Masuk Daftar
My Getplus

Pangeran William, Putri Diana, dan Palestina

Bekas intel Inggris menyingkap spekulasi Putri Diana “disingkirkan” karena berniat membela Palestina. Benarkah?

Oleh: Randy Wirayudha | 23 Feb 2024
Putri Diana saat gencar mendukung kampanye antiranjau PBB (icbl.org)

SETELAH 139 hari kebrutalan genosida Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 29 ribu warga Palestina, Pangeran William akhirnya buka suara. Putra mahkota Inggris itu mulai menyerukan gencatan senjata, tak peduli Perdana Menteri Rishi Sunak dan bahkan ayahnya sendiri, Raja Charles III, mendukung aksi-aksi brutal Israel.

Sebelumnya, Pangeran William dan Putri Kate melalui juru bicaranya, sebagaimana dikutip People, 12 Oktober 2023, memang sempat membela dalih Israel untuk mempertahankan diri. Akan tetapi setelah sekira empat bulan berselang, Pangeran William berubah dan mendorong masuknya bantuan kemanusiaan di Gaza secara masif.

Seruan Pangeran William itu dilontarkan tak lama setelah Amerika Serikat untuk ketiga kalinya memveto draf proposal resolusi gencatan senjata yang diajukan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) pada Selasa (20/2/2024). Delegasi Inggris sendiri memutuskan kembali abstain.

Advertising
Advertising

“Sudah terlalu banyak yang terbunuh. Saya, seperti juga banyak orang, ingin melihat akhir dari konflik ini sesegera mungkin. Terdapat kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Menjadi sangat krusial bahwa bantuan-bantuan bisa masuk dan semua sandera dibebaskan,” ungkap Pangeran William dalam pernyataan yang dikeluarkan Istana Kensington, dikutip TIME, Selasa (20/2/2024).

Baca juga: Mandela dan Palestina

Jauh sebelum prahara ini terjadi, Pangeran William pun pernah mengunjungi Palestina. Ia ke Tepi Barat medio Juni 2018. Ia bahkan tercatat sebagai anggota kerajaan pertama yang berkunjung pasca-Inggris melepaskan tanah Palestina untuk kemudian diserahkan penentuan nasibnya ke PBB pada 1947.

Pangeran William bertamu ke Tepi Barat seiring rangkaian agenda kunjungannya ke Palestina, Israel, dan Yordania. Tak hanya untuk dijamu Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Pangeran William juga menyambangi beberapa kamp pengungsi Palestina.

“Saya sangat takjub betapa banyak orang di wilayah ini yang menginginkan perdamaian yang adil dan abadi. Pesan saya adalah, Anda tidak pernah dilupakan. Inggris berdiri bersama Anda dan kita bekerja bersama demi masa depan yang sejahtera dan damai,” tutur Pangeran William, dikutip Associated Press, 28 Juni 2018.

Pangeran William (kiri) saat dijamu Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah medio Juni 2018 (X @KensingtonRoyal)

“Disingkirkan” karena Pro-Palestina?

Sama seperti ibundanya, mendiang Putri Diana, Pangeran William mengharapkan penyelesaian damai terhadap konflik “abadi” Palestina-Israel yang terjadi sejak 1948. Putri Diana bahkan disebutkan berniat mengampanyekan dukungannya terhadap Palestina sebelum ajalnya menjemput. Tapi benarkah Putri Diana “dibunuh” karena alasan itu?

Tidak bisa dipungkiri bahwa ia –baik saat masih bergelar “Putri Diana” maupun setelah melepaskan diri dari keterikatannya di Kerajaan Inggris– memang populer dan dielu-elukan banyak lapisan masyarakat dunia karena sangat aktif dalam banyak misi kemanusiaan. Diana tak segan menyinggung isu-isu konflik, salah satunya dengan mengampanyekan pelarangan penggunaan ranjau darat antipersonil yang digagas PBB.

Kampanyenya didasari atas keprihatinan Diana kala mengunjungi Angola, negeri paling banyak terdapat ranjau darat, pada Januari 1997 atau sekira lima bulan pasca-bercerai dengan Pangeran Charles (kini Raja Charles III). Di Angola, ia banyak menyapa anak-anak penyintas korban ranjau darat semasa Perang Saudara Angola (1975-2002).

Baca juga: Bom Fosfor Putih Bukan Senjata Biasa

Bahkan medio Agustus 1997, Diana masih sempat mengunjungi Bosnia –yang kondisinya nyaris serupa dengan Angola– pasca-Perang Bosnia (1992-1995). Sialnya, PBB baru resmi menggelar Konvensi Pelarangan Penggunaan, Penimbunan, Produksi dan Transfer Ranjau Anti-Personil atau Traktat Larangan Ranjau di Ottawa, Kanada pada 18 September 1997 atau 18 hari pasca-Diana tutup usia.

Diana meninggal di underpass Pont de l’Alma, Paris, Prancis pada 31 Agustus 1997. Saat itu ia bersama kekasihnya yang pebisnis Mesir, Emad el-Din Mohamed Abdel Mena’em ‘Dodi’ al-Fayed, berada di dalam mobil Mercedes-Benz W140 dengan kecepatan tinggi. Mobil yang disopiri Henri Paul itu mengalami kecelakaan tunggal yang menewaskan ketiganya di tempat.

Dari berbagai versi dan sumber investigasi resmi, kecelakaan itu dipicu kejar-kejaran antara mobil yang ditumpangi Diana-Dodi dengan mobil-mobil paparazzi yang memburu foto sejoli itu. Namun, muncul banyak teori konspirasi bahwa Diana bukan sekadar kecelakaan, melainkan ada skenario untuk menakuti, melukai, menyingkirkan, dan bahkan membunuhnya.

Putri Diana saat mengunjungi medan ranjau di Angola (halotrust.org)

Diana sendiri pernah punya firasat bahwa dia akan “disingkirkan” demi memuluskan niat Pangeran Charles menikahi selingkuhannya, Camilla Parker Bowles (kini Ratu Camilla). Diana menuangkan pikiran negatifnya itu lewat suratnya pada Oktober 1995 yang disimpan mantan kepala pelayannya, Paul Burrell.

“Suami saya merencanakan ‘kecelakaan’ di mobil saya, (karena) kegagalan rem dan (berakibat) cedera kepala serius untuk membuka jalan Charles menikah (dengan Camilla),” bunyi potongan surat Diana dalam, dikutip John Morgan dalam Cover-up of a Royal Murder: Hundreds of Errors in the Paget Report.

Teori lainnya adalah, Diana “disingkirkan” lewat upaya kolaboratif CIA (badan intelijen Amerika) dan MI6 (dinas intelijen asing Inggris) karena kampanye antiranjau. Teori lainnya, karena Diana mulai menyiratkan dukungannya terhadap kebebasan Palestina dari pendudukan Israel.

Baca juga: Sebelum Charles Menjadi Raja Inggris

Sergio Felleti dalam Lady Diana, Top Secret mengutip suratkabar The Guardian edisi 26 Agustus 1999, menyatakan kampanye antiranjau Diana berimplikasi pada kacaunya pasar senjata internasional. Terlebih Inggris selama ini merupakan salah satu produsen terbesar ranjau darat dan persenjataan konvensional lainnya.

“Di Kementerian Pertahanan Inggris terdapat perilaku kemarahan terhadap Putri Diana yang berujung pada kebencian. Apalagi dalam beberapa kesempatan, Putri Diana mengasosiasikan dirinya terhadap konflik Israel-Palestina. Kampanye antiranjau itu tidak sekadar dianggap misi amal tetapi dalam sebuah dokumen rahasia intelijen Amerika, terdapat kesimpulan bahwa kampanye antiranjau Putri Diana mengancam hubungan antara Inggris dan Amerika, di mana hal itu akan mengakibatkan efek negatif terhadap NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara, red),” tulis Felleti.

Spekulasi serupa tapi tak sama juga dihembuskan mantan mata-mata MI5 (agensi intelijen domestik Inggris) Annie Machon. Dalam bukunya yang terbit medio 2005, Spies, Lies and Whistleblowers: MI5, MI6 and the Shayler Affair, Machon menyingkap bahwa CIA dan MI6 diduga terlibat dalam insiden kematian Diana. Pertama, karena ingin menakuti atau setidaknya sekadar menyakiti dengan tujuan agar hubungannya dengan Dodi al-Fayed putus karena Putri Diana diduga mengandung jabang bayi hasil hubungannya dengan Dodi.

“Karena Diana berniat menikah dengan Dodi atau karena ia diduga mengandung, otoritas (intelijen) merencanakan kecelakaan itu untuk memastikan ia dijauhkan dari keluarga Al-Fayed atau agar ia kehilangan anak yang dikandungnya. Walaupun saya tidak percaya otoritas ingin benar-benar membunuhnya karena mereka tidak ingin menjadikannya martir yang bisa memengaruhi keluarga kerajaan,” tulis Machon.

Memorabilia mendiang Diana Francis Spencer & Dodi Fayed (Wikipedia)

Kedua, Diana dianggap berniat mengampanyekan dukugan kepada Palestina secara global. Isu itu juga sempat dihebohkan salah satu media Inggris, Sunday Express. Dikutip The Jerusalem Post, 24 Oktober 2005, tabloid Inggris itu juga mengklaim pelakunya adalah agen intelijen Inggris dan Prancis dengan alasan, “kekhawatiran ia mengampanyekan dukungan publik untuk Palestina. Deklarasi dukungan semacam itu akan menimbulkan guncangan di Israel dan memicu krisis Timur Tengah.”

Machon kembali menekankan hal itu saat menjadi pembicara di forum International Education and Strategy Conference di Chicago pada 2-4 Juni 2006.

“Ia sukses berkampanye tentang ranjau dan dia juga hendak berkampanye atas nama bangsa Palestina. Sekarang, bayangkan figur seperti Putri Diana melakukan itu. Mereka tidak akan menolelirnya. Jadi saya pikir itu alasannya ia disingkirkan,” ujar Machon.

Di sisi lain, spekulasi tentang Putri Diana sengaja “disingkirkan” juga dilontarkan dua jurnalis investigatif, Dylan Howard dan Colin McLaren dalam bukunya, Diana: Case Solved, the Definitive Account That Proves What Really Happened. Dalam buku terbitan 2019 itu, Howard-McLaren menyingkap bahwa insiden yang terjadi di terowongan Paris itu bukan kecelakaan tunggal.

“Diana menjadi ancaman bagi kemapanan (kerajaan) untuk banyak alasan. Ia mengancam banyak hal yang telah dibangun keluarga kerajaan, termasuk ancaman terhadap kestabilan monarki. Dan kampanye antiranjau itu saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat Diana masuk dalam daftar pemantauan (intelijen),” tulis Howard dan McLaren.

Baca juga: Che Guevara dan Perlawanan di Gaza

Oleh karenanya, Howard dan McLaren tak percaya paparazzi yang mestinya paling disalahkan. Dari penelitian mereka, tidak ada satu pun mobil paparazzi yang mestinya bisa mengejar laju kecepatan mobil Mercedes yang ditumpangi Diana dan Dodi. Silaunya lampu kamera juga diyakini bukan jadi penyebab kecelakaan tunggal karena saat itu belum ada kamera yang lensanya bisa mengikuti kecepatan mobil itu.

“Dua orang saksi, George dan Sabine Dauzonne mengonfirmasi bahwa ada dua kendaraan yang dikendarai orang misterius, satunya seorang pemotor dan satunya seorang pengemudi mobil Fiat Uno berwarna putih. Pasca-kecelakaan, sepotong fragmen berbahan plastik yang diketahui bagian dari mobil Fiat Uno ditemukan polisi Prancis. Pada mobil Mercedes (Diana-Dodi) juga ditemukan bekas noda cat putih yang setelah dianalisa hanya digunakan oleh satu pabrik: Fiat,” lanjutnya.

Howard dan McLaren lalu mengelaborasikan temuan itu dengan pengakuan Machon dalam buku sebelumnya. Spekulasi-spekulasi itu memang tampak “paralel” meski belum bisa dibuktikan lagi fakta konkretnya.

“Apa peran (mobil) Fiat Uno itu? Apakah pengendaranya mengemudikan mobil itu dengan manuver tertentu untuk membantu pemotor menempatkan suatu alat? Banyak pertanyaan yang mestinya bisa terjawab jika saja terdapat bukti video kecelakaannya. Tidak satupun dari dua CCTV di terowongan itu merekamnya. Antara mengalami malfungsi atau tidak diposisikan merekam suatu sudut dengan benar. Ini kebetulan yang tak bisa dilewatkan begitu saja,” tandas Howard dan McLaren.

Baca juga: Pendukung Zionis yang Mengutuki Kebrutalan Israel

TAG

inggris palestina israel

ARTIKEL TERKAIT

Ada Rolls-Royce di Medan Laga Rolls-Royce Punya Cerita Tepung Seharga Nyawa Maqluba Tak Sekadar Hidangan Khas Palestina Seputar Deklarasi Balfour Kanvas Kehidupan Fathi Ghaben Piala Asia Tanpa Israel Mandela dan Palestina Pasukan Jepang Merebut Kuala Lumpur di Musim Durian Pendukung Zionis yang Mengutuki Kebrutalan Israel