Masuk Daftar
My Getplus

Mohamad Gaos Sangat Keras

Dibuang ke Boven Digoel karena terkait PKI 1926, Mohamad Gaos bukan anggota PKI. Sempat jadi serdadu tapi membangkang lagi ketika di Australia.

Oleh: Petrik Matanasi | 29 Nov 2023
Para pemberontak komunis sedang diangkut ke tempat pembuangan mereka, Boven Digoel, 1927. (Nationaal Archief/Wikimedia Commons).

ATAS nama rust en orde (keamanan dan ketertiban), pemerintah kolonial Hindia Belanda menangkapi ribuan orang dan membuangnya ke Boven Digoel di pedalaman Papua. Penangkapan dan pembuangan yang dipantik oleh pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1926 itu menyasar siapapun anggota PKI ataupun yang diindikasikan punya keterlibatan dengannya.

“Pengasingan bukanlah semata sebuah sanksi hukum, melainkan sebuah langkah administratif yang melibatkan kewenangan istimewa dari Gubernur Jenderal Belanda untuk memaksa para buangan agar hidup di tempat tertentu dengan cara tertentu. Dalam sebuah surat, Gubernur Jenderal de Graeff menulis dengan menggunakan bahasa birokratis yang berhati-hati. Ia menyatakan, karena tujuannya atas penguburan ‘para komunis’ nyaris tercapai, ia menginginkan para buangan diizinkan untuk menjalani ‘hidup normal’ di Digoel, sebagaimana layaknya di bagian lain Hindia,” tulis Takashi Shiraisi dalam pengantarnya di buku Tanah Merah Yang Merah: Sebuah Catatan Sejarah karya Koesalah Soebagyo Toer.

Namun karena definisi rust en orde amat longgar, penangkapan pun tak luput dari kesalahan. Asal punya indikasi yang mirip dengan laku orang-orang komunis, siapapun bisa ditangkap. Alhasil, banyak orang non-PKI yang kena “seret” dan ikut di-Digoel-kan. Termasuk Mohammad Ali dari Ternate, yang di kemudian hari menjadi anggota Masyumi.

Advertising
Advertising

Baca juga: Menjadi Gila Akibat Isolasi di Digoel

“Lebih baik salah tangkap seribu orang daripada lolos seorang,” demikian semboyan yang didengungkan pemerintah Hindia Belanda, dikutip Koesalah Toer.

Mohamad Gaos termasuk juga orang non-anggota PKI yang ikut kena tangkap dan di-Digoel-kan. Waktu dibuang ke Boven Digoel, usianya masih 23 tahun. Dia dibuang pada akhir 1927 karena terkait pemberontakan 1926 di Jawa. Koran De Indische Courant tanggal 19 Desember 1927 menyebut Gaos adalah pegawai Dinas Pajak di Betawi. Aktivitas keorganisasian yang diikutinya adalah Sarekat Rakjat, tempat dia menjadi propagandisnya.

Sempat di Kudus, Jawa Tengah sebelum dibuang, Gaos bersama ratusan orang buangan lain lalu dinaikkan kapal dari Jawa ke Merauke. Hari-hari mereka habiskan di atas kapal selama pelayaran menuju tempat pembuangan. Sesampai di Merauke, mereka harus berganti kapal dengan yang ukurannya lebih kecil untuk menyusuri aliran Sungai Digoel. Pelayaran itu butuh waktu sektiar tiga hari tiga malam untuk mencapai sebuah dermaga kecil di dekat Mandobo. Jalur air menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan Merauke-Boven Digoel kala itu.

Baca juga: Komunis Agen Syiar Islam di Belantara Papua

Orang buangan itu ditempatkan di sebuah kamp yang disebut Kamp Tanah Merah. Rumah-rumah sudah dibangun kala itu, bahkan sebuah masjid dibuat pada 1928.

Kerasnya alam Papua tak membuat Gaos tunduk kepada pemerintah kolonial. Oleh karenanyan dia tidak termasuk orang buangan yang dipulangkan pada 1932 oleh pemerintah kolonial. Setelah pemulangan tahun 1932 itu, Gaos malah lebih keras lagi ketika Boven Digoel makin sepi.

Pada awal 1935, seperti diberitakan De Indische Courant edisi 15 Februari 1935, Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda) dan pemerintah memutuskan Koesno Goenoko, Raden Soedjadi, Mas Toedino alias Poedjodarminto, Toedino, Soeradi, Reksosiswojo, Walmin, dan Gaos termasuk ke dalam tahanan yang dipindahkan dari Kamp Tanah Merah ke Kamp Tanah Tinggi. Hal ini dilakukan atas nama rust en orde (keamanan dan ketertiban) di Tanah Merah. Tanah Tinggi terletak di hulu Sungai Digoel dan lebih sepi daripada Tanah Merah. Tempat itu memang ditujukan untuk orang buangan yang keras kepala.

“Jadi sekali lagi 6 orang buangan Digoel biasa pergi ke kubu orang-orang yang keras kepala, karena mereka menolak untuk tunduk di bawah kekuasaan imperialis,” tulis Koran De Tribune tanggal 19 April 1935.

Baca juga: Digoelis Makassar Itu Bernama Paiso

Ketika Gaos ditempatkan di Tanah Tinggi, datang lagi orang buangan baru yang berasal golongan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta. Alhasil, penghuni Digoel tidak lagi orang-orang yang terkait PKI 1926 saja.

Setelah beberapa waktu di Tanah Tinggi, Gaos dan kawan-kawan dikembalikan ke Tanah Merah lagi. Setelah lebih dari 13 tahun di Boven Digoel, orang buangan di Boven Digoel macam Gaos itu pun dipindahkan ke Australia, tempat pemerintah Hindia Belanda menjalankan pemerintahan di pengasingan akibat pendudukan Jepang.

Di Australia, orang buangan, baik yang terkait PKI ataupun PNI, ditempatkan di sebuah kamp. Lebih banyak lagi orang buangan yang dipekerjakan oleh otoritas Belanda di sana. Mereka ada yang bekerja di pusat informasi Netherlands Indies Government Information Services (NIGIS). Bahkan, ada yang diterima menjadi tentara. Goas termasuk golongan yang terakhir. Menurut catatan Arsip Mohamad Bondan 155, Gaos adalah prajurit milisi KNIL dengan nomor stamboek 26439. Dia ditempatkan di Kamp Casiono dekat Birsbane.

Baca juga: Moesirin, Serdadu KNIL yang Digoelis

Brisbane bukan kota yang dijadikan markas militer Belanda semata. Di kota itu pula Jenderal Douglas MacArthur bermarkas setelah terusir dari Filipina dan pindah sesaat ke Melbourne. Banyaknya tentara Amerika di Brisbane, yang menimbulkan kecemburuan pada rekan tentara Ausrtalia mereka, bahkan sampai mengakibatkan bentrokan berdarah dengan tentara Australia yang dikenal sebagai “Battle of Brisbane”.

“Sejak 1942, Brisbane adalah salah satu pos pementasan terakhir di garis depan. Suatu malam, dengan cara tak terduga dan tak terkira, kota itu menjadi garis depan itu sendiri. Orang Australia memiliki keluhan dan mereka memiliki alasan kuat untuk dirugikan. Orang-orang Amerika memiliki segalanya –gadis, kantin, dan yang lain– dan orang-orang kita benar-benar dikucilkan di kota mereka sendiri,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane.

Baca juga: Digoelis Masuk Parlemen

Ketika menjadi tentara pada 1945, Gaos yang diperkirakan lahir sekitar 1904 sudah berusia 40 tahun. Usia tersebut tergolong tua untuk menjadi tentara rendahan. Tapi Gaos tidak sendiri. Ada serdadu tua lain yang sama-sama berasal dari Digoel: Moestedjo (52 tahun), Sastroprawiro, (52) Moesirin (45), Sontani (42), Wirjodihardjo (52), Soekarnaatmadja (55), Soedjadi (42), Soeratman (47), dan Johanis Woworoentoe (49 tahun). Kendati begitu, jadi serdadu membuat mereka punya pemasukan yang cukup untuk menyambung hidup.

Mereka akhirnya mendengar kabar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Alih-alih menunjukkan loyalitas kepada pemerintah kolonial, mereka pun menunjukkan “belang” dengan mengundurkan diri dari dinas militer KNIL sekitar Oktober 1945. Mereka tidak mau berperang melawan Republik Indonesia yang baru merdeka lantaran itulah yang mereka perjuangankan sedari lama hingga mereka dibuang.

Sebagaimana umumnya serdadu yang membangkang biasanya ditahan, jalan pulang Gaos ke Indonesia pun terhambat karena membangkang. Namun akhirnya Gaos pulang juga. Gaos, tulis Koesalah Toer, kemudian tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah dan tak terdengar lagi kabar tentangnya.

TAG

boven digoel pki knil

ARTIKEL TERKAIT

Murid Westerling Tumbang di Jogja Suami-Istri Cerai Gara-gara Beda Partai Pengemis dan Kapten Sanjoto Abdoel Kaffar Ingin Papua dan Timor Masuk Indonesia JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik Ketika Nama PKI Diprotes Serdadu Württemburg Berontak di Semarang KNIL Pakai Pendeta dan Ulama Sersan Zon Memburu Panglima Polim Dikira Sudah Mati, Boediardjo Ternyata Selamat