top of page

Che Guevara dan Perlawanan di Gaza

Kunjungan Guevara ke Jalur Gaza mengubah penjajahan Zionis Israel dari konflik regional menjadi isu global.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 10 Okt 2023
  • 4 menit membaca

JALUR Gaza, sebuah wilayah sempit yang diapit wilayah Israel di timur dan Laut Mediterania di barat, disesaki pengungsi dan rumahsakit darurat pada 18 Juni 1959. Wajah-wajah prihatin yang didera kelaparan di kamp-kamp pengungsian, hari itu untuk sesaat berubah menggelora seiring kunjungan seorang tokoh revolusioner bernama Ernesto ‘Che’ Guevara.


Kunjungan Guevara itu punya makna besar bagi pengungsi untuk terus memberikan perlawanan terhadap zionis Israel. Kendati seruan pembebasan Palestina didengungkan Presiden Indonesia Sukarno di Konferensi Asia Afrika (KAA), menurut Salman Abu Sitta dalam Che Guevara in Gaza: Palestine Becomes a Global Cause, Guevaralah yang mengubah kolonisasi Zionis itu dari konflik kawasan menjadi isu global.


“Pemicunya memang Konferensi Bandung (KAA, red.) pada 1955 dan menghasilkan Gerakan Non-Blok, di mana para anggotanya mengguncang dominasi asing (Blok Barat dan Blok Timur). Jalur Gaza menjadi simbol Palestina. Wilayah kecil satu-satunya yang masih mengibarkan bendera Palestina,” ungkap Abu Sitta.



Guevara datang ditemani Presiden Uni Republik Arab (kini Mesir) Gamal Abdel Nasser. Di tahun itu, Jalur Gaza masuk dalam wilayah pemerintahan militer yang diduduki dan dilindungi Mesir (1959-1967) pasca-Perang Suez pada 1956.


Jalur Gaza penuh sesak oleh para pengungsi sejak Peristiwa Nakba (1948). Peristiwa itu merupakan pengusiran penduduk 247 desa di wilayah selatan Palestina seiring deklarasi negara Israel.


Mesir tidak hanya mengurusi para pengungsi namun juga menyokong senjata untuk para gerilyawan kiri, fedayeen, atau pejuang kemerdekaan Palestina. Itu berlangsung setelah Nasser mengunci kerjasama pembelian senjata dengan negara-negara Blok Timur pada Juli 1952.


Che Guevara (baret hitam) bersama para petinggi pemerintahan Gaza (plands.org)
Che Guevara (baret hitam) bersama para petinggi pemerintahan Gaza (plands.org)

Guevara Membakar Semangat Perlawanan


Kunjungan Guevara ke Gaza sedianya tak masuk dalam agenda resminya. Lima bulan pasca-Fidel Castro berkuasa di Kuba, ia mengirim Guevara melakoni kunjungan resmi selama tiga bulan ke 14 negara.


“Pada Juni 1959 Che Guevara di antaranya mengunjungi Mesir, India, Pakistan, Indonesia, Jepang, Yugoslavia, dan agenda kunjungan rahasia ke Uni Soviet. Selama di Kairo, Guevara juga menjalin hubungan dengan sejumlah organisasi pergerakan pembebasan dengan mendirikan kantor penghubung di kota itu dengan dukungan presiden sosialis Gamal Abdel-Nasser,” tulis Frank Villafana dalam Cold War in the Congo: The Confrontation of Cuban Military Forces, 1960-1967.


Guevara datang ke Kairo bersama rombongannya yang terdiri dari antara lain Menteri Pertahanan Raúl Castro –yang merupakan adik pemimpin Kuba Fidel Castro– dan Jenderal Caprera, perwira tinggi ahli dalam perang gerilya. Rombongan itu kemudian dibawa Nasser ke Gaza, 450 kilometer dari Kairo.



Saat tiba di Gaza pada 18 Juni 1959, Guevara disambut para petinggi pemerintahan militer Gaza, termasuk Gubernur Jenderal Gaza Letjen Ahmad Salim. Kunjungan itu, sambung Abu Sitta, jadi momen bersejarah pertamakali tokoh revolusioner datang langsung untuk melihat kondisi para korban Peristiwa Nakba di sejumlah kamp pengungsian.


“Yang menjadi hak harus dipulihkan,” cetus Guevara saat mengunjungi kamp pengungsi al-Bureij.


Jenderal Caprera (keempat dari kiri) yang turut dalam rombongan Che Guevara ke Gaza (plands.org)
Jenderal Caprera (keempat dari kiri) yang turut dalam rombongan Che Guevara ke Gaza (plands.org)

Kamp itu jadi salah satu kamp dengan kasus kelaparan terbesar di Gaza. Kamp tersebut pernah disasar serangan pasukan Israel pimpinan Ariel Sharon –yang dikemudian hari menjadi perdana menteri Israel ke-7– hingga menewaskan 43 jiwa pada Agustus 1955. Gara-garanya kamp itu diklaim memberi suplai senjata dan logistik pada aktivitas para fedayeen.


“Anda harus menunjukkan pada saya, apa yang sudah Anda lakukan untuk membebaskan negeri Anda. Di mana kamp latihannya? Di mana pabrik yang memproduksi senjata? Di mana pusat-pusat mobilisasi rakyat?” tanya Guevara kepada pemimpin kamp, Mustafa Abu Middain.



Guevara lantas menginstruksikan Jenderal Caprera yang ikut bersamanya untuk memberi sejumlah nasihat dan metode perlawanan gerilya kepada para pemimpin kelompok fedayeen. Guevara juga berniat ikut menyuplai senjata namun setelah dikomunikasikan dengan Castro, diputuskan segala bentuk bantuan bakal tetap dikoordinasikan dengan Nasser.


Sejak kunjungan itu, Kuba menjalin hubungan erat dengan Palestina. Castro pun tak hanya sekali mengirim delegasi ke Gaza pasca-kunjungan Guevara itu.


“Seiring pengiriman sejumlah delegasi ke Kairo, termasuk di antaranya adik Fidel, Raúl Castro, yang (kembali) mengunjungi Gaza pada 1960. Pada 1962 Che Guevara membuka kantor operasi untuk Fatah (organisasi bentukan Yasser Arafat, red.) di Algiers (Aljazair), di mana perwakilan Kuba bisa menjalin hubungan yang lebih mudah dengan pihak Palestina,” tulis Fernando Camacho Padilla dan Jessica Stites Mor dalam artikel, “Presence and Visibility in Cuban Anticolonial Solidarity” yang termaktub di buku Palestine in the World: International Solidarity with the Palestinian Liberation Movement.


PM Jawaharlal Nehru menyambangi Gaza pada 1960 (plands.org)
PM Jawaharlal Nehru menyambangi Gaza pada 1960 (plands.org)

Tak hanya mendengungkan perlawanan bersenjata, Kuba kemudian juga membuktikan solidaritasnya lewat cara-cara lain. Terlebih pasca-kunjungan Guevara, lanjut Abu Sitta, Kuba memberikan beasiswa pada para pelajar Palestina, memberikan status kewarganegaraan bagi para pengungsi Palestina yang terdampar di sejumlah tempat, serta mendukung kemerdekaan Palestina di sejumlah forum internasional.


Sejak saat itu, sejumlah tokoh Gerakan Non-blok lain ikut datang sebagai bentuk dukungannya terhadap Palestina yang merdeka. Di antaranya Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, yang datang pada 1960. Kunjungan itu jadi awal hubungan dekat India dan jadi awal dukungan negara-negara Asia lainnya terhadap Palestina.


“Sampai hari ini Palestina menjadi simbol dari perjuangan pembebasan dari kolonialisme terakhir di dunia. Oleh karenanya sepertiga negara-negara di dunia mendukung Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sisanya merupakan pewaris kolonial Barat lama yang terus menciptakan kolonialisme di Palestina sejak awal,” tukas Abu Sitta.






Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
As one of the seven important inscriptions from the Tarumanagara heritage, the Tugu Inscription mentions the Bekasi River and the Old Cakung River that exist until today.
bg-gray.jpg
Seorang kiai kampung diadili karena dianggap mengingkari syariat. Sebuah kritik atas pembacaan Serat Cebolek.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
bg-gray.jpg
In addition to the epigraphs found on the seven inscriptions, historical sources regarding Tarumanagara also come from statues and temples at two archaeological sites.
Depresi Besar membuat banyak orang Amerika Serikat kehilangan pekerjaan dan kesulitan keuangan. Permainan monopoli diminati karena menawarkan sensasi menjadi orang kaya meski hanya imajinasi.
Depresi Besar membuat banyak orang Amerika Serikat kehilangan pekerjaan dan kesulitan keuangan. Permainan monopoli diminati karena menawarkan sensasi menjadi orang kaya meski hanya imajinasi.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
transparant.png
bottom of page