Masuk Daftar
My Getplus

Getirnya Tragedi di Stadion Luzhniki

Déjà vu petaka Stadion Ibrox di Moskow. Ratusan nyawa suporter melayang namun yang diakui hanya 66 jiwa.

Oleh: Randy Wirayudha | 20 Okt 2023
Monumen peringatan Tragedi Luzhniki 20 Oktober 1982 (spartak.com)

MALAM itu, 20 Oktober 1982, belasan ribu suporter Spartak Moskow berbondong-bondong datang ke Grand Arena of Central Lenin Stadium (kini Stadion Luzhniki), Moskow, Rusia, kendati cuaca dingin menusuk tulang. Namun euforia kemenangan yang diraih tim kesayangan mereka berkalang duka getir hingga menjadi bencana olahraga terbesar di Rusia sampai saat ini.

Pataka 41 tahun lampau itu bermula dari laga Spartak Moskow menjamu tim tamu asal Belanda, HFC Haarlem, di leg pertama babak kedua UEFA Cup musim 1982-1983 di stadion berkapasitas maksimal 104 ribu penonton itu. Karena suhu mencapai minus 10 derajat celcius di malam itu, panitia yang mulanya ingin menyediakan 82 ribu tiket, mengubah keputusannya di saat-saat akhir bahwa hanya sekitar 16 ribu tiket yang mereka sediakan.

“Musim dingin Rusia datang lebih awal di tahun 1982, membuat tangga sektor timur Stadion Lenin berselimut es. Tidak lebih dari 15 ribu suporter yang datang, ditambah sekitar 100 suporter Belanda,” kenang sejarawan Inggris, Prof. Jim Riordan yang ia tuangkan dalam tulisan “Moscow’s Secret Tragedy: Hundreds of Fans Crushed to Death” yang dimuat The Guardian, 4 Mei 2008.

Advertising
Advertising

Baca juga: Luzhniki Ikon Kejayaan Negeri Tirai Besi

Riordan dikenal sebagai sejarawan Departemen Rusia di Universitas Bradford, Inggris, yang mendalami politik dan olahraga Uni Soviet pada 1980-an. Pernah pula Riodon menjadi atase Komite Olimpiade Inggris di Rusia saat digelarnya Olimpiade Moskow 1980.

Pada malam itu, ia turut jadi saksi mata. Mulanya ia ke Moskow untuk mengunjungi sejumlah mahasiswanya. Tapi akhirnya dia ikutan ‘nobar’ laga itu bersama para mahasiswanya di tribun media.

Jurnalis media Sport-Express Alexander Prosvetov, yang di masa itu masih remaja, juga ada di stadion yang sama. Seingat Prosvetov, karena cuaca bersalju dan stadionnya tak beratap, tidak semua tribun yang tertutup salju bisa dibersihkan panitia. Hanya dua tribun yang bisa dibuka untuk penonton: Tribun Timur atau Tribun C dan Tribun Barat atau Tribun A.

Grand Arena of Central Lenin Stadium (kini Stadion Luzhniki) pada 1980-an (futbolgrad.com)

Kendati begitu sekitar 12 ribu suporter memilih memadati Tribun Timur, utamanya di sisi Tangga 1 karena lebih dekat ke Stasiun Keretaapi Bawah Tanah Vorobyovy Gory. Kebetulan, kenang Prosvetov, hanya akses Tangga 1 itu yang dibuka pihak kepolisian karena mereka harus mengecek identitas penonton.

“Kami (suporter) semua memadati tribun di seberang tribun media. Saat itu ilegal bagi penonton di bawah usia 16 tahun datang ke pertandingan malam tanpa didampingi orang dewasa. Itu sebabnya polisi hanya membuka satu akses keluar-masuk karena mereka harus memeriksa identitas,” ujar Prosvetov, dikutip jurnalis Jonathan Wilson di artikelnya di The Guardian, 22 Oktober 2007, “After England, More Tears Fall on Moscow’s Plastic Pitch”.

Nahas, itu jadi “resep” tragedinya, menurut Riordan. Ibarat déjà vu Petaka Stadion Ibrox di musim dingin 2 Januari 1971, segalanya terjadi karena banyal variabel yang abnormal.

“Otoritas stadion memadatkan suporter hanya di satu sektor, sementara tiga tribun lainnya dibiarkan kosong karena diselimuti salju. Sayangnya itu menjadi keputusan yang menentukan (bencana),” sambung Riordan.

Baca juga: Di Balik Sepakbola di Lapangan Merah

Petaka di Pengujung Laga

Partai Spartak versus Haarlem itu dihelat tepat pukul 7 malam seiring wasit Edvard Sostarić asal Yugoslavia meniup peluit tanda kick off. Tim Krasno-Belye, julukan Spartak, memimpin lebih dulu dengan gol pembuka Edgar Gress di menit ke-16.

“Namun selebihnya laga berjalan landai, pun di babak kedua nyaris tidak ada peluang membahayakan lagi meski tim Soviet itu mendominasi permainan,” ungkap Caroline Elwood-Stokes dalam Football Disasters: The Moments We Will Never Forget.

Oleh karenanya menjelang pengujung laga, ribuan suporter yang menyesaki Tribun Timur memilih balik kanan lebih awal untuk bergegas menuju stasiun kereta. Namun memasuki menit ke-90, Sergei Shvetsov mencetak gol untuk menambah keunggulan timnya, 2-0.

“Mungkin lebih baik saya tidak mencetak gol (kedua) itu!” sesal Shvetsov, dikutip Elwood-Stokes.

Baca juga: Tahun Baru Nahas di Stadion Ibrox

Karena di situlah petakanya bermula. Massa suporter yang sudah berbondong-bondong keluar mencoba masuk lagi. Tapi pada saat yang sama, suporter lain hendak turun di koridor Tangga 1 yang sempit itu. Saling berdesakan pun tak terhindarkan.

Situasi kian diperparah oleh Tangga 1 yang jadi akses Tribun Timur saat itu sudah licin karena es dan salju. Maka satu-dua suporter yang terjatuh berefek domino hingga terjadi saling injak.

“Beberapa saksi mata lain mengatakan bahwa polisi tak mengizinkan suporter yang sudah keluar untuk masuk lagi, jadi mereka terjebak di terowongan (tribun). Panik pun melanda karena polisi juga sudah menutup akses keluar lain. Massa (suporter) pun terpeleset, terjatuh di dalam gelap. Sungguh mengerikan. Mereka terinjak-injak sampai mati,” ungkap Riordan lagi.

Laga leg pertama Spartak vs Haarlem di putaran kedua UEFA Cup 1982-1983 (X @stepan49154460)

Petenis Andrei Chesnokov masih ingat kengerian itu. Ia masih berusia 16 tahun saat menjadi bagian dari tragedi itu. Beruntung ia bisa menyelamatkan diri.

“Di tangga yang licin itu banyak yang terjatuh dan saling menjatuhkan seperti domino. Saya melompati pagar pembatas untuk menyelamatkan diri, menginjak beberapa baris tubuh orang lain. Beberapa dari mereka berusaha mengangkat tangan dan menjerit, ‘Tolong saya! Selamatkan saya!’ Namun mereka tertimbun tumpukan mayat-mayat lain,” kenang Chesnokov.

Begitu laga berakhir, tidak ada euforia di tengah-tengah skuad Spartak. Adanya hanya kegetiran.

Baca juga: Kanjuruhan dan Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola

Sebisanya tim medis memberi pertolongan pertama pada mereka yang terluka ringan dan sedang, serta buru-buru memanggil ambulans bagi mereka yang luka berat dan nyaris sekarang untuk dibawa ke Rumahsakit Institut NV Sklifosovsky.

“Dari sekian media massa, hanya suratkabar Vechernaia Moskva yang memberitakan kejadian itu esok harinya meski tidak secara mendetail,” tulis Robert Edelman dalam Spartak Moscow: A History of the People’s Team in the Worker’s State.

Suasana Stadion Luzhniki pasca-tragedi di tribun penonton (stadiumdb.com)

Kepolisian Moskow, lanjut Edelman, berdalih para korban itu tewas karena takdir. Namun Yuri Andropov yang baru berkuasa di Uni Soviet menggantikan Leonid Brezhnev, membentuk tim penyelidikan, meski versi pemerintah menyebutkan korban tewasnya berjumlah 66 jiwa yang kesemuanya dimakamkan di sebuah kuburan massal. Padahal sejumlah jurnalis investigasi melaporkan yang tewas setidaknya mencapai 304 jiwa.

“Saya sendiri setidaknya melihat ratusan jenazah yang dijejerkan di trek lari tepi lapangan dekat lorong (stadion),” timpal Chesnokov.

Meski menggelar investigasi, otoritas Soviet berupaya menutup-nutupi petaka olahraga terbesar di Negeri Tirai Besi itu. Baru tiga tahun setelah bubarnya Uni Soviet, detail cerita pahit itu diungkap ke publik, sejurus 10 tahun peringatan tragedinya di Stadion Luzhniki.

Dari pengungkapan informasi dan laporan investigasinya, disebutkan direktur stadion, Victor Kokryshev, dan manajer stadion, Yuri Panchikhin, dianggap bersalah. Keduanya divonis penjara karena menyebabkan 66 suporter tewas disebabkan sesak nafas akibat terinjak-injak, serta 61 lainnya terluka.

Baca juga: Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola

TAG

luzhniki rusia moscow spartak-moskva sepakbola stadion

ARTIKEL TERKAIT

Strategi Napoleon di Balik Kabut Austerlitz Petualangan Tim Kanguru Piala Asia Tanpa Israel Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Waktu Punya Tupolev, Angkatan Udara Indonesia Kuat Ingar-Bingar Boxing Day Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia Di Balik Warna Merah dan Istilah Kiri Bill Shankly dalam Kenangan