- 28 Des 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
SETELAH lebih dari 80 hari tentara Israel melakukan genosida di Palestina (Gaza dan Tepi Barat) yang memakan korban lebih dari 21 ribu jiwa, narasi self-defense Israel kian diragukan. Tak hanya oleh negara-negara sahabatnya tapi juga diragukan sejumlah aktivis dan tokoh di Israel sendiri.
Sebelumnya pun, Israel sudah “kalah” dalam hal perang informasi. Propaganda Israel kalah telak oleh serbuan warganet Indonesia, Malaysia, dan Turki. Itu belum termasuk “serangan” dari penyajian fakta lewat foto maupun video via media sosial oleh para wartawan Palestina yang masih bertahan di Gaza, seperti Belal Khaled, Motaz Azaiza, Hind Khoudary, Bisan Owda, Noor Harazeen, Youmna el-Sayed, Hamdan el-Dahdouh, dan kepala biro Al-Jazeera di Gaza yang segenap keluarganya sudah jadi korban, Wael el-Dahdouh.
Dalam beberapa kesempatan di sidang Dewan Keamanan dan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Israel memang masih didukung beberapa negara sekutunya seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Papua Nugini, dan terutama Amerika Serikat yang mem-veto sejumlah resolusi gencatan senjata. Akan tetapi belakangan Spanyol “membelot” akan mengakui kedaulatan Palestina dan Prancis mulai memberi tekanan pada Israel untuk gencatan senjata, terlepas dari Presiden Emmanuel Macron tetap mencap gerakan perlawanan Hamas yang menentang pendudukan ilegal Israel sebagai terorisme.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















