Masuk Daftar
My Getplus

Insiden-insiden Gerakan Aron

Konflik tanah memicu sejumlah kerusuhan di Sumatra Timur. Petani versus Kesultanan dan pemerintah Jepang.

Oleh: Andri Setiawan | 25 Jan 2023
Stasiun kereta api Arnhemia pada 1920. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

Konflik lahan di Sumatra Timur pecah pada 19 Juni 1942. Ratusan petani Karo berbondong-bondong mengepung pos polisi di Pancur Batu. Aksi berlangsung selama dua hari sebelum dibubarkan. Musababnya, para petani marah karena 18 kawan mereka ditembak mati oleh polisi Kesultanan sehari sebelumnya.

Penembakan keji itu bermula pada awal Juni ketika konflik petani Aron dan kaum bangsawan mencapai puncaknya. Di distrik Sunggal, Deli, kepala desa yang mencoba mencegah aksi petani Aron merebut lahan, dirampok atau ditakuti-takuti. Dua orang terbunuh dalam ketegangan di Sunggal. Polisi Kesultanan membalas dengan menembak mati 18 petani.

“Catatan Jepang tidak menunjukkan bahwa ada pejabat atau polisi Jepang yang terlibat pada tahap ini; amarah Aron tampaknya ditujukan kepada Datuk Sunggal, agen-agennya di Pancur Batu, dan kepada para kepala desa yang mendukung mereka,” tulis Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra, antara Indonesia dan Dunia.

Advertising
Advertising

Baca juga: Gerakan Aron di Sumatra Timur

Insiden di Sunggal bukan kali pertama. Pada 1 Juni 1942, polisi dikerahkan dari Kebanjahe untuk menangani para petani Aron yang menduduki tanah-tanah di Batu Karang dan Tiga Nderket. Dalam peristiwa itu, seorang polisi dan tiga orang petani Aron tewas.

Tridah Bangun dkk. dalam Pejuang dan Pelopor Industri Kabel Indonesia, Biografi Dr. K. Pri Bangun, Presdir Tranka Kabel mencatat, pernah pula terjadi kerusuhan pada sebuah unjuk rasa petani Aron. Kala itu, para petani hendak menyampaikan tuntutan kepada Raja Urung V Senina, Boncar Bangun. Unjuk rasa dari sore hingga malam hari itu memakan korban.

“Dengan maksud mendamaikan suasana ternyata sejumlah polisi pengawal Raja Urung melakukan penembakan, mengakibatkan tewasnya tiga orang penduduk, Penampen Bangun, Djurlak Barus, dan Pa Nampat Purba (yang terakhir ini) sebenarnya di pihak Raja Urung, karena salah ngomong ketika mau masuk ke rumah Raja Urung waktu ditanya polisi, ia langsung ditembak hingga tewas, karena dikira ia di pihak unjuk rasa,” tulis Tridah Bangun dkk.

Sejumlah pemimpin Aron ditangkap dan dibawa ke Kebanjahe. Empat di antaranya kemudian dipenjara di Sukamulia, Medan. Sementara itu, Raja Urung ditangkap Kempetai dan dibawa ke Kabanjahe.

“Di sana ia disiksa habis-habisan, sehingga dalam keadaan sekarat dibawa ke Batukarang, akhirnya meninggal dunia,” tulis Tridah Bangun dkk.

Baca juga: Lagak Laskar Sumatra Timur

Konflik makin memanas. Pada 26 Juli 1942, polisi menahan seorang yang diduga pemimpin Aron di pos polisi Arnhemia, kota perkebunan Eropa dekat Pancur Batu. Sekira 500 orang petani Aron segera berkumpul dan berbaris menuju pos polisi tersebut. Tampaknya, polisi Kesultanan sengaja memancing para petani Aron.

“Pada malam itu pertempuran memperebutkan pos polisi itu dengan cepat berubah menjadi pembantaian, yang menelan korban 21 dari petani Karo yang menyerang dan 57 luka-luka –menurut laporan Jepang, barangkali angka perkiraan rendah– dan empat polisi luka-luka,” tulis Reid.

A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan Vol I-II mencatat satu peristiwa pada 21 September 1942. Saat itu, polisi Jepang menangkap pimpinan Aron 3 Urung Ng Sitepu dan beberapa anggota Aron dari kampung Lianggagang. Mereka ditahan di Pancurbatu.

Pada hari yang sama, pimpinan Aron di kampung-kampung mengerahkan semua kekuatan Aron 3 Urung di Deli Hulu untuk demonstrasi ke Pancurbatu. Mereka menuntut pembebasan tahanan Aron di Pancurbatu dan Medan.

"Dalam waktu yang singkat Kelang Sinulingga dan Usin Surbakti serta pengurus lainnya telah berhasil mengerahkan anggota-anggota Aron. Pukul 20.00 malam sejumlah lk. (lebih kurang) 4000 orang Aron telah sampai di Pancurbatu dari segenap penjuru," tulis A.R. Surbakti.

Baca juga: Derita Kuli di Tanah Deli

Para petani Aron itu menyerbu tangsi polisi Pancurbatu menggunakan senjata tajam. Namun, tak lama suara tembakan terdengar bertubi-tubi. Bantuan polisi dari Medan kemudian juga tiba. Para demonstran pun berguguran di halaman tangsi.

"Korban pemberontakan Aron ini 16 orang gugur, dan yang luka-luka berat dan ringan memenuhi zal II Rumah Sakit Umum Medan. Keenam belas anggota Aron yang gugur dikuburkan tentara Jepang dalam saty lubang pada jalan arah ke Deli Tua," jelas A.R. Surbakti.

Meski polisi Jepang telah bertindak. Rentetan kerusuhan dan kekerasan terus terjadi. Pada 7 September dan 3 Oktober 1942 terjadi pembunuhan kepala desa oleh anggota atau simpatisan Aron.

Pada 15 Oktober 1942, upaya Kesultanan melarang petani Aron menggarap tanah secara ilegal juga berakhir dengan kerusuhan. Enam penduduk desa tewas dan empat orang terluka parah karena ditembak polisi. Malam harinya, penduduk menyerbu rumah kepala desa. Istri kepala desa dan seorang pembantu rumah tangga tewas.* (Bersambung)

TAG

gerakan aron sumatra

ARTIKEL TERKAIT

Banjir Besar di Lembah Anai Westerling Nyaris Tewas di Tangan Hendrik Sihite Mayor Bedjo Kobarkan Api dan Darah di Tapanuli Perang Saudara di Tapanuli Bandit Medan Berjuang dalam Perang Kemerdekaan Parkindo Tolak Kutuki PRRI Jenderal Pertama di Sumatra Selatan Pamer Kemewahan Hasil Jarahan Inoue Gila karena Murni Menumpas Gerakan Aron