Masuk Daftar
My Getplus

Julius Caesar Menyeberangi Rubicon

Dengan menyeberangi Rubicon, Julius Caesar telah melanggar hukum. Ia tidak bisa kembali lagi. Alea iacta est.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 23 Feb 2023
Patung Julius Caesar. (Wikimedia Commons).

Rubicon trending topic karena mobil Jeep itu digunakan oleh Mario Dandy Satrio ketika menganiaya David hingga koma. Warganet pun menyelam untuk mencari jejak digital pelaku penganiayaan itu. Dari postingan di media sosialnya, pelaku suka mengendarai dan memamerkan kendaraan mewah: mobil Rubicon dan motor gede Harley Davidson.

Mirisnya, kendaraan itu disebut menunggak pajak. Padahal, ayahnya seorang pejabat Ditjen Pajak. Publik pun mempertanyakan bagaimana pejabat eselon tiga bisa memiliki kekayaan Rp56 miliar.

Bila Mario mengendarai Rubicon, maka Julius Caesar menyeberangi Rubicon. Sama-sama menentukan dalam hidup mereka.

Advertising
Advertising

Julius Caesar, keturunan bangsawan tua, menerima pendidikan yang baik dan mulai berkiprah dalam politik sejak muda. Pada 58 SM di usia 42 tahun, ia ditunjuk sebagai gubernur. Ia mendapatkan tiga provinsi yang berada di bawah kekuasaan Romawi: Galia Cisalpine (sebelah utara Italia), Illyricum (daerah pesisir Yugoslavia), dan Galia Narbonese (pesisir selatan Prancis).

“Di bawah komandonya, ada empat legion Romawi berjumlah 20.000 orang,” tulis Michael H. Hart dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia.

Baca juga: Brutal dan Primitifnya Sejarah Roma dalam Romulus

Selama tahun 58–51 SM, Caesar menggunakan pasukannya untuk menginvasi dan menaklukkan sisa daerah Galia, Prancis dan Belgia saat ini termasuk juga bagian dari Swiss, Jerman, dan Belanda.

Meskipun pasukannya selalu kalah jumlah, menurut Hart, tetapi Caesar sukses mengalahkan suku-suku Galia dan menambahkan daerah jajahan kepada Romawi hingga Sungai Rhine. Caesar juga mengirimkan ekspedisi ke Inggris, tetapi tidak memperoleh penaklukkan tetap.

Penaklukan Galia membuat Caesar, yang telah menjadi figur politik berpengaruh, juga menjadi pahlawan di Roma. Lawan-lawan politiknya pun memandangnya terlalu populer dan kuat. Saat masa jabatan militernya berakhir, Caesar diperintahkan oleh Senat Roma untuk kembali ke Roma sebagai warga negara sipil, artinya tanpa tentaranya.

Baca juga: Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban

Caesar khawatir jika kembali ke Roma tanpa pasukan, maka lawan-lawan politiknya akan mengambil kesempatan untuk menghancurkannya. Ia pun menolak perintah Senat Roma. “Pada malam 10 dan 11 Januari 49 SM, Caesar memimpin pasukannya menyeberang sungai Rubicon di utara Italia dan bergerak menuju Roma,” tulis Hart.

Menurut Umberto Eco dalam “Tafsir dan Sejarah” termuat dalam Semesta Tafsir, ketika melintasi Rubicon, Julius Caesar tak hanya mengetahui bahwa ia melakukan perbuatan asusila, bahkan ia tahu bahwa ketika ia melakukannya maka ia tidak bisa kembali lagi. Alea iacta est (dadu sudah dilemparkan).

Keputusan Caesar “menyeberangi Rubicon” kemudian kerap dikutip sebagai kiasan dalam hidup atau alusio dalam cerita. Alusio adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui.

Yakob Sumarjo dalam Memahami Kesusastraan menyebut alusio seperti mengambil kata-kata temasyhur dalam sejarah, Kitab Suci, dongeng, legenda, karya termasyhur dan sebagainya. Contohnya, “Ia telah menyeberangi Rubicon”, artinya telah mengambil keputusan yang tegas dan besar.

“Ini diambil dari cerita sejarah waktu Julius Caesar menyeberangi sungai Rubicon menyerang Roma, meskipun untuk menyeberangi itu ia perlu berpikir lama dan penuh ragu-ragu,” tulis Yakob.

Baca juga: Di Balik Kematian Cleopatra

Dengan melintasi sungai dangkal Rubicon yang merupakan batas komando militernya, Caesar telah melanggar hukum: seorang jenderal dilarang membawa pasukannya ke dalam kota Roma.

Selain melanggar aturan, menurut Hart, dengan menyeberangi sungai Rubicon, Caesar memulai perang saudara antara pasukannya dan pasukan yang loyal kepada Senat Roma. Perang berlangsung selama empat tahun yang berakhir dengan kemenangan mutlak Caesar. Pertempuran terakhirnya terjadi di Munda, Spanyol pada 7 Maret 45 SM.

Caesar berkesimpulan hanya dirinya yang dapat memberikan pemerintahan yang tegas yang dibutuhkan Roma. “Ia kembali ke Roma pada Oktober 44 SM dan menjadi diktator seumur hidup,” tulis Hart.

Pada Februari 44 SM, Caesar ditawari mahkota tetapi menolak. Karena ia telah menjadi diktator militer, penolakannya membuat para lawan politiknya tidak tenang. Sekelompok orang yang berkonspirasi kemudian membunuh Caesar dalam sebuah pertemuan Senat pada 15 Maret 44 SM.*

TAG

julius caesar roma

ARTIKEL TERKAIT

Roma Harga Mati bagi Francesco Totti Senjakala "Raja Roma" dalam One Captain Monster Perempuan dan Ketakutan Laki-laki Makanan Orang Romawi Kuno Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban Brutal dan Primitifnya Sejarah Roma dalam Romulus Eksotiknya Akar Sejarah Karnaval Rio Darah Daging Fasisme Italia Menggebrak Eropa Sengkarut Tragedi Sekjen PBB di Tengah Misi Perdamaian Raja Jacob Ponto Dibuang ke Cirebon