan ibunya bergegas ke dokter untuk meminta obat. Tapi saat kembali ke rumah, ayahnya sudah kadung mangkat. Ayah Rosemary jadi satu dari 600 korban jiwa pada hari kedua, 6 Desember 1952.

Baca juga: Lingkungan dalam Kungkungan

Di hari kedua itu pula sejumlah rumahsakit mulai kelebihan kapasitas sampai-sampai layanan ambulans dihentikan. Sejumlah orang yang jatuh sakit pun terpaksa berjalan kaki atau bersepeda untuk bisa sampai ke rumahsakit.

Mayoritas korban berusia sangat muda atau tergolong lansia. Mereka kebanyakan menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Ilustrasi obor darurat kabut untuk meringankan jarak pandang lalu lintas yang terbatas (netflix.com)

Seiring menghilangnya antisiklon dan cuaca mulai membaik mulai 9 September, kabut polusi itu memang berangsur hilang. Tetapi tidak dengan jumlah korban yang terus meningkat di bulan-bulan berikutnya.

“Menariknya dalam laporan awal 4.000 jiwa yang disalahkan atas kematian-kematian itu adalah wabah flu. Tetapi E.T. Wilkins, peneliti ahli utama di Departemen Penelitian Sains dan Industri mengungkapkan hanya sedikit dari jumlah kematian yang merupakan kasus flu,” ungkap M.L. Bell dan T. Fletcher dalam A Restrospective Assessment of Mortality from the London Smog Episode 0f 1952: The Role of Influenza and Pollution.

Dari data yang dihimpun Wilkins sejak periode Desember 1952 sampai Maret 1953, tercatat jumlah kematiannya mencapai 8.000 jiwa. Jumlah total korban pun kemudian bertambah menjadi 12 ribu orang. Mayoritas terbukti karena ISPA, baik yang disebabkan bronchopneumonia maupun bronchitis, sebagaimana yang dialami mendiang ayah Rosemary.

Baca juga: Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman

TAG

polusi ratu elizabeth ii inggris churchill rewind2023

ARTIKEL TERKAIT

Ada Rolls-Royce di Medan Laga Rolls-Royce Punya Cerita Seputar Deklarasi Balfour Pangeran William, Putri Diana, dan Palestina Pasukan Jepang Merebut Kuala Lumpur di Musim Durian Ingar-Bingar Boxing Day Ketika Pangeran Inggris Jadi Korban Pencurian Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion Ketika Hujan Es Melanda Jakarta Bill Shankly dalam Kenangan